Kebangkitan Nasional Versi Masa Kini

Kastini, Canada

0812-1644-XXXX

Saya yakin setiap rumah tangga pernah mengalami masalah. Kebangkitan pribadi versi saya, yaitu saat kita mendapatkan masalah, yang sempat membuat kita terpuruk, sesuatu menguatkan saya untuk tidak menyerah, bahkan membuat saya memperbaiki diri. Kembali bangkit menjadi lebih lebih baik dari sebelumnya”.

 

Dewi Eri Supria, Jakarta Selatan

0812-9272-XXX

“Kebangkitan Nasional adalah kebangkitan di segala aspek, bukan melulu cuma bangkit secara ekonomi, tapi yang lebih mendasar adalah kebangkitan hati nurani yang didasari dengan perbaikan moral. Enek rasanya tiap kali melihat atau mendengar berita tentang maraknya korupsi dan kejahatan seksual yang menimpa wanita, sepertinya SYSTEM di Indonesia ini ada yang salah. Mari kita bebenah agar kebangkitan bangsa punya arti yang sebenarnya”.

 

Avianto, Jakarta

0812-8830-XXXX

“Jika ingin menjadikan diri kita bangkit untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan, yang paling utama adalah merubah cara berpikir kita yang selama ini membuat kita jatuh atau gagal mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Cara berpikir yang baik dan benar akan membawa kita meraih keberhasilan”.

 

Shinta, China

86-135-1672-XXXX

“Kebangkitan versi saya yaitu berani mengambil keputusan tinggal dan bekerja di negeri orang yang ternyata tidak mudah untuk beradaptasi dengan budaya dan adat setempat tapi hal ini membuat saya percaya diri dan tidak bergantung kepada orang lain”.

 

 

 

Hukuman Pantas bagi Pelaku dalam Kasus Yuyun di Bengkulu

Bicarakan seputar kasus Yuyun di Bengkulu membuat bulu kuduk berdiri, ngeri dan tak mau sampai kejadian sama terulang pada kerabat apalagi anak sendiri. Maka HARUS ada efek jera bagi para pelaku saat ini. Berbagai wacana dikeluarkan di media oleh berbagai pihak. Entah itu hukuman seumur hidup, hukuman kebiri ataupun hukuman mati. Selain hukuman pantas bagi pelaku, perlu juga dicarikan solusi dari penyebab kekerasan pada perempuan dan anak. Dalam hal ini, video-video porno dan minuman keras. Berikut opini para perempuan yang concern  pada kasus Yuyun. Mereka yang tak mau kasus seperti ini terulang lagi di masa depan, di lingkungan manapun. 

 

Ika, Australia

61-437-053-XXX

Saya setuju dengan hukuman seumur hidup dan berantas pengedar CD dan DVD porno”

 

Siti Syamsudin, Tangerang Selatan

62-878-7743-XXXX

“Hukuman yang sangat tepat dan pantas adalah hukuman mati atau seumur hidup”

 

Aussie, Australia

61-458-212-XXX

“Sedih melihat beritanya. Kalau menurut aku sih pelaku dihukum mati biar pada kapok. Ada efek jera bagi laki-laki lain (red). Kalau pelaku yang masih dibawah umur itu dihukum seumur hidup. Meskipun mereka dibawah umur (dalam hukum) atas apa yang mereka perbuat sama saja dengan perbuatan orang dewasa”

 

Janelle Marie Baker, Canada- Denmark

Via FB Messenger

“Well, if they are 14 years old they would be tried in court as a youth – but in such a terrible case the lawyers would argue to have them tried as an adult so that they would go to jail for life. It would be a very long and difficult trial with so many involved – each one would have a different lawyer and separate trail and they wold try to blame each other to get lessor sentences”

 

Ochi Yoshida, Depok

Via FB Messenger

“Sesekali indonesia butuh shock therapy. Hukuman mati sepertinya pantas buat mereka. Supaya sejarah mencatat dan generasi dibawahnya bisa berpikir dan mengingat-ingat dengan baik. Otomatis para orang tua akan lebih ketat bikin benteng buat anak-anak mereka. Baik anak lelaki, maupun anak perempuan. Ini TKP di daerah lho, bukan ibukota. Kalau hukumannya bui, lama kelamaan akan menguap kasus ini (red). Dipotong masa tahanan, ada grasi, ada masa asimilasi, belum lagi cuma akan  menuh-menuhin penjara, ngabisin 443 anggaran negara ngempanin mereka”

 

Dewi Eri Supria, Jakarta Selatan

0812-9272-XXX

“Kalau menurut saya, diarak rame-rame ke alun-alun kota, dengan tangan dan kaki diborgol diberi tulisan di dadanya, “Saya adalah pemerkosa Yuyun”  lalu setiap orang yang lewat didepannya wajib menimpuk wajahnya dengan batu sampai koid (mati -red). Dirajam sampai mati, baru nyaho deh”

 

Lina, Australia

61-422-329-XXX

“Hukuman buat pelaku yang pantas adalah dikebiri tanpa anestesi”

Tahun 2016: Ibu-ibu Belum Heboh Hadapi MEA

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan Presiden Joko Widodo menyebut 2016 merupakan tahun percepatan kerja dan seluruh kementerian/lembaga tidak diberikan waktu untuk bersantai, kemarin 4 Januari 2016.

Waduh.. bagaimana dengan anda, para perempuan sebagai ibu bekerja, ibu bekerja paruh waktu, atau ibu –ibu rumah tangga? Apakah tahun percepatan kerja pemerintah juga berdampak pada kehidupan ibu-ibu?

 

Jawabannya pending. Ya.. SPI bertanya opini para perempuan dari berbagai kalangan terutama ketiga kategori (ibu bekerja, ibu bekerja paruh waktu, atau ibu –ibu rumah tangga) sebanyak 50 responden. Responnya memang tidak secepat harapan. Maklumlah, kesibukan ibu-ibu lebih ekstra daripada perempuan di kategori lain. So far so good. Berhubung ada larangan tak terundang-undangkan bahwa tulisan dalam website ini dilarang mengatasnamakan perempuan Indonesia, maka Suara Kamu takkan terpublish tanpa adanya short interview.

Kebanyakan optimis menghadapi era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Kepercayaan diri yang patut diacungi jempol. Sama sekali tak ada nada kepanikan, atau paling tidak kepanikan yang belum terkatakan atau belum tersadari. Bahwa perempuan dan laki-laki di era ini harus siap bersaing dengan tenaga asing. Artinya, kemampuan dan kemauan harus diasah lebih daripada sebelumnya. Bila tidak, akan semakin banyak pengangguran sebab lowongan kerja yang sudah sedikit, justru diisi oleh tenaga asing. Keyakinan bahwa rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa itu sudah diatur perlu dibarengi dengan kerja keras. Percuma saja doa tanpa ikhtiar. Ibarat memanggang tanpa api.

Sumber: Merdeka

MEA sebagai momentum yang ada dalam headline koran-koran nasional di awal tahun 2016 belum menjadi momen tepat rupanya bagi perempuan untuk bergerak. Sebagaimana umumnya manusia, perempuan bergerak maju disaat sesuatu yang buruk sudah benar-benar terjadi. Disaat hantaman ekonomi itu nyata. Perkataan tokoh masyarakat di desa Kalimantan dalam menghadapi berbagai kekhawatiran hidup yang masih terngiang adalah, “Kami juga punya pikiran.” Ya.. manusia Indonesia, perempuan laki-laki, kaya miskin, orang kota orang desa masih punya akal pikiran untuk keluar dari permasalahan hidupnya. Sebagaimana yang terjadi di sana, demikian juga yang terjadi di sini. Meski media nasional ataupun SPI sekedar mengingatkan, tak serta merta terjadi kehebohan pada masyarakat akar rumput. Aktivitas tetap berjalan biasa. At least for now.

Berikut diantaranya:

 

Beby, Australia

61-499-949-XXX

Menurut saya, pertama yang penting adalah kompetensi, jadi kita harus siap dalam menghadapi calon pelanggan dengan bahasa yang berbeda, terutama Bahasa Inggris. Kedua, competitiveness karena SDM adalah kunci dari kemajuan bangsa dan menciptakan produk-produk baru untuk menarik konsumen”

 

Riska, New Zealand

64-210-258-XXXX

“MEA sangat baik untuk memacu perekonomian dalam negeri terutama para entrepreneur yang punya produk-produk terbaik dan ide-ide cemerlang guna ekspansi usahanya jadi tidak hanya di dalam negeri tetapi juga kesempatan di negara ASEAN. MEA juga memacu agar kualitas pasar tenaga kerja Indonesia untuk bisa berkompetisi dengan negara lainnya. Strategi menghadapinya yaitu kerja cerdas, tingkatkan standar kualitas, biasakan kerja dengan menggunakan prosedur dan target, teknologi tepat guna serta fokus pada trend market”

 

Windy, Jakarta

62-816-727-XXX

Bersaing dengan tenaga asing itu tidak mudah. Menurutku, setiap orang harus bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya, peran keluarga sangat besar dalam pembentukkan karakter. Seperti yang kita ketahui, Multiple Intelligences itu ada 8, menurut Howard Gardner, tidak semua orang terlahir dengan logic smart yang tinggi, atau dengan language smart yang tinggi. Sedari kecil, orang tuaku tidak pernah memfokuskan pada nilai-nilai akademis yang tinggi, mereka lebih banyak mengasah “kepintaran ” lainnya. Contohnya, aku sangat kreatif dan people smart ku sangat tinggi. Yang mereka lakukan itu, adalah fokus agar aku bisa berkembang dengan maksimal, termasuk membiarkan aku mengerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda. Mungkin aku beruntung karena besar di luar negeri, dimana aku tidak dinilai dari segi akademis saja, karena kalau seperti itu, nilai-nilai akademisku saat sekolah pas-pasan. Saat terjun ke dunia kerja, aku beruntung memiliki atasan yang sangat open-minded terhadap ide-ideku. 4 tahun yang lalu, aku terpilih oleh International Baccalaureate Organization sebagai teacher trainer untuk wilayah Asia Pasifik, dibawah bendera IBO tersebut. Di Asia Pasifik, ada lebih dari 2000 trainers, dan ada sekitar 20 orang yang berwarga negara Indonesia. Menjadi seorang trainer dari ‘third world country’ tidak mudah. Kadang banyak peserta yang meremehkan aku karena aku tidak berkulit putih. Kuncinya adalah tidak mudah menyerah dan tetap berusaha maju. Alhamdullilah jerih payahku membuahkan hasil. Selama 4 tahun ini, aku mendapat review yang baik dari para peserta di negara-negara di wilayah Asia Pasifik. Bulan lalu, aku baru menyelesaikan training untuk menjadi curriculum reviewer untuk IB Global, yang meliputi wilayah; Asia Pasifik, Eropa, Afrika dan Amerika. Dari 40 peserta training tersebut, hanya 2 orang yang WNI. Jadi, jika ada kemauan keras untuk maju, tidak mudah menyerah, aku yakin para wanita Indonesia dapat bersaing secara global”

 

Diena, Surabaya

62-813-9411-XXXX

“Gak usah takut dengan adanya MEA, rejeki Tuhan yang atur, yang penting kerja yang smart, one step ahead dari yang lain. Jalani saja”

 

Rima, Tangerang Selatan

62-838-7665-XXXX

“Cintailah produk-produk Indonesia”

 

 

The Best Opini Akhir Tahun 2015

Opini Warga Negara US soal Trump Anti Muslim

Hannah McFadden, Operation HOPE, Inc., US

Via FB Messenger

“First, I think Donald Trump is a disappointing candidate for many reasons. He creates anger and fear in his campaign tactics, and reminds us that a lot of people in our country have radical thoughts and beliefs. I try not to give him any energy or time  because that feeds more hate and energy into his strategy. He will not win, he scares lots of people with his opinions. But, the fact is that our country is made up of people with all kinds of beliefs, including Mr. Trump’s.

 

Second, I disagree with him on every point and opinion that he has shared. He does a great job at making people mad. I will always stand up for acceptance of all people in our country, and the best way I can do that is to support the right candidates. Honestly, I don’t personally know anyone who would vote for Trump. I know those people exist though. We can’t try to change those people’s beliefs or force them out, that’s what Trump would do. Tolerance for all people is most important, it’s what makes our country great.”

 Opini Hari Ibu: Perempuan Bekerja di Luar atau Dalam Rumah

Selly Manicad, Philippines

+63-917-570-6XXX

“Kalau menurut saya perempuan berhak bangga hanya berperan sabagai ibu rumah tangga. Karena ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling fundamental dalam rumah tangga. Mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga, mengurus keperluan suami dan anak-anak, memastikan bahwa rumah bersih teratur, pakaian bersih tersedia, makanan sehat bergizi selalu dihidangkan, waktu bermain, belajar dan istirahat anak-anak seimbang. Tanggung jawab seorang ibu rumah tangga sangat besar dan tidak pernah ada waktu libur untuk seorang ibu rumah tangga, pekerjaannya harus terus berjalan. Seorang ibu rumah tangga kalau dijabarkan satu per satu jenis pekerjaannya bisa merangkap menjadi banyak profesi. Mulai dari petugas kebersihan, penjaga keamanan, koki, guru, konselor, guru rohani, dokter dadakan, entertainer, story teller, tukang jahit, supir, sampai bodyguard. Jadi ya, ibu rumah tangga adalah profesi yang sangat membanggakan.”

 

Rita Ardiwikarta, Bandung- Australia

57B33XXX

“Wow…kalau boleh memilih antara dua itu, saya lebih memilih atau bangga menjadi ibu rumah tangga. Membesarkan , merawat, dan mendidik anak sampai sukses jauh lebih membanggakan.”

 

Seputar Pendidikan Anak

Bagaimana cara mengatasi perbedaan pola asuh antara pendidikan sekolah dengan cara orang tua mendidik anak di rumah?

 

Windita, Global Jaya School, Bintaro- Jakarta

0816-727-XXX

“Biasa aku lakukan itu dengan mengedukasi orang tua. Misalnya tiap term (triwulan) aku mengadakan ‘Parents Workshops’ yang ditujukan untuk orang tua murid dan bagaimana cara mereka bisa support guru-guru di sekolah. Topiknya bisa berbeda-beda, workshop yang aku lakukan sifatnya praktikal, jadi orang tua ditaruh dalam situasi kelas. Selain itu, aku juga menyediakan waktu untuk orang tua yang mau berdiskusi lebih jauh mengenai program yang kami tawarkan di sekolah”.

 

Vina, Ibu 2 Putra Putri, Tangerang Selatan

0857-1056-XXXX

“Saya ajari anak-anak saya untuk ulangi lagi pelajaran sekolah atau ngaji setelah maghrib baik ada pekerjaan rumah (PR) ataupun tidak ada PR. Saya selalu terapkan disiplin ketat. Dalam arti disiplin itu saya lakukan secara berkesinambungan. Saya harus tegas, kalau tidak begitu nanti anak-anak tidak takut mamanya. Kalau takut papanya terus kan repot, karena mamanya yang selalu ada di rumah”.

 

Fitri, Ibu 2 Putra Putri, Bogor

0821-1139-XXXX

“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) penting untuk anak supaya bisa bersosialisasi. Kalaupun tidak sekolah sejak usia 2 atau 3 tahun, tak mengapa asalkan di rumah anak punya teman bermain. Anak pertama saya ikut PAUD karena anaknya memang sudah minta sekolah. Sedangkan anak kedua saya sekolahkan mulai TK A karena di rumah sudah ada teman bermain sejak kecil”.

 

Rina, Ibu dari Anak Remaja, Kanada

75964XXX

Saya sih selama ini menerapkan ke anak mengikuti apa yang sudah mama saya ajarkan. Dalam hal belajar, saya tidak terlalu forsir anak karena bagi saya nilai tinggi tak menjamin keberhasilan anak. Saya lebih menekankan anak untuk mengembangkan skill. Dengan punya beberapa skill itu jadi nilai plus dia dibandingkan sekedar nilai tinggi. Hal terpenting lainnya, anak diajarkan toleransi supaya bisa menempatkan diri di masyarakat dan supaya bisa tough menghadapi kehidupan itu yang paling penting. Tapi tiap orang tua pasti punya caranya sendiri mengasuh anak. Tak ada ukuran paling salah atau paling benar dalam mendidik anak. Selama nilai-nilai yang diberikan kepada anak tidak melanggar nilai-nilai moral, etika dan agama..keep going and relax aja. Action talks louder than words. Tugas sebagai orang tua hanya memberikan contoh terbaik bagi anak-anak, tak usah dianggap sebagai beban. Apalagi anak saya sudah remaja dan tinggal jauh dari saya. Saya cuma bisa berdoa dan selalu tekankan pada dia kalau masa depannya ada di tangan dia. Jadi apapun yang dia lakukan hari ini menentukan masa depannya. Hukum tabur tuai yang berusaha saya buat dia mengerti. Kalau kita menabur yang baik akan menuai yang baik juga”.

 

Yearti, Umi dari Putra Putri, Binar Kids Day Care- Bogor

7A6F8XXX

“Saya dan abinya (suami) bekerja sama untuk menerapkan kedisiplinan dan ketegasan terhadap anak. Kasih sayang tetap kami tunjukkan. Namun keputusan soal pola asuh diserahkan pada saya. Jadi kami selalu satu suara. Sebab kadang penyebab anak bingung adalah perbedaan cara orang tua dalam mendidik anak. Peranan ayah sangat penting terhadap kehidupan anak, apalagi anak perempuan. Abinya saat berada di rumah selalu mengurus kebutuhan anak perempuan saya. Mulai dari mandi, pakai baju, makan dan belajar. Saya menyiapkan keperluannya saja. Kedekatan secara psikologi dan emosional antara ayah, ibu dan anak itu yang membuat anak patuh pada orang tuanya. Itu menurut saya. Abinya dan saya tidak mewajibkan anak belajar mati-matian, misalnya lama dan tegang, tapi suasana belajar dibangun lebih rileks. Komunikasi juga dibangun antara orang tua dan anak. Jaman sekarang saya perhatikan, kedua orang tua sibuk di luar rumah cari uang. Anak ditinggal dengan pembantu, teman atau tetangga. Begitu tiba di rumah, ibu sudah capek. Tak sempat lagi bercanda atau ngobrol dengan anak. Ayah pulang capek dan masih sibuk dengan HP atau langsung terlelap tidur. Anak dijejali dengan les-les yang banyak dan mahal dengan harapan bisa berprestasi. Ternyata hasilnya biasa saja. Kalau saya perhatikan, anak-anak cerdas berprestasi adalah anak-anak yang banyak berkomunikasi dengan orang tuanya walau punya waktu sedikit. Waktu yang sedikit itu dimanfaatkan betul untuk berkomunikasi dengan anak. Bukan sekedar bersama anak. Kalau untuk atau dengan anak, kita bisa menyatu dengan anak, memiliki komunikasi dan kegiatan dengan anak. Kalau sekedar bersama anak, masing-masing bisa punya kegiatan sendiri. Ibunya sibuk main HP atau masak, anaknya sibuk main lego atau mobil-mobilan atau Ipad sendiri. Itu yang saya pelajari saat ikut seminar-seminar parenting. Selain itu, ada tahap-tahapan mendidik anak sesuai fitrahnya ”.

 

 

Peristiwa Teror di Perancis

Sumber Gambar: Galamedia

Ita R. Darwis, Bogor

0813-2213-XXXX

“Saya mengutuk tragedi Paris sama seperti saya mengutuk tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya yang terjadi di negara manapun. Hanya saja, saya merasa peristiwa ini akan menjadi 11/13 bagi Perancis sama halnya dengan 9/11 bagi Amerika. Artinya, kita akan disuguhkan episode terbaru dari Serial Drama ‘Islamophobia’ yang semakin gencar tayang di media-media mainstream.

Hal ini akan berulang – entah mengapa saya yakin – meski di negara mana saya tidak tahu, dan ini menyadarkan saya betapa berat upaya kita para muslim nantinya demi menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang menganjurkan kekerasan, apalagi menghalalkan pembunuhan. No, terrorism has no religion. Siapapun pelaku terorisme sejatinya tidak mewakili agama dan ras apapun.
Saya berduka untuk Paris, seperti saya berduka untuk Beirut, untuk Baghdad, untuk Afghanistan, terlebih untuk Suriah dan Palestina di mana bom, tembakan dan hilangnya nyawa sudah menjadi keseharian mereka. Namun saya lebih berduka untuk para muslim yang masih hidup di negara-negara Eropa, yang akan menanggung prasangka atas keislaman mereka, yang telah menerima berbagai bentuk larangan hanya karena hijab yang mereka kenakan, atau yang dicap ‘patut diwaspadai’ karena jenggotnya. Semoga siapapun kita, apapun agama kita, bisa tetap sepakat bahwa terorisme tidak mewakili agama atau ras apapun.”

 

Resti, Bandung Selatan

53E79XXX

Pertama, Islam kan semakin berkembang di Eropa, Perancis khususnya. Kemungkinan, dalam beberapa tahun mendatang, jumlah warga negara Perancis yang beragama Islam akan meningkat. Kedua, keinginan negara Amerika dan sekutu untuk menguasai minyak di negara-negara yang notabene muslim. Biar ada alasan menguasai minyaknya. Ketiga, mungkin sudah masuk perang akhir jaman. Jadi perlu ada pandangan negatif terhadap muslim (disebut teroris) biar keinginan mereka tercapai dengan lebih mudah. Pembentukan pandangan negatif ini perlu agar Islam tak dibantu lalu hancur.

Muslim sekarang harus cerdas agar tak mudah digiring pada pandangan negatif yang ada pada media dibawah kekuasaan barat. Pelajari masalah dari berbagai sudut pandang, termasuk sejarah. Sebagai muslim harus tunjukkan bahwa kita bukan teroris. Untungnya sekarang ada social media, jadi harus dimanfaatkan maksimal sebagai media pengimbang. Sebenarnya, orang Eropa sendiri sudah muak dengan perang teroris. Mereka semakin sadar bahwa Islam tidak sama dengan teroris

Saya tidak khawatir dengan kemungkinan teror di dalam negeri karena Indonesia negara plural, jadi ekstrimis sulit berkembang. Aparat harus menjalankan fungsinya dengan benar. Cuma harus mengedepankan asas praduga tak bersalah. Kemarin saja ada bom di Alam Sutra, pelakunya bukan muslim tidak disebut teroris. Padahal pelaku juga menebar ketakutan sama seperti teroris”.

 

Nurul, Bekasi

0812-8465-XXXX

“Peristiwa di Perancis adalah upaya untuk mendiskreditkan Islam. Kalau menurutku pribadi, karena umat Islam adalah yang paling mudah dipecah belah. Sejak lama kita tahu, kejayaan Islam itu mampu menaklukkan dunia. Ada agenda barat yang ingin menaklukkan timur, menurutku karena kekayaan bumi timur luar biasa, kekayaan yang tak dimiliki barat.

Terduga teroris kan ISIS, akan ada alasan untuk menghancurkan tempat ISIS bercokol. Kurang lebih samalah dengan yang pernah terjadi dengan Irak.

Kekhawatiran teror di dalam negeri, karena kita sudah sering lihat bendera ISIS dikibarkan saat pawai yang kadang melibatkan ormas tertentu.

Solusinya, kalau aku melihatnya, justru harus ada pendidikan sejak dini lagi buat generasi penerus. Semacam PMP dulu. Sehingga anak bangsa ini bisa tumbuh kecintaan terhadap negrinya sendiri. Setidaknya, apa yg sudah terlanjur tercoreng, ada oposisinya

Teror di negri kita sesungguhnya kan sudah terjadi, dengan adanya diskriminasi dalam kebebasan menjalankan ibadah. Perbedaan paham dan pendapat sedikit saja bisa berujung perang antar kubu, antar suku. Bangsa ini semakin terpecah belah. Harusnya ada ulama yang mampu menentramkan karena aparat keamanan pun terkadang punya misi tertentu, misalnya pesanan dari pihak lain”.

 

Yuni, Bandung Utara

5231DXXX

Islam itu rahmatan lil ‘alamin (membawa rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia), jadi kasih sayang Islam bukan hanya untuk umat Islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia yang ada di dunia. Oleh karena itu, musuh-musuh Islam semakin kini semakin gencar mengadu domba dan memfitnah umat Islam. Seolah-olah semua kekacauan itu dilakukan oleh orang Islam. Syi’ah dan ISIS yang notabene bentukan Israel dan Amerika, mereka kini semakin gencar ingin mengancurkan Islam, “teroris” yang merupakan bentukan Syi’ah dan ISIS , dunia menyamaratakan dengan Islam padahal bukan sama sekali. Coba kita lihat di Palestina atau Afganistan misalnya, umat Islam disana sudah berpuluh-puluh tahun ditindas, diperangi oleh kaum Yahudi (yang didalamnya ada ISIS dan Syi’ah tentunya), ini membuktikan bahwa teroris itu bukan Islam. Justru Islam pun ditindas oleh kaum teroris yang mengatasnamakan Islam”.

 

Veronica, Australia

61-415-272-XXX

“Saya sangat prihatin dan sedih karena orang yang tidak bersalah menjadi sasaran teroris dan kita ketahui bahwa Perancis adalah negara yang terkenal sebagai tempat tourist. Semoga negara Perancis menjadi tabah dan menjadi lebih tangguh dalam menghadapinya. Untuk ISIS saya harap bisa mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa”.

Pahlawan Masa Kini dan Harapan Indonesia di Masa Depan

Suara Kamu diperoleh tim SPI melalui interview by BBM dan whatsapp dikarenakan beberapa informan adalah WNI yang sedang tinggal di luar negeri. Apakah mereka masih ingat Indonesia? Hal apakah yang paling diingat bila sedang berada di luar negeri? Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, siapakah sosok yang pantas disebut pahlawan? Apa harapan untuk masa depan Indonesia? Demikian pertanyaan yang kami ajukan pada para perempuan muda kisaran usia 20- 35 tahun. Bagi para perempuan yang masih tinggal di Indonesia, mereka yang diwawancara berkecimpung di seputar dunia pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

 

Berikut kutipannya:

Bella (UNIC)

0811-9119-XXX

Yang paling diinget tentang Indonesia kalau saya lagi di luar negeri adalah orangnya pada sabar, gak buru-buru, gak gampang marah-marah. Selain itu orang Indonesia juga lebih ramah dan peduli satu sama lain. Di luar, terutama di negara maju, orang cenderung lebih individualis dan maunya apa-apa serba cepat.

Sosok perempuan yang pantas disebut pahlawan menurut saya, Susi Pudjiastuti mengesankan karena berani mendobrak stereotip dan membuat perubahan besar-besaran walaupun diancam kanan kiri.

Yohana Yembise juga luar biasa karena telah membuktikan bahwa perempuan dari daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) juga bisa berprestasi dan memimpin sebagai menteri. Selain tokoh-tokoh itu, di masyarakat juga banyak perempuan-perempuan hebat yang kurang diekspos, contohnya Shinta Lona dari Desa Sulamu di NTT. Beliau awalnya adalah seorang nelayan sederhana, namun kemudian berhasil memajukan ekonomi desa beliau dengan mengajak perempuan dan pemuda bersama-sama memproduksi pilus dari rumput laut. Saat ini kapasitas produksi mereka telah mencapai 200 kg/ minggu. Shinta dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berjasa untuk pertanian dan agrikultur Indonesia. Beliau baru mendapatkan medali penghargaan dari FAO.

Harapan untuk Indonesia di masa depan adalah supaya suara perempuan dan kaum muda lebih didengar. Sekarang ini sudah semakin banya gerakan, kegiatan, dan program yang memberdayakan perempuan dan pemuda, tapi pada praktiknya hanya diterapkan dalam jangka waktu tertentu saja. Setelah gerakan, kegiatan, atau program tersebut selesai, orang cenderung “lupa”

Maesa (Abu Dhabi)

9715-0921-XXXX

“Hal yang paling diingat kalau sedang di luar negeri itu makanan, alam dan musimnya. Kalau hal buruk pasti ada, saya optimis Indonesia bisa maju ke arah itu. Misalnya pendidikan.

Sosok pahlawan perempuan Indonesia, tentu saja Kartini karena menurut saya dia hebat. Untuk perempuan yang hidup pada jamannya dengan pola pemikiran seperti itu, dia bisa merubah sesuatu dengan menumpahkannya dalam tulisan. Dia mungkin salah satu pionir pendidikan wanita Indonesia. Kalau pahlawan untuk jaman sekarang, menurut saya orang seperti Butet Manurung yang rela sampai ke hutan untuk mengajar anak-anak Rimba.

Harapan saya buat Indonesia tentunya Indonesia bisa lebih sadar akan pentingnya pendidikan untuk warga negaranya, juga lebih peduli dengan alam.”

Veronica (Australia)

61-415-272-XXX

“Hal yang paling diingat jika sedang di luar negeri adalah keramahan, senyum, mau membantu serta kesopanan orang Indonesia yang tidak terlupakan.

Menurut saya yang pantas disebut pahlawan adalah Presiden Ir. Soekarno karena berkat beliau bangsa Indonesia bisa merdeka dari penjajahan Belanda.

Kalau perempuan R.A Kartini. Berkat beliau derajat wanita bisa lebih tinggi karena berpendidikan tinggi sehingga lebih dihargai.

Harapan saya untuk Indonesia supaya pemerintah Indonesia bisa lebih adil dan lebih membantu rakyat yang tidak mampu dengan memberikan subsidi dalam bidang perekonomian dan yan tidak punya pekerjaan bisa dibantu mendapatkan pekerjaan sehingga keamanan di Indonesia lebih terjamin dan mengurangi angka kriminal. Mudah-mudahan negara Indonesia semakin aman, tentram dan maju. Harapan untuk perempuan Indonesia supaya lebih sopan, ramah, patuh dan lebih menjaga harga diri dari pergaulan bebas.”

Jasminia (Jakarta)

0896-0684-XXXX

“Menurutku pahlawan itu adalah sosok yang harus memiliki jiwa humble dengan dedikasi yang tinggi untuk melakukan sesuatu yang berimpact positif , yang mempunyai pemikiran joy in sacrifice, karena dengan itu dia menjadi sosok yang tanpa pamrih. Pahlawan itu ayah dan ibuku. Automatically yang terfikir itu.”

Diena (Always Listening Always Understanding)

0813-9411-XXX

“Pahlawan itu yang mengabdi kepada negara dan bangsa. Ibu Susi Pudjiastuti. Ibu Susi menggunakan kemampuannya semaksimal mungkin demi kemajuan Indonesia, khususnya bidang kelautan. Agar jadi negara maritim yang disegani.”

Anonim (Surabaya)

0853-3430-XXXX

“Sosok yang pantas disebut pahlawan adalah orang yang sudah berbuat banyak untuk negaranya. Baik itu dalam pembangunan ekonomi, pendidikan dan bidang-bidang lainnya dalam jangka waktu yang lama karena saat ini yang lebih populer di Indonesia adalah polemik pahlawan antara Soeharto dan Gus Dur. Saya cenderung memilih Pak Harto sebagai pahlawan, walaupun di sisi lain beliau punya kesalahan. Namun jangan dilupakan Pak Harto dengan program Repelita, jangka pendek dan jangka panjang telah membuat Indonesia menjadi negara yang swasembada pangan termasuk menjadi Macan Asia. Sedangkan Gus Dur (nuwun sewu) saya merasa beliau masih belum layak karena kiprah nyata beliau masih belum begitu kelihatan dalam memajukan Indonesia.”

Rikhah (Majelis Ta’lim Ar Rahman, Bogor)

30B9CXXX

Sosok yang disebut pahlawan pada jaman sekarang yaitu orang-orang yang dengan ikhlas, gigih & serius mau membangun daerahnya sendiri serta berusaha untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah terpencil padahal mereka sendiri hidup dalam kemiskinan dan tidak memiliki modal apapun. Pahlawan yang namanya tidak kita kenal dan tidak berharap untuk terkenal, namun mereka sudah berbuat banyak untuk bangsanya.

Harapan buat Indonesia agar lebih maju lebih merata terutama dalam bidang pendidikan, pemerataan pembangunan dari segi tata kotanya agar bisa lebih teratur sehingga bisa mengatasi kemacetan dan kebanjiran. Pemerintah bisa dengan tegas memberantas Korupsi Kolusi Nepotisme, Narkoba dan Kriminalitas.”