
Sumber Gambar: psychotherapy.central
31 Maret 2023
Hidup Berfaedah Terbatas Usia
Setelah diamat-amati, baik itu secara langsung maupun melalui tontonan selama puluhan tahun, sebagai pemirsa menyadari adanya perbedaan mendasar antara tayangan khas Asia dan Amerika. Kecenderungan kita sebagai Orang Asia adalah untuk hidup berfaedah, entah itu sebagai single ataupun berkeluarga. Sedangkan Orang Amerika (Hollywood) lebih suka kesenangan sesaat dan kekerasan sebagai solusi berbagai masalah. Namun hal ini dibantah oleh orang-orang Amerika anti Hollywood (yang ternyata ada di dunia ini. LOL). Kehidupan orang barat yang digambarkan Hollywood sungguh berbeda dengan budaya asli mereka. Stereotipe bule yang suka bersenang-senang, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, jorok karena tidak suka mandi, pakai sepatu di dalam rumah bahkan dipakai ke atas tempat tidur. Ternyata tidak sesuai dengan budaya asli mereka yang bersih, ramah, argumentatif ketimbang pakai otot, dan mandi dua kali sehari (saat sedang ada di Indonesia). Mereka pun surprise dengan keberadaan orang Asia yang berbeda dengan stereotipe bayangan mereka. Mereka kira, orang Asia itu syuuusaaah bener dah, bahkan untuk berbicara. Ternyata desa-desa yang ada di pelosok (Indonesia) jauh lebih baik, orang-orangnya ceriwis, sama sekali bukan penganut budaya diam. Kondisi lingkungannya bahkan dianggap sebagai “kota” karena infrastruktur (kecuali jalanan yang seringkali bolong disana sini), kebutuhan sandang pangan papan terlihat mewah bagi mereka karena fresh, bersih, baru, rumahnya muat orang banyak. Budaya orang-orangnya pun tidak semalas yang mereka pikirkan. Tentu saja, kita kan rajin-rajin, bangun pagi untuk kerja entah itu di ladang atau di pasar, pekerja kantoran juga berangkat pagi-pagi, guru berangkat pagi, pedagang buka toko pagi-pagi, ibu-ibu sibuk sejak pagi… Setiap anggota masyarakat bergegas menjemput rejeki, apapun peran keseharian mereka sejak matahari belum terbit hingga terbenam (Desa Slabing, Kaltim pada tahun 2011-2012). Orang malas dalam satu desa itu bisa dihitung dengan jari. Maka muncul keheranan mereka, bagaimana mungkin Negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang (sedang mau maju) padahal sebuah desa yang berjarak 14 jam dari Kota Balikpapan saja, kondisinya sama sekali tidak memprihatinkan, justru terbilang sejahtera? Soal listrik yang hanya nyala di malam hari bukan menjadi alasan ketidaksejahteraan, justru dianggap sebagai upaya save energy, love the earth. Lagipula, setiap kegiatan masyarakat tetap berjalan dengan normal.

Sumber Gambar: therapydave
Konsep sosial dalam proses menjadi ini disebut resilience. Menurut kamus Oxford, resilience adalah kapasitas seseorang untuk melampaui kesulitan, ketangguhan untuk kembali ke bentuk semula setelah melalui berbagai macam hambatan yang menghancurkan diri atau institusi. Maka sebagai seorang pribadi, ketangguhan kita diuji dengan berbagai hal. Utamanya isu pandemi yang menghancurkan hampir seluruh umat manusia di setiap belahan bumi ini. Upaya untuk mencapai suatu tujuan, tetap berjuang memperolehnya. Resilience dapat membebaskan diri dari kondisi burnout. Burnout sebagai kondisi mental, fisik dan emosional karena kelelahan. Lelah karena tidak dapat menggapai nilai sempurna di mata orang-orang sekitar yang tuntutannya tinggi. Segala hal yang kita lakukan selalu dianggap kurang baik, kurang bagus, kurang banyak dan berbagai kekurangan lainnya. Standar tinggi yang diterapkan hanya dapat dicapai orang-orang tertentu saja (a.k.a inner circle mereka saja). Lalu kita jadi bertanya-tanya: bagaimana lagi usaha saya yang patut? Setelah berusaha sebaik mungkin, satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah berserah diri hingga nyawa dikembalikan pada Sang Pencipta. Dalam konteks sosial, jika kondisi kita tertolak, lebih baik menjauh. Barangkali we are not belong there. Upaya apapun akan selalu dianggap buruk bila kita tak dianggap pantas sebagai anggota komunitas/ keluarga/ masyarakat tertentu. Ya sudah… kita cari faedah diri kita bagi orang lain saja pada ruang-ruang yang mau dan mampu menerima kita.
Kemarahan massa di Perancis soal kerja, sepertinya menunjukkan pada kita sebagai Orang Asia, bahwa manusia barat pun dapat lelah hayati jika bekerja melebihi batasan usia. Sebagaimana Reuters melaporkan yang dikutip oleh CNN Indonesia, ratusan orang berunjuk rasa pada 28 Maret 2023 di kota-kota Prancis, seperti Rennes, Bordeaux, Toulouse, dan Nantes. Mereka berunjuk rasa setelah pemerintah menolak permintaan serikat pekerja untuk menangguhkan dan mempertimbangkan kembali RUU soal usia pensiun pekerja yang ditambah dua tahun menjadi 64 tahun. Para warga lantas marah dan mendesak pemerintah mencari jalan keluar lain untuk mengatasi krisis. Dilaporkan dalam CNBC Indonesia, 740.000 orang turun ke jalan sementara 13.000 aparat dikerahkan “mengepungnya” secara nasional. Kemarahan warga atas reformasi pensiun Presiden Emmanuel Macron, salah satunya menaikkan pensiun dari 62 tahun menjadi 64 tahun, telah memicu krisis domestik besar di Prancis. Ini merupakan demo kesepuluh sejak Januari. Selama ini kan, Orang Eropa digambarkan sebagai manusia-manusia unggul yang rajin bekerja tak kenal lelah. Ternyata peristiwa itu menyadarkan kita bahwa manusia pada hakikatnya sama. Punya potensi untuk tangguh, pun bisa lelah hayati bila beban kehidupan terlalu berat. Digempur aksi-aksi flexing pula, baik secara online maupun offline, aksi-aksi menurunkan harga diri bagi penontonnya. Muncullah people power untuk melawan kebijakan yang dirasa memberatkan itu.
Perbedaan budaya dan ras tak menjadikan manusia kehilangan hakikat dan fitrahnya sebagai makhluk. Manusia dimanapun berada perlu diajak melakukan kebaikan untuk melihat dengan jelas keindahan dunia, kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang terepresentasikan melalui kebaikan-kebaikan sesama manusia. Sebagai manusia yang tujuan hidupnya berfaedah, tentu kita tak mau dijadikan sarana komersil terus menerus, semua ada batasan toleransinya. Kita tak memungkiri, masih memerlukan materi untuk hidup di dunia yang fana dan penuh dengan unsur material ini. Namun, keterbatasan pikiran dan tenaga karena usia akan memunculkan kemarahan, kondisi burnout karena dipaksakan terus bekerja melampaui kemampuan dan kemauannya. Manusia bukan robot, manusia memiliki pilihan sesuai keyakinannya. Yakinlah, perbuatan baik kita akan ada balasannya, entah itu di dunia ataupun di akhirat kelak. Demikian sebaliknya, perbuatan jahat pun ada balasannya, di dunia atau di akhirat nanti. Berhenti mengeluh, mari kembali bekerja! (Sebelum usia pensiun target pribadi anda).

Sumber Gambar: CNNIndonesia
Hidup Berfaedah Terbatas Kebijakan
Profesi atlet punya rentang waktu keemasan pendek, bisa dibilang terbatas usia. Namun kali ini hidup berfaedahnya bukan cuma karena usia, tapi juga terbatasi kebijakan. Bagaimana bisa? Hal ini terjadi saat adanya pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 yang terjadi baru-baru ini. Para atlet yang telah mempersiapkan diri untuk tampil di negeri sendiri meluapkan kekecewaannya. Utamanya pada IG Ganjar Pranowo yang didukung ratusan ribu komentar kecewa pada pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah pada Bulan Mei mendatang. Mengapa Ganjar Pranowo (GP) yang jadi sasaran? Soalnya GP membawa-bawa isu Israel sebagai penjajah Palestina, sebagai bentuk solidaritas sesama negara muslim, maka Israel ditolak untuk bermain Piala Dunia U-20 di Indonesia. Apakah tidak ada solusi lain? Misalnya, grup Israel bermain di negara Asia Tenggara lainnya, sebagaimana rencana Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di 3 negara (Amerika Kanada Meksiko). Jadi, tuan rumah turnamen sepakbola boleh-boleh saja lebih dari satu, bukan? Diberitakan, FIFA mengkhawatirkan keselamatan para penonton karena adanya Peristiwa Kanjuruhan di Malang yang menewaskan 135 orang tanpa ada kejelasan penegakan hukum hingga saat ini (dari CNN: menurut data BPBD Jawa Timur, korban meninggal sebanyak 174 orang).
Kebijakan kegiatan olahraga tak perlu dikaitkan dengan politik?
Padahal dunia politik menyukai kerumunan orang yang akan menjadi perkumpulan yang menguntungkan pada saat pemilihan pemimpin baik di daerah maupun di tingkat nasional. Dunia olahraga khususnya sepakbola menyedot begitu banyak perhatian warga. Apakah penjualan tiket tidak sesuai target, atau ada faktor lain yang tidak kita ketahui, maka pembatalan ini terjadi? Apakah pembatalan ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi sebagai efek domino dari peristiwa demo di Perancis? Sebab isu yang diangkat oleh sekelompok kecil orang dapat menjadi isu mendunia, sebagaimana isu 1% versus 99% sepuluh tahun lalu; aksi bela agama 212 yang kemudian memunculkan 65 aksi-aksi serupa di daerah lain di Indonesia sebagai bentuk solidaritas?
Simpulan
Selalu ada alasan saat berbicara soal batasan-batasan dalam hidup. Supaya hidup tetap berfaedah bagi diri sendiri, keluarga, bangsa negara dan agama, mari wujudkan mimpi di luar batasan-batasan yang ada. Usia bertambah tak dapat dicegah, namun tetap berkarya masih bisa kan? Bila sudah waktunya berhenti menjadi atlet karena usia, masih banyak lagi profesi lain yang bisa dijalani. Bila terbentur kebijakan, barangkali memang belum waktunya sekarang. Siapa tahu, kesempatan emas untuk bertanding lalu menjadi juara dunia dalam PIala Dunia U-20 atau bahkan FIFA World Cup, menjadi takdir anak-anak atau cucu-cucu atau cicit-cicit kita. Kisah Pele, Sang Legenda sepakbola dari Brazil menjadi sumber inspirasi untuk tidak menyerah mengejar impian dengan menjadi diri sendiri. Seorang ayah yang gagal bermain bola, namun berhasil mengantarkan anaknya main bola di Piala Dunia. Selama kariernya sebagai pemain, Pele berhasil menjadikan Brazil sebagai negara Juara Dunia Piala Dunia FIFA sebanyak 3 kali. Pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Chili, dan tahun 1970 di Meksiko (total trofi yang diperoleh Brazil sebanyak 5 kali, pada tahun 1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002). Pele menjadi legenda sepakbola hingga kini. (ratih)
Sumber Rujukan:
https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20221002191617-145-855394/infografis-fakta-tragedi-kanjuruhan
https://www.suara.com/news/2023/03/30/051000/kecewa-piala-dunia-u-20-di-indonesia-batal-suporter-timnas-tandai-mereka-di-2024-selamat-tertawa-di-atas-penderitaan
