Oleh: Ratih Karnelia K, S.Sos

Jalan Menemukan Allah, Acrylic on canvass 100 x 80 cm, 2024
Sejak isu Palestina- Israel merebak pada tahun 2023, saya tidak fokus lagi menulis. Lalu sebuah isu menarik muncul saat Idul Adha 2026 ini, sosial media ramai dengan isu lama yang digoreng soal siapa yang dikorbankan oleh Ibrahim: Ismail atau Ishaq? Ismail identik dengan identitas Islam,sementara Ishaq identik dengan identitas Yahudi. Sebuah akun berprofil perempuan Arab berhijab (tidak dapat dipastikan apakah akun asli manusia atau palsu buatan AI). Oleh sebab bahasa yang digunakannya adalah Bahasa Indonesia, maka kita berasumsi bahwa penulisnya adalah orang Indonesia atau orang asing yang tinggal di Indonesia yang sudah fasih berbahasa Indonesia atau warga keturunan Arab-Indonesia yang entah tinggal dimana. Hal ini menjadi menarik sekaligus menyebalkan karena berbicara sejarah yang berasal dari wahyu Tuhan dapat ditulis ulang manusia. Argumentasinya: teks Al Quran tidak menyebutkan nama anak Ibrahim yang akan dikorbankan secara eksplisit. Maka ada tafsir soal itu. Menurutnya, sejarah Islam awal di Arab berbeda dengan sejarah buatan ulama Indonesia. Maka korban sembelihan itu seolah-olah disesuaikan dengan waktu dan tempat dimana Islam itu berada. Kitab suci itu bukan karya antropologis yang ditulis berdasarkan wawancara, pengamatan dan keterlibatan langsung penulisnya. Kitab suci itu diyakini kebenarannya karena iman akan keberadaan Allah SWT, Malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu dan Rasulullah Muhammad sebagai pemberi berita gembira dan peringatan pada manusia seluruh alam, segala jaman.
Iman, Islam dan Kemajuan
Sewaktu kuliah, saya pernah menuliskan sebuah essay tentang pilihan saya beragama Islam. Kini rasanya perlu menuliskan ulang dasar pilihan saya beragama Islam. Bagi kami sebagai muslim yang terlahir dalam keluarga muslim, menjadi orang Islam adalah soal kebiasaan yang akhirnya menjadi preferensi sadar karena alasan-alasan logis pada waktu remaja saat otak kognitif sudah mulai bekerja. Argumen ini bukan dalam rangka pemaksaan agama pada orang lain yang punya keyakinan berbeda. Dalam agama Islam, kami tidak boleh memaksakan keyakinan pada orang lain, namun boleh memakai sistem Islam yang akan mendatangkan kebaikan bagi sesama manusia, bagi alam semesta demi keseimbangan dan keteraturan.
Soal iman adalah persoalan hidayah. Hidayah diberikan oleh Allah SWT sebagai hak prerogative-Nya. Ia menunjuki orang untuk berjalan di atas jalan yang lurus. Ia yang membolak-balikkan hati. Saya sebagai manusia yang tidak selalu berlabel positif ini hanya sharing apa yang saya alami sebagai seorang pribadi di tengah ruang publik yang heterogen. Maksudnya, sekali lagi, bukan memaksakan kehendak apalagi memaksakan keimanan pada orang lain. Sedangkan berusaha menerapkan sistem itu bagian dari keimanan saya sebagai muslim. Saya berdosa jika tidak menjalankan system itu di tengah masyarakat. Contohnya, berbagi ilmu, berbagi harta sesuai ketentuan yang ada dalam agama Islam seperti zakat, infaq, shodaqoh, ataupun wakaf tanpa memilih penerimanya, ataupun mengkhususkan penerimanya “hanya” sesama muslim saja. Agama ini rahmatan lil alamiin, seharusnya memang menjadi rahmat bagi semua, bukan saja bagi orang-orang yang satu keyakinan. Namun kini, sejak isu perang Palestina-Israel, seolah ada jarak diantara kita yang pro kontra Palestina- Israel. Baik dari kalangan muslim ataupun non muslim, interaksinya agak berbeda dari sebelumnya. Isu itu tidak menjadi bahasan dalam obrolan sehari-hari. Namun menjadikan hubungan sosial jadi awkward.
Pilihan untuk memilih agama apakah sama dengan soal selera memilih merk coklat? Memilih satu diantara banyak pilihan merk sesuai selera? Bagi saya, itu soal cinta yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pilihan itu menjadi sulit pada saat memilih satu diantara dua pilihan: dunia atau akhirat? Dunia dipilih seharusnya sesuai kadar kecukupan saja,sedangkan akhirat itu dipilih bukan selalu karena alasan-alasan logis. Jika ingat kematian itu begitu dekat, tentu pilihan beramal hari ini sebagai tabungan akhirat itu menjadi logis. Kematian ibu saat saya kecil, memang menjadikan saya lebih sadar akan adanya hidup setelah kematian lebih cepat daripada teman-teman seusia. Saya juga lebih puitis dari sebelumnya. Ibulah yang mengajarkan saya menulis jurnal harian (diary) sejak umur 8 tahun. Ia sepertinya tahu bahwa sikap saya sebagai seorang perempuan seringkali akan disalahpahami. Bukan soal benar atau salah. Hanya akan lebih sering disalahpahami. Tulisan menata pikiran saya menjadi lebih runtut, membereskan kekacauan yang tidak dipahami oleh diri sendiri ataupun oleh orang lain.
Sementara lukisan, upaya saya memvisualkan apa yang saya lihat saat kecil jika lampu dipadamkan. Ibu saya dulu ketakutan kalau saya cerita apa saja yang saya lihat. FYI, dulu saat kecil pindah beberapa kali sampai akhirnya kami sekeluarga tinggal di rumah yang dibangun orang tua di atas tanah yang dikelilingi sawah. Listrik belum masuk desa. Penerangan masih pakai lilin. Jalanan masih tanah.Lalu perubahan datang tanpa tanya-tanya dulu kesiapan kita sebagai manusia.Sama seperti kematian ibu. Perubahan bangunan di sekitar seolah mencabut unsur-unsur alamiah dalam diri saya menjadi lebih kaku, sekaku beton jalan tol, sekeras jalanan aspal. Bahasa-bahasa yang dulu begitu akrab: ramah tamah, kebersamaan, lama-lama jadi asing karena manusia-manusia disekeliling saya menjadi lebih cepat. Lebih sibuk. Kendaraan delman atau becak tergantikan sepeda, motor, mobil. Suasana pagi yang berembun, dingin dan sunyi berubah menjadi terang buatan karena lampu-lampu jalanan…,lampu-lampu motor, mobil…,begitu berisik dan merangsek. Memaksa diri ini menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Buku menjadi pelarian. Sebab teman pergi dan pulang sekolah jalan kaki untuk diajak ngobrol sekarang sudah berkendaraan sendiri-sendiri. Orang tuaku juga punya kendaraan mobil sendiri untuk pergi ke tempat wisata atau rumah-rumah saudara saat libur tiba. Ada kebanggan ketika rumah lama direnovasi, dan ketika orang tuaku bisa beli mobil-mobil yang belum umum saat itu. Tapi juga muncul kesedihan luar biasa yang tak bisa kujelaskan hingga kini. Barangkali karena sikapku sendiri yang berubah. Ada perubahan perilaku di sekeliling yang jadi aneh: tiba-tiba dingin, berjarak, jarang ada lagi canda tawa…, akupun jadi lebih memilih diam. Thank God punya kesempatan untuk belajar agama mandiri dan banyak baca buku, sedikit demi sedikit aku jadi paham pada perubahan di sekitar. Apa yang sedang terjadi ini disebut: pembangunan demi kemajuan negeri ini. Walau hal-hal yang kutahu justru berkebalikan dengan makna maju itu sendiri: sawah-sawah kakek moyang menghilang diganti rumah-rumah keluarga dan mobil-mobil baru yang kinclong dan wangi. Namun, semakin banyaknya perubahan material disekitarku, semakin sedih aku melihat perubahan sikap orang-orang di sekitarku. Ini bukan ucapan tidak bersyukur. Ini adalah ungkapan anomaly yang hingga kini tak kumengerti. Barangkali ada yang mau bantu menjelaskan? Makanya aku agak heran saat anak-anak muda sekarang belajar demi sukses dan maju. Sukses dan maju supaya apa? Supaya kamu bisa merasakan kehilangan dan kematian orang-orang tercinta satu demi satu bukan karena kemajuan itu, tapi karena memang waktu dan takdir. Namun entah mengapa, kamu akan menyalahkan kemajuan itu sebagai sebab kehilangan dan kematian mereka. Barangkali karena lelahnya fisik yang tidak ditopang oleh kebersamaaan yang penuh canda tawa seperti dulu saat berkumpul di pinggir sungai dikelilingi sawah sambil makan menu sederhana bersama saja terasa begitu istimewa? Mengapa rasanya kini malah terasa menyesakkan, saat perubahan yang disebut maju canggih dan modern itu datang? Kebanggaan itu kini berubah menjadi banyak pertanyaan? Mengapa pencapaian itu menjadi tidak cukup? Atau justru berlebihan bagi orang lain?! Saya bukan anti pembangunan, bukan anti modernisasi pula. Hanya mempertanyakan apa yang hilang?
Pareumeun obor. Sebuah istilah orang Sunda untuk menggambarkan hilangnya lagi kedekatan antar anggota keluarga. Bahkan bisa dikatakan tidak lagi saling mengenal. Oleh banyak sebab: masing-masing sibuk mengejar apa yang disebut maju itu. Masing-masing sibuk merantau. Bagi orang yang tidak paham, kemajuan itu, ada kalanya perlu ditingalkan untuk kita kembali ke tempat asal, kembali ke alam. Sementara bagi kami, kembali kemana? Semua yang seharusnya menjadi tempat pulang sudah lenyap. Tidak ada lagi yang bisa dirawat untuk kembali pulang, kecuali orang tua. Tanah yang seharusnya bisa untuk digarap tidak ada lagi. Kalaupuan masih ada, hasilnya takkan bisa masuk akal dengan modernitas. Berlelah-lelah untuk sesuatu yang tidak bisa diprediksi hasilnya, itu tidak sesuai dengan logika “kemajuan”. Maka kini, sebagai ibu, haruskah aku mengharapkan”kemajuan” bagi anak-anakku? Sukses iya. Sebab sukses itu relatif bagi tiap orang. Namun kemajuan rasanya menjadi menakutkan. Terutama jika realita itu tidak selalu sesuai harapan. Ibarat fatamorgana. Kemajuan yang diidamkan itu terlihat begitu indah dari jauh. Namun begitu dekat, terasa fana-nya. Saat itulah aku bersyukur tidak menjadi gila ditengah chaos-nya rasa sebagai manusia yang masih mencintai tradisi (masih ingin tahu pamali atau Bahasa kerennya do’s and don’ts di setiap daerah yang dikunjungi) di sisi lain punya iman yang terasa lebih match dengan kemajuan. Lalu ilmu-ilmu lain yang rasanya tidak pernah cukup untuk bersaing dengan anak-anak jaman now yang ilmu pengetahuannya jauh lebih wow. Namun ada kelegaan untuk bisa mengantarkan anak-anak tahu ilmu-ilmu yang pernah kupelajari juga. Walau masa depan itu misteri dan kemajuan terasa menakutkan, beragama Islam menyadarkan saya untuk relate dengan perjuangan kisah para Nabi terdahulu. Bahwa selama manusia mengalami penderitaan terberat pun, akan selalu ada jalan keluar. Sebab Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa takkan diam. Bahwa IA takkan membebani kita dengan sesuatu yang takkan mampu kita tanggung. Jika kemajuan itu datang kembali dengan bentuknya yang lain, ia akan terasa normal jika dibarengi dengan iman dan takwa. Penjelasan akan pilihan kita beriman dan bertakwa lalu menjalankan agama ini dalam kehidupan sehari-hari, hampir selalu disertai dengan dalil yang jelas dari Al Quran dan Hadits.
Mengapa beragama lalu yang dipilih itu Agama Islam? Pada pertengahan ayat QS.Al Maidah ayat 3, terdapat kalimat monumental yang berbunyi: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” Ayat ini turun sebagai penutup atas risalah kenabian. Hal ini berarti seluruh syariat, hukum, aturan halal-haram, dan tata cara ibadah telah ditetapkan secara paripurna oleh Allah SWT, sehingga tidak ada lagi penambahan atau pengurangan pokok ajaran agama. Islam menjadi satu-satunya agama yang diridai oleh Allah.
Wahyu bukan karya Antropologis Muhammad
Muslim meyakini peristiwa penerimaan wahyu Nabi dan Rasul Muhammad di Gua Hira sebagai jawaban pada kejahiliyahan masyarakat Arab saat itu dengan solusi yang masih dan akan selalu relevan dengan masa depan. Muhammad dibimbing oleh Malaikat Jibril untuk membaca ayat-ayat berulang-ulang. Hal ini adalah sesuatu yang ghaib. Penerimaannya sebagai kebenaran tidak cukup hanya logis sehingga diterima oleh akal. Namun ia menjadi ujian bagi manusia akan keniscayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai entitas yang Maha Segalanya. Ia berbeda dengan makhluk, namun sifat-sifat-Nya dapat dikenali dan dipahami oleh manusia tak berpendidikan sekalipun. Pada masa itu, Nabi Muhammad tidak bisa baca tulis. Berdasarkan sejarah, kecerdasan dan kejujurannya diakui oleh masyarakat Arab saat itu. Sekalipun diakui cerdas, ia takkan mampu membuat karya fenomenal sekelas Al Quran. Sebab Al Quran bukan hanya mengisahkan peristiwa-peristiwa lampau kisah-kisah Nabi. Namun juga prediksi peristiwa-peristiwa lintas waktu dan tempat. Tata bahasa dan strukturnya pun unik. Tak mungkin manusia, bahkan manusia secerdas dan sejujur Nabi Muhammad yang menuliskan berdasarkan karangannya semata. Ilmuwan, ulama dari jaman dulu hingga saat ini pun mengakui. Lalu kita siapa yang berani meragukan kebenaran Al Quran?
Tafsir Al Quran Bukan Refleksi Pribadi Ulama
Oleh sebab Al Quran itu unik, maka perlu dibuatkan tafsir sebagai jawaban dari kebingungan orang-orang yang tidak paham. Ketidakpahaman ini berusaha dibahasakan dengan ”Bahasa Manusia” dengan Bahasa yang berbeda. Namun bukan berarti tafsir itu boleh terjun bebas terlepas dari tafsir ulama-ulama terdahulu ataupun tak relate dengan sejarah yang telah lebih dulu ada, ada asbabun nuzul dalam memahami konteks sebab turunnya ayat. Seandainya ada sharing pengalaman, itu sekedar refleksi atas apa yang menjadi concern ulama yang bersangkutan. Misalnya Prof. Quraish Shihab banyak berbicara soal keimanan pribadi dan masalah kebangsaan. Ia menuliskannya secara general pada setiap persoalan masyarakat sehingga muncul solusi yang mudah tapi tidak menggampangkan masalah kenegaraan. Tulisan-tulisannya terkumpul dalam buku Lentera Hati terbitan PT. Mizan Pustaka tahun 1994. Lalu tafsir Al Mishbah yang berjilid-jilid diterbitkan Lentera Hati pada tahun 2002. Sementara itu, Ustadz Aam Amiruddin, M.Si lebih banyak bicara soal rumah tangga, ada pula tafsir Quran bersama istrinya termuat dalam tabloid “Percikan Iman” secara berkala. Adapun tafsir yang saya baca, terbitan Percikan Iman pada periode tahun 2005-2008.
Simpulan
Para ulama yang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun begitu berhati-hati saat menuliskan tafsir Al Quran. Melepaskan ego pribadi dalam setiap tafsirnya agar setiap wahyu sesuai dengan konteks Sang Pemberi Wahyu namun juga dapat diterapkan sehingga agama sejatinya menjadi panduan hidup yang nyata. Bukan sekedar kumpulan kata-kata Arab dalam buku yang berdebu disimpan di rak-rak buku peradaban manusia. Maka begitu disayangkan menurut saya, ada sebuah akun yang bebas menuliskan status di FB tanpa ada sensor ataupun merujuk pada kebenaran. Padahal tafsir Arab masa lampau maupun tafsir kekinian semua sepakat, anak Ibrahim yang dikorbankan itu adalah Ismail. Apakah maksud dari pemilik akun yang disebut di awal tulisan ini untuk membuka diskusi agar terbuka kebenaran? Ataukah justru diam-diam berusaha menggerogoti keimanan dengan terlalu banyak pertanyaan pada ranah iman. Ranah yang bukan lagi tugas akal untuk menjawab. Untuk sementara belum ada lembaga sensor konten sosial media, maka kita sebagai orang tua muslim wajib proteksi anak-anak dari banyak membaca informasi bebas gelar tanpa dasar di sosial media. Wajib baca sumbernya langsung dari Al Quran dan Hadist serta buku-buku ulama terpercaya dan mengikuti kajian-kajian keagamaan. Kemajuan teknologi bukan berarti kita diperbolehkan bebas beriman dan berpikir sesuai dengan standar kemajuan yang ditentukan oleh mesin. Wallahu’alam… (rkk)
