
Generasi sebelum Gen Z kenal sosok guru secara pribadi. Interaksi langsung dan perlu tatap muka.
Kini kehadiran guru menjadi lebih fluid dan fleksibel dengan adanya dunia online. Ilmu-ilmu dunia dan akhirat dapat kita peroleh tanpa perlu tatap muka secara langsung. Belajar sekalipun secara mandiri tanpa pendidikan formal (untuk memperoleh gelar) tetap sah dalam tataran pengetahuan, berbagi pengalaman dan solusi berbagai permasalahan hidup. Meski tak diakui secara akademik karena tidak melalui berbagai jenjang pendidikan formal, namun orang-orang tertentu yang pantang menyerah, dengan sendirinya
paham berbagai persoalan dan solusinya sekalipun kendala karena kejadian-kejadian di luar nalar. Kecuali, skill-skill teknik yang perlu pelatihan khusus, mulai dari keahlian masak memasak
sampai keahlian seputar teknologi coding atau pemprograman komputer.
Dalam rangka memahami hidup manusia secara holistik (menyeluruh dalam setiap unsurnya), sebagai bentuk kerendahan hati, kita tetap memerlukan peran seorang guru.
Tak perlu merasa sombong karena kini pengetahuan dapat dengan mudah kita peroleh, tinggal klik. Keberadaan guru kini pun masih tetap diperlukan. Sekalipun teknologi
semakin canggih. Ada Mbah Google tapi takkan pernah bisa menggantikan peran Mbah-mbah nenek moyang kita. Ada banyak warisan budaya ilmu dunia akhirat yang hanya dipahami
oleh Mbah-mbah kita. Sekalipun AI pun semakin menantang kecerdasan manusia, tetap takkan menggantikan rasa perasaan manusia yang pemahamannya bukan sekedar pengetahuan.
Mimik muka dan gesture tubuh dalam interaksi sosial kita sehari-hari, menyiratkan banyak hal selain pengetahuan. Bisa saja doa, harapan yang AI pasti kebingungan menjawab dengan logika
komputasinya. Mengapa manusia-manusia pada jarak berjauhan dapat memiliki doa dan harapan yang sama? Misalnya soal kebebasan dan kemerdekaan, supaya penjajahan di atas dunia dihapuskan.
Konflik dunia kini mereda berkat kekompakan para aktivis dunia, para dosen dan mahasiswa, para orang-orang biasa yang memiliki empati tinggi pada penderitaan manusia-manusia lain walau berjarak secara fisik dan berbeda latar belakang sosial budayanya. Mereka bersatu padu, tergerak oleh naluri kemanusiaannya yang positif.
Lalu apa pendapat para perempuan yang tergabung dalam forum mencari ilmu secara informal (tanpa gelar akademik) tentang sosok guru? Berikut opini para perempuan tersebut:
Siti Aisyah, Ustadzah dan Nenda
0812.702.94XXX
“Guru lentera hidup bagi saya, beliau mengajarkan berbagai hal dalam kehidupan, terimakasih Guruku“.
Rizkie, Ibu Rumah Tangga dan Pebisnis
0856.9756.XXXX
“Guru adalah sosok hebat yang memotivasi anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sebagai lentera yang menerangi jalan hidup“.
Dini, Ibu Rumah Tangga
0813.215XXX
“Manusia mulia yang mampu memberikan cahaya kehidupan bagi manusia lainnya, dialah guru”.
Nida, Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Keagamaan
0813.9537.XXXX
“Sebutan guru teruntuk seseorang yang mau berbagi ilmu, tak hanya dengan lisan namun perbuatan, tanpa perlu melihat usia“.
Endang, Ibu Rumah Tangga dan Guru
0818.027.XXXXX
“Bagi saya, guru adalah pelita karena dari ilmu yang diberikan menjadi petunjuk hidup bagi murid-muridnya.”
Ida Farida, Ibu Rumah Tangga, Mentor dan Pengusaha
0812.8593.XXXX
“Guru bagiku, mentor yang menulis tanpa menggunakan tinta tapi menggunakan ilmu yang tak kenal sorak sorai penonton tapi didadanya terpatri kesabaran dan keikhlasan.“
