Momen Berpuisi dan Lukisan di Sarinah: Bentang Bontang

Sebuah pameran bertajuk “Bentang Bontang” diadakan di Sarinah sejak awal Desember hingga 10 Desember 2022. Gelaran pameran karya seni lukis ini merupakan kerjasama para seniman dan Pupuk Kaltim dalam rangka ulang tahun ke-45 Pupuk Kaltim. Pada tanggal 3 Desember 2022 pada pukul 14.00 WIB, kami meliput bedah buku antologi puisi: Entropi Bontang. Menarik untuk disimak kolaborasi antara penyair dan pelukis selama dua bulan di Bontang sehingga dapat menghasilkan karya-karya dalam pameran Bentang Bontang dan buku antologi puisi: Entropi Bontang. Dalam bedah buku tersebut dibahas soal apa kelebihan dan penyair, apa kelebihan pelukis serta kekurangan mereka. Sehingga kolaborasi karya itu dapat saling menonjolkan kelebihan masing-masing dan meminimalkan kekurangan mereka. Menurut Hasan, salah seorang penyair kala itu, berpuisi soal aktivitas melukis para seniman lukis merupakan sebuah situasi intim. Maka 10 puisi dalam jangka waktu dua bulan adalah sebuah tantangan tersendiri. Penyair tak memiliki kata-kata, namun mampu melukis kata-kata bak pelukis menggoreskan garis dan warna menjadi sebuah keindahan yang dapat kita nikmati bersama.

Bedah Buku “Entropi Bontang”

Sumber: dok pribadi

Puisi-puisi Indonesia banyak mengadopsi keberanian Chairil Anwar dalam mengolah kata. Keberanian yang dimaksud adalah penggambaran sesuatu dengan menafikan keberadaan itu. Misalnya soal laut, digambarkannya suasana laut, tapi laut ditiadakan karena perahu tak berlayar. Tipe puisi gigantis yang diusung Asrul Sani tanpa didefinisikan, tak menolak keindahan dan emosi, tapi unsur-unsur lain puitik juga harus disertakan. Bandingkan dengan puisi Chairil Anwar tentang laut. Ini kali tidak ada yang mencari cinta// di antara gudang, rumah tua, pada cerita//tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut//mengembus diri dalam mempercaya mau berpaut. Dalam puisi Chairil, kita merasakan keterlibatan penyair di dalam puisinya. Barangkali inilah yang dimaksud Asrul sebagai “emosi”. Sementara dalam puisi Asrul, ada kesan penyair membuat jarak. Sebagaimana yang dilakukan oleh Sanusi Pane dalam karya-karyanya, Sanusi banyak terinspirasi pada kejayaan Hindu-Buddha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya ini sampai pada sintesis Timur dan Barat, persatuan jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, serta idealisme dan materialisme yang tercermin dalam karyanya “Manusia Baru” yang terbit pada 1940.

Pelukis Nasirun

Sumber: dok pribadi

Setelah itu, pelukis Nasirun mempresentasikan pengetahuannya soal puisi. Ia mengutip puisi Affandi untuk istrinya. Soal cinta ataukah soal seseorang yang kita cintai ternyata sudah menjadi milik yang lain. Pengisi acara dan penonton tergelak. Kami pun melakukan wawancara singkat pada para pengunjung dan panitia acara dari Galeri Mojisa, Sarinah, Jakarta. Para pengunjung antusias untuk menikmati lukisan hasil karya seniman asli Indonesia di Sarinah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.