Tentang Buku: Rantai Tak Putus dan Khadijah

Suasana penuh sesak oleh buku dan orang-orang, dulu hanya bisa kunikmati di pasar buku atau perpustakaan di Bandung. Tempat itu menjadi saksi perjuangan masa-masa kuliah, mencari buku yang mudah dicari, kadang juga sulit dicari, sampai-sampai harus mencari dari ujung ke ujung. Itu jika ada buku-buku rekomendasi Ibu dan Bapak dosen di kampus. Saat sedang iseng, tempat itu menjadi tempat pelarian asyik. Buku-buku yang dibaca tak mesti dibeli lalu dibawa ke rumah. Jadi kumelatih ingatan, biar setibanya di rumah masih ingat poin-poin penting dari isi buku tersebut. Kubawa notes kecil untuk tulis judul buku, nama penulis, penerbit, tempat dan tahun terbit. Kini, suasana itu kembali kualami saat mengunjungi pameran buku BBW di ICE BSD. Berhubung kini tak sendiri lagi, anak-anak diingatkan untuk tetap berdekatan denganku, biar tak hilang atau diculik orang. Cuma sudah diingatkan pun, tetap saja sekali dua kali, satu atau dua dari empat anakku itu hilang dari pandangan. Bapaknya pun begitu, kadang tetiba menghilang. Padahal dua anak sudah berusaha diamankan duduk didalam trolley, aku pun berusaha tetap melirik memastikan dia tetap ada di sekitar. Sekarang pun tak bisa berlama-lama baca buku seperti dulu. Padahal banyak yang kuingin tahu. Soalnya buku-buku disana banyak juga yang masih disegel. Cuma beberapa buku memiliki sample yang dapat dibaca. Wah, pokoknya tak seperti dulu lagi pengalaman hunting buku. Lebih banyak cari buku anak-anak juga sih. Walaupun anak-anak sudah terpapar gadget, tetap ingin meningkatkan literasi mereka dengan cicil buku untuk sebuah perpustakaan kecil. Lagipula, anakku kan empat. Dijamin tak rugi, beli beberapa buku bisa buat adik-adiknya. Awet pula beberapa generasi.

Khadijah dan Rantai Tak Putus

Sumber: dok pribadi

Akhirnya, dari budget sekian, kudapat dua buku saja. Sisanya buku anak-anak… yeah this is the risk ofbeing mother! Buku pertama, buku tentang meneladani istri Nabi pertama: Khadijah. Buku kedua, Rantai Tak Putus-nya Dee Lestari. Berhubung aku lebih penasaran buku Dee Lestari, soalnya tentang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia, jadi kubaca buku itu duluan. Ternyata buku itu ditulis secara life history para pelaku UMKM bidang manufaktur dan hortikultura yang menjadi pilot atau percontohan dari Lembaga Pelatihan yang dibentuk oleh Astra di Jawa dan Kalimantan. Buku ini hasil pertemuan Dee Lestari dengan para pelaku UMKM dan fasilitator di lapangan, bukan sebuah riset panjang, buku ini sekedar menuliskan kembali cerita-cerita yang disampaikan oleh para tokoh tanpa ada keterlibatan penulis dalam menganalisis peristiwa-peristiwa. Penulis memang menggambarkan peristiwa masa lalu seperti ia pun mengalaminya sendiri. Buku ini memang ditujukan untuk deskripsi pencapaian-pencapaian Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) yang memanjangkan tangannya melalui Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) UMKM di daerah-daerah yang disampaikan bak cerita novel. Hal-hal menarik untuk disimak, tokoh utama yang berperan dalam hal ini bermula dari seorang William Soerjadjaya yang mulai membentuk Yayasan Toyota Astra pada tahun 1974, berawal dari karakternya yang senang berbagi sebagaimana disampaikan dalam buku biografi, Man of Honor karya Teguh Sri Pambudhi dan Edy Djatmiko (Gramedia Pustaka Utama). Pendampingan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) pada UMKM yang didirikan pada tahun 1980 melahirkan LPB merupakan upaya William Soeryadjaya dari Astra demi menyebarkan berkat kesuksesan Astra sebagai usaha otomotif di Indonesia. Secara implisit, Dee Lestari mengingatkan pembaca akan adanya kesalingan mata rantai ekonomi di Indonesia. Tanpa adanya rasa saling terpaut, ekonomi kita takkan mungkin berjalan dengan baik. Maka dua kelompok besar yang disebut cebong dan kadrun menjadi tidak relevan lagi dipertahankan keberadaannya. Baik perusahaan industri sebagai penopang UMKM maupun UMKM sebagai unit usaha.

UMKM 99,9% penyumbang PDB negara kita. Sejak masa kemerdekaannya, Pancasila menjadi dasar negara ini, mempersatukan berbagai perbedaan. Islam sebagai salah satu ideologi yang dianggap sebagai ideologi utama para kadrun pun sebetulnya tidak melarang bertransaksi ekonomi (atau dalam Bahasa Arab-nya bermuamalah) dengan berbagai macam bangsa, negara dan agama. Sempat ada isu-isu di akar rumput larangan membeli produk-produk kapitalis besar yang dianggap memerangi Islam (a.k.a Palestina). Perusahaan-perusahaan besar yang dianggap “memodali” peperangan. Lalu bagaimana dengan konteks situasi di Indonesia yang aman damai tentram sejahtera loh jinawi sejak dulu kala? Jelas ada upaya menghancurkan roda perekonomian bangsa dan negara kita, kalau bukan menggagalkan goal Indonesia menjadi negara maju.

Muslim sejati paham, tokoh utama mereka pun dari kalangan usahawan, saudagar pada jamannya. Nabi Muhammad SAW sejak muda berdagang hingga ke Negeri Syam, jauh sebelum masa kenabian beliau. Nabi Muhammad SAW menikahi Siti Khadijah, seorang perempuan keturunan Suku Quraisy dengan nasab mulia, pemimpin Suku Quraisy yang disegani. Nabi Muhammad SAW memberi mahar pernikahan 20 ekor unta untuk Siti Khadijah, setara milyaran rupiah saat ini. Maka tak ada alasan bagi muslim untuk mengisolasi diri ataupun memblokade non muslim dalam rantai perekonomian dalam negeri sendiri ataupun dalam roda perekonomian global.

Ada benang merah yang terjalin dalam liputan kami ke sebuah pameran seni budaya bertajuk “Bentang Bontang” di Sarinah dengan kedua buku ini: Rantai tak Putus dan Khadijah. Seolah ingin merangkum perbaikan mental bangsa dan negara ini dalam mengambil sikap terutama pasca pandemic yang menghibernasi para pelaku usaha. Sebagaimana disampaikan oleh Butet Kartaredjasa sebagai salah seorang penggagas dan seniman dalam “Bentang Bontang”, industri pun perlu dihumaniskan. Industri tak selalu menyimbolkan keserakahan. Pupuk Kaltim sebagai industri besar merangkul sekitarnya menjadi lebih manusiawi, sebagaimana tergambarkan dalam karya-karya seni yang tampil disana dan puisi-puisi yang menggambarkan berbagai keindahan yang terhampar di Bontang. Muslim, sebagaimana diberi teladan oleh para tokoh pendahulunya, seharusnya lebih fokus dalam perbaikan-perbaikan dalam diri sendiri dan hubungan suami istri dalam menjalani kehidupan. Terutama dalam usaha yang melibatkan hubungan saling dukung, diperlukan pondasi kuat dalam rumah tangga terkecil dahulu, yaitu keluarga sebelum melangkah lebih jauh ke tingkat nasional dan global.

Rantai Tak Putus pun memberi bumbu-bumbu cerita personal para pelaku UMKM saat memulai usaha sebelum mampu memberi kontribusi signifikan pada ekonomi negara ini. Demikian pula kisah-kisah pribadi para fasilitator mengingatkan pembaca soal kemanusiaan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan akhir yang sama: maju dan mandiri bersama. Sama sekali tak ada bahasan rasis. Kalaupun disebutkan daerah asal dan suku, lebih pada merunut alur kisah mereka. Lalu terjadi akulturasi dan asimilasi budaya karena mobilitas dan pernikahan mereka. Rantai Tak Putus menjadi pedoman awal bagi para ilmuwan sosial dan politik untuk lebih mendalami isu-isu yang diangkat supaya diadakan riset dengan rentang waktu cukup lama. Bukan sekedar kunjungan hitungan hari. Sebagaimana diharapkan dari ilmuwan sosial politik, riset dengan rentang waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan akan menjadi uraian yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga para pemangku kebijakan dapat lebih memberi kemudahan-kemudahan di daerah-daerah lain yang tak tersentuh Corporate Social Responsibility (CSR) atau Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) perusahan-perusahaan besar. Rantai Tak Putus, bukan cuma menyemangati para pelaku UMKM, tapi bagi para pemain baru untuk tidak berkecil hati. Bahwa pekerjaan bergengsi adalah berkantor di gedung tinggi berfasilitas mentereng dengan seragam keren. Usahawan manufaktur dapat menjadi pilihan pekerjaan sekeren pegawai kantoran, malah pendapatannya menjadi tak terhingga. Contohnya, seniman besi yang menerima pesanan dihargai mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 1 milyar. Bukankah ini menjanjikan? Petani pun, walau awalnya wajib siap tak untung dalam jangka waktu 2 tahun, bukan berarti langsung mundur, sebab bila berhasil, bukan satu orang yang sukses, satu desa kena imbas positifnya. Nilai-nilai kebaikan itu akan sejalan dimanapun diterapkan oleh siapapun orangnya. Rantai Tak Putus sempat menyangsikan keberhasilan para fasilitator yang masih muda-muda dalam mengadaptasi nilai-nilai seorang William Soerjadjaya karena faktor tempat dan waktu. Sebagaimana para muslim masa kini yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW yang hidup ribuan tahun silam di sebuah negeri bergurun pula, ternyata nilai-nilai kebaikan itu pun dapat tetap hidup. Kedisiplinan, keberanian dan kedermawanan insya Allah tetap hidup dan lestari.

Kopi Robusta

Sumber: dok Faith Coffee

Kata-kata tanpa pengalaman takkan berarti apapun, selama kita tetap berusaha dan berdoa, yakinlah pada akhir yang baik. Berbagai strategi perlu dicoba dan diterapkan, sebagaimana dituturkan para pilot UMKM dalam “Rantai Tak Putus”, pantang menyerah sebelum berhasil. Bila belum berhasil produknya, coba ganti, belajar terus pada ahlinya. Sambil menulis ini pun saya memotivasi diri sendiri dalam berusaha dan berdoa. Semoga anak-anakku, tetap terus semangat, bukan cuma ilmu dari orang-orang jauh yang masih hidup ataupun telah wafat terceritakan dalam buku, tapi mereka pun turut merasakan perjuangan hidup kedua orang tuanya dalam kehidupan nyata. Bagaimana memanage konflik dengan baik dan tetap produktif dalam situasi terburuk sekalipun. Chayoooo!

NB: O ya, seandainya Dee Lestari baca ini, susu lebih ampuh menghilangkan rasa pedas daripada air putih. Rasa pedas karena Cabai Hiyung sekalipun. Sponsor: Faith Coffee and Faith Dairy…
Sumber Rujukan:

Lestari, Dewi. 2020. Rantai Tak Putus. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Setyaningrum, Listiana. 2018. Khadijah: Teladan Istri Salihah Berbuah Jannah. Depok: Risalah Zaman.

 

(Ratih Karnelia Kusumawardhani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.