FaithCoffee

Permainan untuk Anak Pilih Makanan Sehat

Seorang ibu dalam rangka merawat tumbuh kembang tubuh anak, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah: gizi. Kemudian bila gizi dianggap sudah cukup baik, langkah selanjutnya adalah bagaimana cara agar anak secara mandiri dapat memilih makanan yang baik untuknya? Sebab ada kalanya anak-anak lepas dari pengawasan orang tua, terutama bila sudah bersekolah. Guru pun tak bisa selamanya ada setiap detik, bukan?

Berdasarkan buku berjudul Raising Baby Green yang ditulis oleh Alan Greene, M.D. seorang dokter anak  yang tinggal di Danville, CA. Ada cara menarik agar anak tahu mana makanan sehat yang baik untuknya dan makanan yang kurang baik bagi tubuhnya.

Sumber Gambar: amazon

Tantangan Perempuan di Era Digital (Sensor Konten Porno oleh Kemkominfo)

Perempuan pada setiap jamannya selalu menghadapi berbagai kekhawatiran, entah sebab itu berasal dari dalam atau luar kehidupan perempuan dan keluarganya. Masa kini, kekhawatiran peran perempuan semakin bertambah dengan adanya teknologi digital. Keberadaan gadget sungguh membuat tantangan perempuan semakin tak mudah. Entah apakah efek dari keberadaan dunia digital ini dapat disamakan dengan keberadaan majalah di awal kemunculannya? Satu hal yang pasti: teknologi digital lebih luas cakupannya sehingga lebih sulit dikontrol. Upaya pemerintah melalui Kemkominfo untuk melakukan sensor pada konten pornografi menuai pro kontra. Bagi yang pro tentu sebab lega karena anak-anak aman menjelajahi dunia maya tanpa khawatir terkontaminasi oleh konten pornografi. Sebaliknya mereka yang kontra mempertanyakan alat sensor yang harganya fantastis: Rp 200-an milyar dari PT Inti.

Sumber Gambar: dakwatuna

Restitusi atau Sanksi Sosial?

Hari ini, 2 November 2017 di Koran Kompas diberitakan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Restitusi bagi Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana, ditandatangani Presiden Jokowi pada 16 Oktober 2017. Dengan adanya PP ini menjadi goodnews  bagi pihak korban/ ahli warisnya. Menjadi mimpi buruk bagi pelaku kejahatan pada anak dibawah 18 tahun. Para tersangka bukan hanya akan memperoleh hukuman penjara dan denda tapi juga akan menanggung ganti rugi bagi pihak korban yang dirugikan secara materiil dan immateriil. Besaran restitusi ditentukan oleh LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).

Sumber Gambar: seniorkampus

Panca Indera dan Sudut Pandang Kita (Kasus Alexis)

Terinspirasi dari celoteh bocah 4 tahun, anak tertuaku tanya-tanya, “ Ma.. kenapa sih mata kita gak putih semua? Kenapa ada itemnya?” Bener juga ya.. kenapa? Lalu kujawab sekenanya inget pelajaran biologi waktu SMP, “Kalau putih semua malah gak bisa liat.. soalnya bisa lihat karena di mata ada itemnya.” Entah puas atau gak dengan jawabanku.., dia udah gak tanya lagi. Malah aku yang jadi kepikiran: “Mengapa mata kita gak diciptakan putih semua saja? Bukannya lebih bersih?” kalau inget pertama kali liat mata bayi baru lahir, meskipun bola mata mereka ada hitam putihnya.., tetep aja keliatan jernih tuh.. dan dipikir-pikir kalau bola mata hitam ada putihnya malah ternyata gak sehat tuh, gejala katarak.

Sumber Gambar: dagelan

Mengapa Revolusi Perempuan Dilarang?

Biasanya situs Islami menyediakan resensi buku-buku yang wajib dibaca sebagai muslim. Tentunya untuk menambah pengetahuan soal Islam, harapannya akan memperkuat nilai keimanan dan ketakwaan sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Entah harapan itu sudah terwujud atau belum. Bagaimananpun juga, kami turut apresiasi jihad menyebarkan nilai-nilai Islami tersebut walau pada akhirnya para Ustadz lulusan televisi hanya akan sekedar pamer betapa banyaknya harta mereka atau nikmatnya berpoligami dengan istri-istri yang jauh lebih muda usianya.

Sekedar sharing  sebuah buku yang barangkali jauh dari kesan Islami. Malahan mungkin dianggap terlarang karena ini buku filosofi perempuan Perancis, tahun 1949 karya eksistensialis Simone de Beauvoir. Vatikan menempatkan buku ini di Daftar Buku Terlarang. Namun menjadi revolusioner  pada masanya karena pada waktu itu belum pernah ada seorang perempuan menuliskan pemikirannya, mengartikan jati diri lalu memberi solusi agar para perempuan dapat terbebas dari belenggu anggapan masyarakat Perancis saat itu yang menganggap perempuan sebagai “Second Sex” atau dengan kata lain sebagai manusia kelas dua. Judul buku yang berjudul sama dengan anggapan masyarakat Perancis saat itu, terbit menjadi dua jilid. Jilid pertama belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan jilid kedua sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Sumber Gambar: goodreads

Administrasi Bukan Harga Mati! Nyawa Lebih Berarti

Stop nomorsatukan administrasi! Nomer satu kemanusiaan!

Bagaimana perasaanmu seandainya jadi seorang ibu yang bayinya baru meninggal? Bisakah berpikir? Bagaimana pula perasaan dan pikiran bapak yang baru kehilangan bayinya? Sempatkah berpikir?

Pada tanggal (21/9) di RSUD Abdoel Moeloek, Bandar Lampung, seorang ibu pulang menggendong bayinya naik angkot tanpa mendapatkan fasilitas ambulans yang menjadi haknya. Apakah karena ia pasien BPJS? Pihak RS klarifikasi bukan karena sebab pasien BPJS, melainkan karena bapak bayi tidak bisa melengkapi soal administrasi sebelum naik ke ambulans.

Sumber Gambar: tribun

Administasi Bukan Harga Mati! Nyawa Lebih Berarti

Stop nomorsatukan administrasi! Nomer satu kemanusiaan!

Bagaimana perasaanmu seandainya jadi seorang ibu yang bayinya baru meninggal? Bisakah berpikir? Bagaimana pula perasaan dan pikiran bapak yang baru kehilangan bayinya? Sempatkah berpikir?

Kemarin lusa, (21/9) di RSUD Abdoel Moeloek, Bandar Lampung, seorang ibu pulang menggendong bayinya naik angkot tanpa mendapatkan fasilitas ambulans yang menjadi haknya. Apakah karena ia pasien BPJS? Pihak RS klarifikasi bukan karena sebab pasien BPJS, melainkan karena bapak bayi tidak bisa melengkapi soal administrasi sebelum naik ke ambulans.

Sumber Gambar: tribun

Sekadar Renungan: Bencana Sosial di Sekitarku

Adakah orang yang pekerjaanya merenung? Ya ada. Lalu mereka disebut filsuf. Kalau orang biasa lebih tepat disebut tukang curhat. Bisa jadi curhatan itu sekedar ingin mengeluarkan unek-unek yang tak selesai hanya dengan diceritakan di dalam buku harian. Sebab takkan ada perubahan dalam diri ataupun orang lain. Semua hanya sekedar menjadi kata-kata yang memenuhi lembaran dalam buku. Saya mulai menuangkan pikiran dalam buku harian sejak bisa menulis. Walau isinya cuma kegiatan hari itu di sekolah atau catatan pemasukan uang jajan sebesar Rp 250 beserta pengeluarannya. Semakin bertambah usia, tentu saja isinya berkembang. Bukan sekedar cerita kegiatan seharai-hari, tapi lalu soal-soal yang lebih buat penasaran, misalnya soal kematian: meninggalnya Nenek yang disusul kematian Mama di usia muda. Soal kehidupan: taksir menaksir, dilema memilih pasangan hidup, memilih jurusan kuliah, memilih pekerjaan… semua soal dilema pilihan hidup.

Daun Mati VS Kupu-kupu: Siapa Awam, Siapa Ahli?

The death of expertise* bikin orang awam bersorak! Barangkali inilah satu-satunya buku yang menyenangkan bagi mereka yang tidak dianggap ahli walau berpendidikan tinggi. Sebab keberadaan sosmed, setiap orang dapat menghancurleburkan kembali hipotesa seorang ahli setiap saat. Tidak hanya dalam bidang sosial politik sebagaimana dicontohkan dalam buku ini, prediksi para ahli saat pemilihan presiden AS beberapa waktu yang lalu. Bahkan ilmu keteknikan pun yang jelas-jelas ilmu pasti, setiap saat akan mengalami goncangan dari serangan para awam di berbagai belahan dunia karena pengalaman-pengalaman mereka dalam “realita”.

Sumber Gambar: rumahangin

Peristiwa di Mesjid Al Aqsa: Say No to Israel, Boikot Telkomsel

Mesjid Al Aqsa diperebutkan! Memang sejak lama mesjid suci ini penting bagi umat muslim, Kristen maupun Yahudi. Dari sisi kesejarahan, orang Arab Palestina merasa lebih berhak atas Mesjid Al Aqsa. Sementara itu, pendiri Israel sejak tahun 1948 memang sudah melakukan Yahudinisasi di sekitar Yerusalem Timur termasuk kompleks Mesjid Al Aqsa. Selama dua minggu ini umat muslim berumur kurang dari 50 tahun dilarang melakukan ibadah di mesjid Al Aqsa. Gegara ada peristiwa kematian dua orang polisi yang ditembak mati oleh 3 orang Arab Palestina. Peristiwa ini tidak dianggap sebagai kriminal murni oleh pihak Israel namun dipolitisasi. Sejak saat itu dipasang alat pemindai metal di gerbang masuk kompleks Mesjid Al Aqsa. Serta petugas keamanan bersenjata akan mengawasi siapapun yang masuk mesjid itu. Pada hari Kamis, 27 Juli 2017,  pihak Israel melepas alat pemindai metal dan keamanan bersenjata.  Umat muslim langsung merayakannya dengan sholat Ashar berjamaah. Lalu melakukan sholat Jumat pada 28 Juli 2017. Namun tragis, shalat Jumat itu tiba-tiba saja dibubarkan dengan berondongan senjata, demikian diberitakan Kompas, Sabtu, 29 Juli 2017.

Sumber Gambar news