Belajar dari Sejarah: Hatta & Pilpres vs Kaum Milenial

Sedikit kilas balik pada masa lalu, saat negara dan bangsa ini terbentuk. Berdasarkan seri buku Tempo: Bapak Bangsa. Salah satunya, “Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman”. 

Hatta tergambarkan sebagai tokoh yang mencintai ilmu pengetahuan (sosial ekonomi) dan agama. Bacaannya luas, terbukti dengan koleksi buku 80.000 judul buku atau 16 peti buku. Jumlah yang fantastis di masa itu, bahkan juga saat ini kalau bandingannya kaum milenial.

Yup. Berapa banyak buku koleksi kaum ini? Bukan bermaksud mengecilkan. Namun dengan banyaknya hoax bertebaran di medsos, banyaknya laporan polisi UU ITE, adalah sekian bukti bahwa kedalaman pikir saat ini hampir punah. Lebih banyak sesat pikir yang mau gampangnya saja, main viralkan informasi. Apalagi tahun 2019 sebagai tahun politik, isu-isu semakin menyempitkan ruang berpikir. Itupun kalau sempat berpikir. 

Pada masanya, Hatta sebagai bapak bangsa begitu disibukkan untuk belajar, berorganisasi dan berkarya lewat tulisan. Pemuda masa itu tidak banyak yang berkesempatan sekolah tinggi hingga ke negeri Belanda karena latar belakang keluarganya tidak seperti Hatta yang sebagai saudagar dan tokoh agama. Kalau dari otobiografi, sekilas hidupnya lurus-lurus saja. Kesenangan hidup, joie de vivre pada bola sampai usia tua. Bukan berarti hidupnya tanpa kesulitan. Walau hidup sederhana hingga akhir hayat, pikirannya seperti cukup memikirkan diri sendiri. Ada banyak ruang dalam pikirannya membela kaumnya untuk merdeka. Berusaha memerdekakan dari penjajah dan mempersatukan satuan wilayah hidup yang tercerai berai untuk menjadi satu tanah air. Sebuah tempat yang dinamakan: Indonesia, sejak muda. Adakah di masa sekarang orang muda yang lupa selfie sejenak demi akun medsosnya? Sementara orang sekelas Hatta memikirkan bangsa. Anak-anak muda kekinian terus menerus memikirkan: Aku. Aku. Aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Mana kami? Kita? Bukan bermaksud mengingatkan gaya Surya Paloh berpidato: “Kita.. kita.. kita.. kita” tapi lebih mempertanyakan kebersatuan kita sebagai sebuah bangsa. Yang mungkin memang sebuah komunitas imajiner kalau menurut Benedict Anderson.

Tantangan besar bagi pasangan Capres Cawapres masa kini untuk merewind ingatan akan kebersatuan itu. Apakah dengan demikian kaum milenial dituntut untuk kolot kembali ke masa lalu melupakan identitas kekiniannya? Perlu ada ingatan itu. Sedikit saja. Kalau tidak, jumlah GOLPUT akan MAKSIMAL pada Pemilu kali ini. Sulit memilih diantara kedua pasangan Capres Cawapres. Keduanya begitu kontradiktif: Paslon 1 nampak begitu idealis dengan pencitraannya. Walau pada pidatonya yang terakhir, Jokowi lebih keras daripada biasanya. Paslon 2 begitu berani menabrak citra-citra positif pemimpin ideal yang menjadikan paslon nomer 1 terlihat kolot karena seperti ingin menjadi Soekarno Hatta masa kini. Prabowo pada pidatonya yang mengutip sajak tentara yang gugur pada tahun 1946 (setelah merdeka?!) Ingin menegaskan tidak ada kesendirian itu. Nasib mereka (maksudnya generasi akan datang) tergantung dari nasib kita sekarang. Tapi mengapa sajak dari pemuda yang gugur setelah merdeka? Ah.. kaum milenial takkan ambil pusing. Tapi yang menonjol adalah ungkapannya soal betapa berbagai cadangan kita sebagai bangsa begitu minim saat ini. Satu yang paling ngeri: kalau Indonesia perang, cadangan peluru cuma cukup untuk 3 hari! Gawat! Harus milih dia biar Indonesia menang! Begitu yang ingin disampaikan. Lalu Indonesia HARUS bikin mobil bukan mobil-mobilan. Menang dari apa? Kekolotan? Bikin mobil? Pabrik onderdilnya memangnya sudah ada? Kalau memang niat… Indonesia lebih hebat daripada bikin mobil. Sudah bisa bikin PESAWAT! Sayangnya.., pabrik pesawat pun ditutup pemerintah. Setelah perjuangan puluhan tahun Habibie. 

Kaum milenial bukan kaum yang ngiler untuk memiliki sesuatu. Bahkan untuk punya bonding keluarga pun mikir-mikir karena doyan travelling. Apa yang dibutuhkan? Kebebasan. Tantangannya: hukum bisa dilabrak. Sementara Indonesia sebagai negara hukum rindu penegakkan hukum. Tapi soal rombak UU baru lepas dari UU Belanda bukan isu yang hot seksi. Padahal perlu dan HARUS. Masa iya sebuah negara dan bangsa yang sudah merdeka 73 tahun tapi aturannya masih aturan penjajah? Ah.. kaum milenial takkan peduli. Dicarilah isu-isu yang gampang viral. Inilah yang menjadikan Pilpres 2019 seperti total mengandalkan sosmed. Kunjungan ke 1000 titik menurut Cawapres 02 -yang seolaholah blusukan- membekalinya pengetahuan untuk tahu mau apa setelah jadi Wapres Indonesia. 

Indonesia butuh pemimpin yang benar-benar merombak sistem di usianya yang semakin tua. Benar-benar mandiri sebagai sebuah bangsa loh. Tak bisa bertumpu pada satu per orang tokoh saja sebagaimana Hatta dulu pernah berujar yang dicatatkan sejarah. Tantangannya: Capres Cawapres kali ini ingin dicatatkan sejarah sebagai apa? Hatta saja yang jasanya besar lewat berbagai tulisan sebagai alat perjuangan dianggap belum cukup. “Hanya” sebagai Bapak Koperasi. Padahal pemikiran sosial ekonominya masih relevan hingga kini… bahwa demokrasi yang kacau dapat memberi ruang pada: DIKTATOR! 

(ratih karnelia kusumawardhani)

Hikmah Kasus Baiq Nuril

Fiuuuhhh… untung saja masih terselamatkan potongan koran yang isinya penting ini. Belum berakhir tercabik-cabik oleh para bocah di rumahku yang rapi dan bersih di malam hari saja saat mereka terlelap. Tulisan ini referensi tersingkat yang dapat kutemukan dan sempat kubaca. Soalnya ini persoalan hukum so kudu hati-hati nulisnya. 

Potongan koran ini berisi sebuah opini berjudul “Hukuman Nuril dan Konspirasi Maskulinitas” ditulis oleh Nursyahbani Katjasungkana (Koordinator Nasional APIK) di koran nasional tertanggal 22 November 2018. Kasus yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru di Mataram sebagai sebuah konspirasi memperlakukan perempuan secara tidak patut (baca: jahat nian), mempersalahkan perempuan atas haknya membela diri dari perlakuan pelecehan seksual yang dilakukan atasannya. Hukum di Indonesia belum pro perempuan padahal sudah ada Perma Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum, termasuk jika perempuan melakukan perbuatan pidana. Selain itu, ada ajakan pada para hakim agar lebih peka jender dan rekomendasi bagi Kementrian terkait. 

Itu soal hukumnya, sudah ada pengadilan (yang belum adil bagi perempuan). Bagaimana jika hal ini terulang lagi di tengah masyarakat sebelum berhadapan dengan hukum? Apakah sanksi sosial akan ditujukan pada korban atau pelaku? Bagaimana kita menyikapinya? 

Ada hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini:

Pertama, berhati-hati saat berinteraksi dengan lawan jenis. Sekalipun itu rekan kerja atau bahkan atasan di kantor. Terlalu ramah akan mengundang pelecehan seksual.

Kedua, hukum Indonesia belum bisa diandalkan membela kepentingan perempuan. Namun sebagai perempuan berdaya untuk membuat sanksi secara sosial pada pelaku. Hukum saat ini bisa saja memenjarakan BN. Coba kita lihat, apakah di luar sana atasan BN bebas dari prasangka atau sanksi sosial? Meskipun kabarnya atasan BN malah mendapat promosi jabatan, tapi omongan nyinyir atau pandangan sinis emak-emak (yang pro BN) akan tetap ditujukan pada dia. Tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi bagi umat beragama dengan spiritualitas yang baik (bukan sekedar beragama ritual) YAKIN akan adanya ganjaran perbuatan baik dan atau buruk. Dengan atau tanpa hukuman penjara.

Ketiga, bila semua usaha telah dikerahkan.. berarti tugas selanjutnya: bersabar dan bersyukur musibah yang menimpa tidak lebih buruk daripada ini. Sesuai QS. Al Anbiya 21: 35 “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami”.

Keempat, didik anak laki-laki kita untuk respek dan sayang pada perempuan. Dimulai dengan sikap dia pada ibunya. 

 

212 vs Pendaratan di Mars

NASA USA pada tanggal 27 November 2018 mendaratkan robotnya di Mars. Media nasional menyebutnya: bukti kecerdasan Amerika. Jadi kita yang belum bisa kirim roket ke Bulan atau Mars, belum bisa dikatakan cerdas. Saya tidak lanjut baca artikelnya. Sudah down duluan. Merasa tidak menjadi bagian dari sejarah karena negaraku bukan negara yang kirim roket ke Bulan atau Mars. Berita itu positif tentu saja. Dalam arti kemajuan peradaban manusia. Mars seringkali disebut-sebut sebagai calon tempat baru bagi umat manusia karena kondisi fisik dan geografisnya menyerupai bumi, ada atmosfer yang kasih harapan manusia bisa hidup di sana. Pun orang-orang yang akan tinggal disana cuma orang-orang yang mampu “membayar harganya”. 

Sementara itu..gerakan 212 yang dimulai sejak 2 Desember 2016 hingga berlanjut ada reuni setiap tahunnya: gerakan manusia berkumpul di Monas. Gerakan harapan manusia yang bersatu layaknya semut putih berjajar rapi, tertib, ibadah, doa.. sebagai upaya memanusiakan diri mereka. Dengan memiliki harapan. Kami. Orang Indonesia. Simpatisan 212. Bukan muslim saja. We don’t need to go to Mars to find a place called: HOME. We don’t need to go to Mars to find: PEACE. Gerakan 212 membuktikan ISLAM SEBAGAI AGAMA DAMAI. SUNGGUH RAHMATAN LIL ALAMIIN. Why they need to go to another planet? Soalnya Indonesia sebagai SARANG mayoritas ISLAM begitu SUPER DUPER DAMAI. Gerakan TANPA BOM. Probably they afraid to another bombing attack which: bukan orang Islam Indonesia sejati sebagai pelaku. 

Gerakan 212 membuktikan SUPER DAMAInya ISLAM tanpa bom atau bahkan kerusuhan. Betapa semua orang blend in bersama saling berbagi.. menunjukkan keindahan ISLAM. Saling gotong royong membersihkan kembali sampah. Ini juga satu bukti bahwa Islam HIDUP. Ada, damai dan mendamaikan. Cukup Islam bagi kami. We actually can provide a better planet right here and right now. 

Tertanggal 3 Desember 2018, NASA diberitakan akan mengkomersilkan kunjungan ke stasiun luar angkasa karena pemerintah US akan memberhentikan pendanaan pada tahun 2025. Namun belum ada angka tiket wisata ke luar angkasa ini. Sementara itu, Virgin Galactic dan Blue Origin sebagai perusahaan swasta sudah membuat estimasi dalam mewujudkan wisata ke luar angkasa.

Nama pertama, perusahaan besutan Richard Branson itu sempat dikabarkan mematok harga USD 250 ribu untuk satu tiket. Sedangkan nama kedua, korporasi yang didirikan oleh Jeff Bezos, akan menjual tiket dengan kisaran harga USD 200 ribu hingga USD 300 ribu.

Nah.. mampukah gerakan 212 sebagai gerakan “murah meriah” membangkitkan umat..menjayakan kembali kebesaran ISLAM? Di saat Amerika dengan “hebatnya” pamer teknologi dan mampu menaklukkan luar angkasa. Ini adalah sebuah tantangan bagi umat. Bahwa kebahagiaan itu, memang sederhana: berasal dari sanubari manusia yang tulus hidup bersama manusia lain dalam sebuah harmoni.

Soldier of Fortune: Sikapi PP No 43 Tahun 2018

Terdengar seperti judul lagu? Memang. Lagu jadul. Jelang Pilpres 2019, bila kamu dukung salah satu capres ibarat prajurit dalam perang. Mati atau hidup, menang atau kalah.. namamu akan dikenang. Oleh keluarga, kerabat, teman yang kenal saja. Ibarat pahlawan tak berwajah: begitulah kamu dan kami (SaPI?!). Bagaimana kita sikapi penandatanganan PP No 43 tahun 2018 oleh Presiden Jokowi terkait reward (maksimal Rp 200 juta) bagi pelapor tindak pidana korupsi awal bulan ini apakah sekedar pencitraan jelang Pilpres atau peluang bagi perubahan di negeri ini?

Coba cek timeline facebook anda hari ini, berapa banyak orang yang “niat banget” tiap jam share berita yang dikomenin. Sebagian besar isinya keji soal koruptor. Fitnah? Fitness? Fit and proper test? Ya sebut saja semuanya. Berkebalikan dengan motto kami: Mencerahkan Aktual Kritis Independen.. Mari MAKI MAKI yang cerdas! Yuk nulis dimari. Yuk SUARAKAN! Gak masalah kalau terinspirasi ide MAKI lalu nulis di wall masing-masing. It’s okay kalo gitu. Tapi kalau udah bicara keberpihakan… mereka (mungkin bayaran) kejamnya kayak membalas dendam kesumat tujuh turunan. Padahal yang dibela, gak kenal. Apalagi oposisinya juga jauh dari pandangan dan jangkauan. Let’s be setrong kalo buka sosmed. Berharap soundtracknya “Wind of Change” tapi tetep yang kedengeran “Soldier of Fortune”..

Bulan Oktober bulan kebangkitan. Bangkit dari bayang-bayang masa lalu bahwa negeri kita lahan basah untuk korup? Lalu siapakah yang diharapkan mampu SUARAKAN! Saat dimulainya pelaksanaan PP No 43 tahun 2018 ini? Dengan harapan reward ini akan memotivasi pelapor tindak pidana korupsi. Terlepas dari kontestasi perebutan kursi presiden. Aparat hukum yang berkewajiban menegakkan ini dengan kita sebagai masyarakat sebagai pelapor tentu disertai dengan bukti. 

Bagaimana Islam memandang hal ini? Soal profesi, berarti terkait amal perbuatan. Jika merujuk pada QS. An Nahl: 97, keduanya (perempuan dan laki-laki beriman) akan memperoleh balasan yang baik bila berbuat baik. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya atau kurang bila terkait amal baik. Kedua jenis kelamin punya hak yang sama bila berbuat baik. Lebih baik fokus berbuat baik saja daripada adu argumen siapa yang lebih patut antara dua jenis kelamin. Sebab amal baik dan buruk sudah ada catatan yang adil di sisi-Nya. Allah Maha Adil. Allah Maha Kaya. Allah Maha Besar. Sabar. Berani. Pertolongan Allah itu dekat. 

Kala EMAK-EMAK Berpolitik

Lebih militan! Dua kata itulah yang terlinyas di kepalaku begitu denger ada gerombolan emak-emak mendukung salah satu paslon. Sebagaimana militannya emak-emak di jalanan yang kasib sen kanan belok ke kiri atau bahkan gak kasih sen tiba-tiba belok ambil tikungan tajam! Cocok kali tipikal emak-emak untuk dunia politik.. so unpredictable.. pihak lawan bakal kebingungan menentukan strategi. 

Pihak Jekow duluan konpres diwakili PKB yang akan membentuk tim sukses khusus beranggotakan perempuan. Walau Suara Perempuan Indonesia hanya 46% dibandingkan total suara namun dirasa perlu untuk itu karena hasilnya akan signifikan. Pihak YouKnow jelang undi nomer urut baru bentuk “PEPES” sebagai kumpulan emak-emak pendukungnya.

SaPI senang gembira karena salah satu agenda kami tercapai: agar ibu-ibu rumah tangga lebih melek politik. Bukan sek3dar coblos suara pada Pilpres 2019 nanti. Namun hal yang mengherankan adalah isu-isu yang dilontarkan kedua kubu. Kubu Jekow (nomer urut 1) mewanti-wanti masa Orde Baru akan kembali merajalela karena nomer urut 2 didukung keluarga Cendana. Kubu YouKnow (nomer urut 2) menakut-nakuti PKI akan kembali melalui kekuasaan nomer urut 1. Sebab kebijakan luar negerinya yang pro China. Komunis menjadi   momok yang akan menghancurkan Indonesia. 

Aneh bin heran. Pihak pro Islam sebetulnya kan senasib dengan mereka yang disebut komunis. PKI dibubarkan karena disinyalir akan mengganti Pancasila dengan ideologi komunis. Masa kini, HTI juga dibubarkan karena akan mengganti Pancasila dengan ideologi Islam serta mengganti pemerintahan dengan sistem khilafah. Dua-duanya didzalimi.. but mungkin nih yang benar-benar komunis hanya segelintir orang sebagaimana mereka yang benar-benar Islam (pro khilafah). So pada saat kedua isu ini dibenturkan yang benar-benar terpengaruh hanya mereka yang true militans. Kalau emak-emak kekinian sih militannya bukan ideologi hitam putih. Ngendonesia banget. Masih amanlah. Bukan Gerwani yang berani angkat senjata. Paling angkat centong getok politisi yang nakal atau lempar bra ke kantor pemerintahan (kalo aksi lempar bra pernah terjadi saat Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta).

Ratih Karnelia Kusumawardhani

Rejeki Million Dollar

“Mobil mewah bukan barang penting bagi republik ini saat ini” statement ini keluar dari Menkeu Indonesia, Sri Mulyani hari Rabu, 5 September 2018. Masyarakat yang memiliki mobil mewah akan dikenakan pajak 190 persen. Yup. Thanks to you guys yah.. buat para penggemar mobil mewah. Berkat anda rupiah melemah terhadap dollar. Berkat anda juga pajak barang mewah menjadi tinggi. 

Dilematis hidup di masa sekarang? Di satu sisi saat ingin menampilkan prestasi, membeli barang mewah menjadi kebutuhan (tersier). Di sisi lain hidup sederhana sesuai tuntunan Islam dengan resiko akan dipandang sebelah mata karena seolah tak giat bekerja apalagi berprestasi. Yup. Beginilah resiko kalau prestasi melulu dilihat dari kebendaan. 

  • Misalnya saja, atlit berprestasi di Asian Games 2018 dapat milyaran rupiah. Pengisi hiburan pada penutupan Asian Games 2018 dapat mobil mewah dan royalti milyaran karena lagunya ada di tangga lagu Billboard.

Wow! Sukses! Hebat! Begitulah decak kagum rakyat Indonesia. Ada rasa bangga sekaligus harapan besar pada generasi masa depan negeri ini. Perbaikan penghargaan pada atlit, pada penyanyi. Profesi-profesi yang selalu jadi kendala dapat restu orang tua karena tidak menjanjikan, sifat kesementaraannya, ataupun karena alasan lain yang sifatnya ukhrawi. 

“Rejeki bukan gaji”, papaku selalu ngomong gitu dari dulu. Sekarang malah dipake motivator $100.000 dalam videonya yang beredar di whatsapp. Rejeki bukan bentuk uang saja.. sesuatu bisa disebut rejeki kalau itu berupa rasa puas saat bekerja. Rasa syukur dalam menjalani hari. Kemudahan dalam setiap langkah kehidupan. Selain penghargaan berupa uang, para atlit juga diberi status ASN. Namun salah satu atlet putra badminton peraih medali emas tak bisa membayangkan dirinya kerja kantoran. Sebab kecintaannya memang olahraga. Ingin tetap di seputar badminton. Begitulah rejeki yang sifatnya ternyata relatif bagi setiap orang.

Harta tidak selamanya buruk. Beberapa tahun lalu dalam MaPI (Majalah Percikan Iman) seorang ustadz menulis, “Jangan takut kaya!” Betul bahwa rejeki itu bukan gaji. Rejeki itu bukan selalu berarti limpahan harta. Rejeki itu luas. Nah.. untuk menggapai pemahaman ini diperlukan usaha. Kemudahan dan kesehatan saat melakukan usaha itu juga bagian dari rejeki. Bila kemudian mendapatkan limpahan harta.. disyukuri saja. Toh.. karunia dari Allah itu ada berupa harta juga. Tinggal bagaimana cara mencapainya dan untuk apa dipergunakannya. Islam bukan agama orang miskin loh. Para sahabat dan Rasul pun dalam sejarahnya seperti “alergi harta” karena takut terpedaya oleh dunia hingga melalaikan akhirat. Namun harta tetap menghampiri mereka tuh  kemudian dimanfaatkan untuk dakwah. Bedanya dengan manusia jaman sekarang.. limpahan harta hanya untuk pamer dijadikan ‘teman’ selfie. Berharta dalam Islam ada aturannya.. 1/3 untuk kebutuhan hidup, 1/3 untuk tabungan/ investasi/ usaha, dan 1/3 lagi untuk kepentingan umat. Sudahkah kita mengatur keuangan seperti ini? Kalau belum, alasannya banyak lagi: harga-harga meroket, banyak cicilan, UMR gak naik-naik.. boro-boro punya usaha.. buat makan saja susah. Boro-boro punya tabungan.. bayar listrik aja masih deg-degan. Bayar sekolah apalagi. 

Entah harus mulai dari mana. Siapakah yang harusnya memulai dulu ekonomi Islam? Umat atau pemerintah? Saat umat sudah berusaha aplikasikan ekonomi Islam ternyata dipersulit oleh pemerintah, misalnya soal ijin usaha yang prosedurnya berbelit-belit dan mahal. Modal habis untuk urusan ijin saja. Belum juga produknya laku. 

Lalu.. persoalan selera. Semua sudah ok.. modal, ijin, produk, sarana prasarana.. setelah produksi massal ternyata pasar tidak selera ? karena ada produk impor yang lebih bergengsi. Tetap saja jangan khawatir. Rejeki itu bukan gaji.

Sumber:

Media online

QS.Qashash 22, 77

QS. Abassa 33-41

Kemerdekaan RI dan Momen Asian Games 2018: Refleksi Seorang Perempuan

Bila kemerdekaan bagi perempuan adalah memutuskan sesuatu atas kehendaknya sendiri, maka pada tahun ini saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games: siapa sajakah yang patut berbangga atas kemerdekaan dirinya? Apakah perempuan Indonesia sudah mampu mengaplikasikan nilai-nilai sportivitas layaknya atlet dalam lapangan tanding?

Secara pribadi, di era digital ini saat menuangkan pikiran dalam status sosial media begitu mudah.. menjadi mempertanyakan apakah penulis status sosial media mampu menyejajarkan diri dengan para penulis buku di saat terjadi pelarangan buku (mulai sejak 1963 s.d 2011). Status sosmed yang saat ini seperti perpanjangangan media massa yang punya kekuatan pengaruh di masyarakat saat viral atau dilakukan serentak dengan tema sama. Misalnya pergerakan massa via online. Apakah mungkin?

Pertama, dari sisi kepribadian.. perempuan ekstrovert, introvert atau kepribadian antara keduanya punya cara sendiri dalam mengekspresikan dirinya pada dunia luar. Barangkali supaya lebih bisa diterima atau sekedar dimengerti. Sebab manusia lain cenderung takut pada suatu hal yang tak dikenalinya. Maka bagaimana mungkin bersosialisasi kalau dalam interaksi sudah ada jarak. Penyebabnya: prasangka. Prasangka lebih tumbuh subur di era digital kini karena ditegaskan oleh kata-kata dalam dunia maya. Pun dapat ditepis lewat kata-kata pula. Meski ada ungkapan picture says louder than words.. bagaimanapun kata-kata tetap punya peranan. Kalau tidak menyampaikan maksud/ rasa penasaran.., bagaimana mungkin orang lain dapat memahami diri kita? Kalaupun prasangka itu dapat dikuatkan atau ditepis.. pada akhirnya tergantung penilaian orang lain atas dasar like or dislike… Sebagaimana para cyber army berusaha membuat citra positif para calon pemimpin negeri ini. Utamanya jelang Pilpres 2019.

Kedua, penulis sosial media mendasarkan diri pada status~status pada timeline sosial medianya atau berita~berita online yang viral. Apakah perlu interview tokoh terkait sebuah isu? Tidak ada yang merasa perlu tuh. Karena sifatnya iseng… , sekedar turut ingin didengar.. turut berpartisipasi layaknya citizen journalist pun tak terlalu concern siapakah pembacanya? Sementara penulis “beneran” selain mengamati timeline, berita di media, juga punya referensi-referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana kalau penulis yang pengen dianggap beneran itu cuma ibu rumah tangga dalam real life? Komprehensifkah opini mereka? Tentu. Emak-emaklah yang paling memahami situasi negeri ini di tingkatan terendah sebuah lembaga: rumah tangga. Kita (gue.aja.kali?) sebagai ibu rumah tangga penjaga kehidupan bangsa ini.. penopang beratnya kehidupan saat sosial ekonomi terpuruk misalnya. Kitalah pijakan terendah bangsa Indonesia disaat pucuk pimpinan negeri ini berada di masa indah atau masa buruknya. Penjaga generasi adalah ibu. Ibu yang mencurahkan pikiran, emosi, tubuh dan jiwanya bak mentari tanpa pamrih. Patutkah kita sebagai ibu rumah tangga “dikubur hidup-hidup”? Apakah mau? Walau “hanya” opini kita yang dibungkam?

“Tenggelamkan!” jargonnya Menteri Susi cukup hanya berlaku bagi kapal-kapal asing yang mencuri ikan-ikan di lautan Indonesia. Tak perlu “tenggelamkan!” kami para ibu rumah tangga yang jauh dari akses pada kekuasaan.

SUARAKAN! Sesuai dengan konteksnya.. bukan sekedar ghibah apalagi fitnah. Maka nilai sportivitas atlit sudah hadir dalam keseharian kita. Event Asian Games 2018 bukan sekedar seremonial 4 tahunan bagi ibu-ibu tapi juga mengandung nilai yang dapat kita wariskan pada generasi bangsa ini. Bismillah…

(ratih karnelia kusumawardhani)

Masyarakat Tanpa Negara: Mungkinkah?

Baru saja baca buku tipis yang belum juga selesai dibaca.. sudah ingin komentari dengan tulisan ini. Sebuah tantangan untuk berbahagia walau berpolitik. Maksud buku ini memang politik praktis. Namun kehidupan orang tua (a.k.a dewasa) apapun bentuk hubungan yang dijalani rasanya terus berpolitik. Bukan dalam artian jahat, tapi mikir strategi ini itu. Ada teori-teori sosial yang menjelaskan soal ini sebetulnya. But kalo urusan politik dan bahagia yang dimaksud dalam buku ini bertentangan. Sebab politikus berkubang dalam hal-hal yang tidak membahagiakan: memikirkan peristiwa yang bahkan belum terjadi, memikirkan kemenangan setiap saat, mencari-cari kesalahan orang lain atau bahkan mengkambinghitamkan. Bagaimanapun bisa berbahagia jika berpolitik? Apalagi jelang Pilpres 2019.. semakin memanaslah hubungan sosial yang berbeda pilihan politik. Walau tak disengaja, kecenderungan pro kontra salah satu calon kadang muncul juga. Bahkan dalam obrolan sehari-hari.

Menariknya, politikus berbeda dengan negarawan walaupun berada dalam “arena” yang sama. Namun poli’tikus’ terdengar lebih kotor daripada negarawan yang heroik. Bila politikus masih ada.. politik tak mungkinlah dilirik ibu-ibu muda apalagi hidup di jaman Orde Baru yang menggambarkan kotornya politik dalam masa guling menggulingkan presiden dengan atau tanpa ‘kambing hitam’ (PKI or mahasiswa di Peristiwa Trisakti sebagai penyebab jatuhnya masa kepemimpinan orang nomer satu negeri ini). 

Masyarakat tak berpolitik bisakah yang berarti mandiri tanpa Negara? Barangkali karena alasan kotor itu maka menghindari si huruf “P”. Tapi tanpa politik dan negara, kita juga takkan menemukan tokoh2 negarawan yg legowo menyerahkan nafsu kuasa demi negeri tercinta, pengorbanan demi masy yg lbh byk drpd egonya. Ego kemenangan yg cenderung menghalalkan segala cara. 

Sebut saja ada masy tanpa negara.. tetap akan membesarkan anak2 yg hidup dalam sebuah kompleksitas kecuali dunia sepenuhnya serba mudah.. digital yang byk dikelola pihak swasta.. maka negara menjadi  kurang “peminat”. Buat apa byr pajak kalau fasilitas jalan, misalnya sudah lebih dulu dihandle pihak swasta sbg bentuk CSR mereka? Seperti banyak terjadi di pinggiran Indonesia yg didominasi perusahaan2 tambang. 

Maka pemerintah berpacu dengan inisiatif pihak2 swasta yang berkesadaran dengan pihak CSRnya. Semakin byk pihak swasta bermodal besar, pemerintah semakin byk berhutang demi mempertahankan negara ini dari “diambil alih secara halus” oleh perusahaan2 itu. Lalu.. bagaimana caranya tetap ada bangsa.. tetap ada negara di usia 73 tahun kemerdekaan ini bahkan nanti di usia ke 100 tahun? Apakah bendera pemersatu kita? Apakah sebutan NKRI? Bahasa? Pakaian? Fisik? Ras? Sosial ekonomi? Lagu kebangsaan? Public enemy? Presiden sebagai public enemy?

Silakan beropini… ?

Bom Surabaya 2018: Ironisnya Bulan Pendidikan

Ironisnya.. peristiwa teror dan bom terjadi di bulan Mei. Bulannya peringatan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Lantas.. menjadi pertanyaan mendasar saat ini: apa harapan dari sebuah lembaga pendidikan (keluarga dan sekolah)? 

Pertanyaan ini mudah saja jawabnya tapi mungkin ada banyak versi atas dasar pengalaman orang yang berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa pendidikan terbukti berhasil suatu saat nanti bila anak-anak dewasa bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya, mampu bersosialisasi dengan baik, atau memiliki banyak materi sebagai indikator sukses. Nah.. pelaku teror dan bom umumnya terbukti memiliki hampir seluruh kriteria berhasil sebuah lembaga pendidikan. Namun mengapa justru memilih untuk melakukan bom bunuh diri? 
 
Sumber Gambar: kompas
 
Pertama, pemahaman ideologi yang dianggap melenceng oleh masyarakat umum walau benar menurut golongannya. Bukan cuma ideologi atas nama agama Islam saja hal ini berlaku. Saya pernah ada obrolan dengan mereka yang mengaku atheis (walau lebih tepat agnostik) atau percaya ada kekuatan “The Universe” tapi tidak menjalankan ritual agama dalam keyakinannya. Mereka menganggap ritual agama percuma tanpa respect pada kehidupan sesama manusia. Meski.. dalam keseharian juga punya ritual non relijius (bangun tidur pada jam yang sama, sarapan, bekerja, bercengkrama dan lain sebagainya).. artinya tidak melakukan ritual agama bukan tidak bisa. Tapi karena tidak mau. Bukan tidak mampu tapi ada rasa angkuh dalam dirinya, tidak butuh menghamba pada Sang Kuasa. Ada juga yang mencontoh orang tuanya yang memang tidak mengajarkan ritual keagamaan tapi menekankan pentingnya hubungan baik antar sesama manusia, berhubungan setia pada satu pasangan, tidak memaksakan pemikiran atau cara hidup pada orang lain dan tidak melanggar hukum di negara tempat ia tinggal. 
 
Sumber Gambar: science daily
 
Kedua, menurut Al Quran.. ada orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai hawa nafsu mereka. Keyakinan pada hal non materi (ideologi) maupun materi (harta kekayaan) pada saat ini menjadi “Tuhan” baru yang senantiasa jadi tujuan akhir hidup manusia. Padahal Allah mengingatkan untuk jadikan Al Quran & Hadits sebagai pegangan dalam hidup di dunia sehingga bukan ideologi atau harta yang akan melimbungkan pikiran, hati dan emosi. Namun semua itu sekedar alat demi Allah semata. Ideologi yang baik akan mengarahkan manusia untuk berbuat baik, bermanfaat bagi orang lain, dan beribadah pada Allah SWT (maaf ini sesuai keyakinan saya sebab hanya ini yang saya tahu, bukan berarti memaksakan hal yang sama pada pembaca. Pun sebagai klarifikasi bahwa teror bukan berasal dari ajaran agama Islam). Harta yang baik dan banyak juga alat untuk hidup sesuai tuntunan-Nya.. ujung-ujungnya juga diniati ibadah walau dalam pemanfaatannya bisa beragam.  
 
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. SesungguhnyaAllah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash:77)
 
Simpulannya? Pendidikan bukan berarti menjadi sama dengan orang lain seluruhnya sebab tak mungkin menjadi pribadi seragam. Anak kembar saja memiliki keunikan sebagai seorang pribadi. Namun golnya adalah memenuhi standar tertentu yang diterima masyarakat walau tak mungkin juga tidak menjadi menyebalkan asalkan masih dalam kadar yang bisa diterima akal sehat, tidak sampai pada titik ekstrim berlebihan. Akui saja: setiap orang punya kecenderungan untuk menjadi menyebalkan, menjadi menggila pada situasi tertentu, tapi bisa kembali “normal” bila diingatkan. Kalau sudah pada titik ekstrim seperti bom Surabaya yang mengakibatkan 13 orang meninggal & 43 orang terluka, sudah diingatkan pun sulit kembali “normal”. Kejeniusan macam Stephen Hawking atau orang besar lainnya juga punya “kegilaan” karena pemikirannya out of the box. Namun “kegilaan”-nya masih bisa sesuai dengan logika umum serta dianggap tidak merusak. Walau “kegilaan” dan “kejeniusan” itu beda-beda tipis, selama tidak “berbuat kerusakan” maka masih bisa dianggap “normal”. Jadi seekstrim apapun ibadah atau dosa seorang manusia selama hal itu tidak “merusak” tatanan masyarakat, maka masih bisa diterima. Pengeboman adalah sesuatu yang tidak bisa diterima karena merusak, meresahkan, dan memakan korban jiwa. Disitulah fungsi keluarga dan sekolah (umum atau homeschooling atau online): ingatkan norma-norma, tidak merusak, dan mengakui hak-hak orang lain (walau berbeda dengan diri atau golongannya). 
 
Keyakinan pada kitab suci bukan lagi soal fiksi atau fiktif (bila bicara soal keyakinan), namun amal perbuatanlah yang membedakan seseorang benar atau salah, waktu dan amallah yang akan membuktikan kegilaan atau kejeniusannya. Adakah fungsi teror dan bom secara positif? Bisa jadi ada sebagai dukungan sebuah revolusi… (ratih karnelia)
 

Faith itu Pahit on Mei: May Day.. May Day.. May Daaayyy…!

Hiks! 

Kopi itu pahiiiit, Jendral!
Faith Coffee itu pahiiiittt..

Yup. Orang ke mesjid disiram air keras. Orang ke gereja dibom. Peristiwa di Mako Brimob. Peristiwa pengeboman tiga gereja di Surabaya. Suasana gelap. Hitam. Ngeri. Sedang terjadi didalam negeri.


Sumber Gambar: belimitless

 

Kalau jaman komunis: darah itu merah… Jendral!

Jaman now .. teroris: Faith itu pahiiittt…  , Jendral! 

Siapa dan apa itu teroris?! 

Mudah-mudahan bukan sebuah upaya untuk “menggeser” ideologi agama sebagai sebuah keyakinan demi sebuah agama baru. Entah… masa iya masa kedamaian hendak dijadikan masa kegelapan untuk rusuh! Seram! 

Biarpun foto keluarga pelaku yang (diduga) melakukan bom bunuh diri di Surabaya terlanjur tersebar … dan dari penampilannya sungguh sayang..terlihat santun serta merujuk pada gaya penampilan relijius agama Islam.. menjadi dugaan buruk pada Islam.

Sumber Gambar: quotes

Jika akhir dunia ini diduga akan berujung karena kehadiran “the black hole” teorinya Stephen Hawking.. apakah dunia sosial akan berujung pada “hitam atau gelap” juga?!

Kalau kebiasaan ngopi pada beberapa komunitas diartikan sebagai bentuk keakraban.. masa iya warna hitamnya berarti buruk: gelap dan pahit gegara peristiwa teror dan bom? 

Faith itu pahiiiit… tidaaaakkk!