Dr. Anna Sungkar: Dosen Seni Rupa dan Kurator Berkelas Dunia

Profil Singkat

Proses panjang dilalui oleh Dr. Anna Sungkar sebelum mewakili Indonesia ke jenjang internasional. Diawali dengan menempuh pendidikan S-1 dari Akuntansi Universitas Trisakti dan S-1 Fakultas Seni Rupa IKJ. Ia termasuk seorang perempuan yang pantang menyerah dan tidak cepat puas. Pendidikan formal ia lanjutkan ke jenjang S-2 Seni Urban dan Industri Budaya IKJ dan berhasil meraih gelar doktor di bidang Penciptaan Seni ISI Surakarta.

Sebagai kurator sejak 2019, menjadikan Anna semakin sibuk dalam dunia seni. Karya-karya maestro dikurasi olehnya. Salah satunya adalah Syakieb Sungkar, sang suami tercinta. Tak terhitung sudah pameran yang dikurasi olehnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia dalam bidang seni rupa dan perempuan.

Beberapa pameran yang seringkali menonjolkan sisi perempuan yang dikuratori oleh Dr. Anna Sungkar antara lain:

pameran bertajuk “Marwah” pada tahun 2023, Anna menggandeng 78 perempuan perupa dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke-78 RI yang digelar komunitas seni Art Pora dan Amuba;
pameran “Batik Dalam Dimensi Baru” pada tahun 2024 di Cemara 6 Galeri Cemara 6 Galeri, Jakarta (galeri yang didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty di tahun 1993) memamerkan lukisan batik kontemporer Tiarma Sirait;
pameran tunggal bertajuk “Pada Satu Titik”, di Hotel The Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, 17 Februari hingga 16 Maret 2025. Pameran Pada Satu Titik menampilkan esai atau tulisan empat kurator meliputi Agung Hujatnikajennong, Anna Sungkar, Citra Smara Dewi, dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Pameran Revoluta ini menawarkan energi-energi positif di tengah situasi hidup berbangsa yang sekarang sedang tidak baik-baik saja.

Pameran yang mengandung histori Indonesia di kancah internasional:

Indonesia Watercolor Summit (IWCS) menggelar pameran di dua kota sekaligus: Jakarta dan Bali.
Di Jakarta, pameran berlangsung di Museum Art:1 pada 31 Oktober─10 November 2025.
“Sebagai kurator, saya memandang pameran ini sebagai ajakan untuk berefleksi sekaligus bergerak. Renungkanlah, karena air dan potret menyediakan ruang untuk kontemplasi,” tutur Anna.
pameran ini menghadirkan partisipasi seniman dari enam negara:
Australia: Amie Dupuy
Kanada: Javid Tabai
Chile: Julia Camara
Iran: Sareh Mohebeian
Rusia: Eugeniya Kostikova, Maksim Mishin, Irina Kulemina, Natalia Pilipuk, Anastasia Petryaeva, Natalia Dmitrieva
Indonesia: Nanang Widjaja, Sitok Srengenge, Icka Gavrilla (Yogyakarta); Dony Hendro Wibowo (Semarang); Veynie Vokke (Surabaya); Nurul Ula Sayyidatunnisa (Bandung); Syakieb Sungkar (Jakarta).

Interview

Baru-baru ini Dr. Anna Sungkar melakukan kunjungan ke London, England.

Kapan waktu kunjungan tersebut dilakukan, tempat yang dikunjungi, dan tujuan kunjungan?

Kunjungan selama 2 minggu pada bulan Oktober – November. Ada 2 kota yang dikunjungi: London dan Glasgow. Kunjungan bertujuan untuk mengajar, melihat beberapa Museum, pameran, dan bersilaturahmi dengan para dosen di Universitas yang dikunjungi.

Apa saja materi yang Dr. Anna sampaikan di London?

Saya memberikan kuliah tentang seni rupa Indonesia, tradisi, batik, dan beberapa update tentang seni kontemporer.

Bagaimana tanggapan para mahasiswa dan warga London terhadap budaya Indonesia, khususnya batik?

Mereka sangat tertarik karena selain batik merupakan produk budaya yang eksotis, batik juga masih relevan dalam konteks budaya dan kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Seni rupa seperti apakah (dari Indonesia) yang mendapatkan apresiasi tinggi selain batik?

Seni rupa kontemporer Indonesia secara umum mendapat apresiasi karena dapat memberikan respon yang unik dan bahasa visual tersendiri ketika menghadapi dan merespon perkembangan masyarakat tempat ia berpijak.

Apakah seni rupa Indonesia memiliki pangsa pasar dan tempat khusus di London?
misalnya galeri khusus karya-karya seni dari Indonesia atau toko pernak pernik khas perajin Indonesia?

Pangsa pasar untuk karya-karya Indonesia potensinya besar. Namun perlu penggarapan yang serius apabila ingin menjadikan seni Indonesia dapat dikenal luas.

Apakah ada lembaga-lembaga kesenian yang mengenalkan budaya Indonesia disana yang dikelola secara khusus?
Jika ada dimana dan seni rupa seperti apa yang dikenal dan disukai tentang Indonesia?
Jika belum ada, kira-kira kendala seperti apa yang dihadapi para seniman yang ingin memperkenalkan
seni rupa khas Indonesia (seni murni/ desain/ batik) di London atau bahkan seluruh dunia?

Saat ini yang intens mengenalkan budaya Indonesia itu baru Pemerintah Indonesia melalui KBRI di London. Ada juga beberapa seniman yang secara mandiri berpameran di Inggris, seperti:
Seniman Bali Citra Sasmita — menggelar pameran solo pertamanya di Barbican, London. Melati Suryodarmo, Seniman performans Indonesia, pernah berpameran di Ikon Gallery. Ada juga ArtMoments Spot yang mempromosikan seniman Indonesia dalam pameran di Saatchi Gallery, London. Pernah juga ada Pameran seni kontemporer yang berjudul “Indonesia Eye: Fantasies & Realities”. Satu lagi, Tondi Utama Hasibuan, Pelukis Neo-kubis Indonesia, Tondi Utama Hasibuan, pernah berpameran di Candid Gallery, London. 

Apa saran dan solusi dari Dr. Anna Sungkar untuk mengatasi kendala yang dihadapi para seniman Indonesia agar mendunia?

Berkesenian adalah proses yang panjang. Seniman harus mempersiapkan dulu karya terbaiknya untuk dipamerkan di galeri. Tetapi itu belum cukup. Perlu promosi dan awarness dari media agar karya-karya kita dapat dikenal luas.

Di London, UK kita mengenal Bansky yang mendunia karena seni mural perlawanan terhadap ketidakadilan dalam isu-isu kemanusiaaan. Perwakilan seni perlawanan dari Indonesia yang juga mendunia my revolutionary art with beauty and naive from the family, the first of painting fisabilillah yang sudah dikenal di dunia persosmedan namun disuspend oleh pihak Instagram, padahal telah banyak dishare oleh para aktivis perdamaian dunia terutama isu perlawanan di Palestine dan isu social interest secara umum.

Bagaimana tanggapan Dr. Anna Sungkar soal upaya suspend akun sosial media yang mengusung seni perlawanan seperti karya-karya kami (IG: @keluarga_diwiryo dibanned sekarang menjadi @ratih_karnelia) dari Indonesia?

Media sosial bukan satu-satunya cara berpromosi. Ada cara lain, misalnya membangun komunitas, membentuk jaringan, masuk ke Art Fair dan Bienale, dapat membuat kita menjadi dikenal dan dihargai dunia seni rupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.