Kuda

Saat searching di net soal siapa yang lebih cerdas antara kuda atau kucing? Muncul jawaban: “mana yang lebih cerdas anjing daripada kucing?” Padahal yang kuingin tahu kuda dan kucing, bukan anjing dan kucing. Jadi belum ada jawaban yang pasti soal siapa yang lebih cerdas: kuda atau kucing. Hal yang kutemukan jawabannya, justru ini: “kuda pada saat hampir garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, jangan sampai kuda lebih cerdas daripada anda!” Sungguh menohok! Malah kuda dibandingkan dengan anda. Sungguh menyebalkan, bukan? Jadi pagi ini, aku menarik simpulan, mesin pencari memang tak lebih cerdas daripada kita. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum dapat terjawab olehnya, kecuali saat mencari kuda pacu juara, muncul berita menarik dari Tempo tertanggal 10 November 2022:

Ketika olahraga lain mengendur karena pukulan pandemi virus corona, tak demikian dengan pacuan kuda. Peredaran uang masih tetap kencang di kalangan peminat kuda balap dunia. Hal itu bisa tergambar dalam lelang kuda pacu yang dilakukan Fasig-Tipton, bertajuk Night of the Stars di Keeneland, Lexington, Kentucky, Amerika, 8 November 2020. Ada 142 kuda terjual dengan nilai lelang mencapai 60 juta pound sterling (Rp 1,2 triliun). Primadona dalam lelang itu adalah Monomoy Girl, yang menjadi pemenang Breeders ‘Cup Longines Distaff. Kuda cantik itu terjual dengan harga 7,2 juta pounds (Rp 134 miliar). Monomoy Girl dilelang dalam kondisi unik. Ia masih akan terus balapan selama satu tahun lagi sebelum pensiun untuk dijadikan indukan. Yang menarik, harga tinggi Monomoy Girl bukanlah rekor di arena lelang kuda pacu. Posisinya hanya berada di urutan ketiga.

 

Monomoy Girl

Sumber: elitraces

Olahraga kuda memang hobi yang mahal, sedikit orang mampu menjadi joki dan mengikuti berbagai kejuaraan kuda. Namun, bagi para perempuan Indonesia, ada juga yang menjadikan berkuda sebagai hobi karena hal itu merupakan anjuran Nabi Muhammad SAW. Siapakah mereka? Mereka justru para perempuan berjilbab lebar dan berniqab. Sebagaimana diberitakan oleh BBC:

Salah seorang perempuan berniqab adalah Janariyah. Perempuan berusia 19 tahun itu sebelumnya tidak pernah menunggang kuda, namun dengan niqabnya yang berwarna hitam dia pun naik ke punggung kuda. Pendiri ‘Pasukan Niqab’ adalah Indadari Mindrayanti, yang pada tahun 2016 lalu memutuskan untuk mulai mengenakan niqab dari jilbab yang sebelumnya dia pakai.

Perempuan berusia 34 tahun yang sudah dua kali bercerai ini melihat niqab lebih saleh. Meski demikian, keputusannya tidak diterima keluarga. Orang-orang di jalanan yang berpapasan dengannya juga sering kali memberi ‘pandangan aneh’. “Susah mengharapkan orang untuk berbicara dengan Anda. Mereka tampak seperti ketakutan,” katanya di salah satu masjid di Jakarta.

Kuda Emas Milik Rasulullah SAW

Sumber: insight.co.kr

Jadi jangan dikira kuda ekslusif milik kaum konglomerat, para perempuan pun bisa menunggang kuda. Mereka pun para perempuan berniqab yang seringkali dikira teroris. Padahal sebagaimana kita yang tak berhijab dan berniqab, mereka pun punya hobi. Bahkan hobinya unik, sekelas dengan hobi para konglomerat. Walau tak ikut pacuan kuda yang ada unsur judinya ya sebagaimana dilakukan oleh para konglomerat dunia itu. Tapi menunggang kuda itu jelas membutuhkan skill, soalnya kuda termasuk binatang yang sensitif dan dia dapat mengenali emosi manusia seperti juga anjing dan kucing sebagai dua binatang yang paling dekat dengan manusia. Jadi kuda tak mudah dikendalikan bila penunggangnya tak bisa bersikap lembut dan tegas pada saat bersamaan.

Orang Indonesia lain juga beruntung masih bisa menunggang kuda, karena di beberapa tempat wisata disediakan kuda untuk disewa. Harga sewanya relatif murah. Lagipula, kita mengunjungi kawasan wisata juga tidak setiap hari, bukan? Saat ini, isu pandemic sudah mulai memudar seiring dengan banyak event di dalam maupun luar negeri. Event G20, Piala Dunia 2022 begitu menyedot penonton dari berbagai belahan dunia. Harapan banyak orang, tahun 2023 status pandemic dicabut di seluruh dunia. Namun, berita terkini justru semakin menakut-nakuti, gejala Covid 19 seperti penyakit HIV?!

“Beberapa gejala infeksi oportunistik yang di paru menyerupai COVID 19 itu, contohnya Pneumocystis pneumonia (PCP), Cytomegalovirus (CMV) di paru, jamur di paru jadi dikiranya Covid 19 tapi ternyata nafasnya sesak karena infeksi oportunistik,”

Tak usah panik dulu, karena data dan fakta berbicara, adanya penurunan angka aktif COVID 19 sebagaimana kutipan berikut:

Juru Bicara Vaksinasi COVI-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, bahwa angka aktif COVID-19 mengalami penurunan sejak Februari lalu. Bahkan, angka kesembuhan yang dialami oleh pengidap COVID-19 di beberapa rumah sakit juga terus menunjukkan angka peningkatan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom, meskipun saat ini masih berada di dalam masa pandemi, tetapi akhir dari pandemi sudah di depan mata. 

Ada beberapa alasan yang bisa membuat kasus aktif COVID-19 mengalami penurunan, seperti penanganan yang dilakukan pemerintah sudah tepat sasaran dan proses pemberian vaksinasi pada masyarakat Indonesia yang terus meningkat.

Tedros Adhanom juga memberikan pernyataan bahwa pemberian vaksinasi dan pengobatan, seperti terapi yang digunakan untuk proses penyembuhan membuat angka kematian mengalami penurunan. Bahkan menurutnya, kematian angka COVID-19 secara menyeluruh pada minggu lalu adalah angka kematian yang paling rendah sejak Maret 2020.

Namun, Tedros Adhanom kembali mengingatkan kepada seluruh negara untuk tetap menjaga ketat penanganan COVID-19 dengan menjaga pasokan peralatan dan petugas medis yang memadai.

Bila status pandemic sudah benar-benar dicabut oleh pihak WHO yang artinya juga akan diikuti oleh pemerintah seluruh dunia, maka kita bisa berkumpul kembali dengan kuda. Maksudnya, kita dapat Kembali mengunjungi tempat-tempat wisata untuk menunggang kuda. (nona)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.