
Trilogy of Sumatera Flood 2025
Left to Right
Sumatera Floods by Bastard Democracy ( Pray For Sumatera )
Acrylic on Canvass 35 x 24 cm
Manusia dikelilingi alam, penuh pepohonan hutan alami, tapi oleh rezim perusak n perakus telah memberikan izin dan bahkan memiliki konsesi tambang dan perkebunan. Alih fungsi hutan, deforestasi.
Merekalah yg tidak merawat alam dengan baik menyebabkan ribuan orang meninggal dan hilang. Puluhan ribu rumah-rumah terendam sampai ke atapnya, satu juta orang lebih mengungsi. Batang-batang kayu gelondongan hasil tebangan pohon dari hutan bertebaran dimana-mana seolah amukannya bersatu dengan derasnya air banjir ulah tangan tangan berdarah yg akalnya akalan setan 😈
*Jika Harta, Tahta dan Kekuasaan sebagai tolak ukur pilihanmu dalam berdemokrasi
Coba kau pikir lagi, mungkin pimpinanmu bukan lagi Rasullullah, tapi Fir’aun.
By: Ratih K.K
Water Madness and Blessing
Acrylic on Round Canvass diameter 40 cm
Banjir Sumatera separah apa? Atap-atap rumah hanya terlihat gentengnya sebagian. Jadi membayangkan setinggi pohon kelapa di sekitar rumah. Dalam lukisan ini, pohon kelapa mengelilingi bumi, amukan air setinggi itu merendam segala hal yang ada.
Indonesia dikenal sebagai negara dengan gunung berapi terbanyak sedunia. Namun saat amarah alam bukan diwakilkan oleh lava. Magma tersimpan rapat di dalam perut bumi, maka air mengalir kebanyakan menjadi simbol marahnya alam.
Di sisi lain, air juga menjadi sumber berkah. Hujan-hujanan saat main bola ⚽ menjadi penyemangat hidup. Penyegar tetumbuhan penghasil oksigen alami. Hujan juga mengingatkan kita bahwa dalam hidup, menang kalah harus diterima dengan lapang dada. Sekalipun usaha kita terasa sudah maksimal, ada Sang Maha Lembut dalam keputusan-keputusan hidup penuh misteri bak roda yang selalu berputar. Saat menang ojo dumeh. Saat kalah jangan lemah. Lanjut lagi berjuang terus 🥹🪄 lalu tunggu keajaiban, rezeki datang yang tak terduga-duga.
By: Ratih K.K
A Rose in the Wood
Acrylic on Paper 41 x 8 cm
A lot of tropical forest already became protected forest to avoid disasters. Unfortunately, cases unsolved of the forest status: protected forest, tribe’s forest or productive forest. Because of the unsolved cases on paper, many people inisiatif to make it more industrialization n make a Crazy town planning.
Rose in the Wood describe the loneliness of the rose as unproductive plant surrounding by unfamiliar trees which still stand tall in harmony. A Rose touches human’s heart to be more human.
Hutan-hutan tropis sudah banyak yang dilindungi supaya tetap menjadi penangkal bencana. Namun banyak kasus-kasus tak terselesaikan soal status hutan: apakah hutan lindung, hutan adat atau hutan produksi? Sebab permasalahan di atas kertas tak kunjung ada ujungnya, maka ada pihak-pihak yang berinisiatif untuk menjadikannya lebih industri n membuat tata ruang Abal Abal. Maka ditebangilah pohon-pohon dalam hutan rindang itu.
A Rose in the Wood menggambarkan betapa sedihnya setangkai bunga mawar dalam hutan yang asing. Bunga Mawar 🌹 bukanlah juga tumbuhan produktif ia meromantisasi situasi meski secara fungsional tak menjadi furniture, ia meraih rasa manusia supaya tetap manusiawi. Sepinya bunga mawar di tengah hutan asing yang harmonis tetap berdiri tegak tak ditebangi sehingga muncullah aliran sungai yang tak merusak sekitarnya.
By: Ratih K.K
