Warning! Dilarang lanjutkan baca kalau kamu masih anti dengan perubahan! Dapat menyebabkan baper akut!
Belum juga rampung mewujudkan cita-cita masa remaja, ternyata dunia telah berubah. Profesi yang diidamkan kini terancam direbut oleh teknologi yang disebut AI (Artificial Intelegence). Lalu apa yang tersisa bagi manusia bila proses kreatif pun kini dapat dilakukan oleh teknologi? Bagi mereka yang tak mempermasalahkan keberadaan AI, bahagia sebab keberadaan AI mempermudah hidup mereka melalui berbagai hal sulit yang dulu hanya dapat dilakukan oleh orang dengan skill khusus dan spesifik. Kini tinggal perintah lalu AI memunculkan permintaan kita. Misalnya artikel yang ingin ditulis, gambar yang ingin dicetak, perintah khusus berupa coding, dan saran-saran persoalan hukum yang pelik dapat diketahui jawabannya berkat bantuan AI. Profesi penulis, seniman lukis, fotografer, ahli software dan advokat dalam ombang-ambing ketika peran mereka yang melibatkan intelejensi ternyata dapat tergantikan oleh teknologi terkini, GPT 4. Pada tahun 2017, melalui bukunya Disruption, Rhenald Kasali telah memaparkan fakta dan data soal perubahan ini dan ancaman ada di depan mata bagi profesi-profesi terkait. Meskipun muncul harapan dengan adanya peluang bagi profesi-profesi baru yang relate dengan profesi-profesi dengan sebutan lama. Kini karya-karya penulis bukan hanya berpeluang berada dalam media cetak massal, buku atau koran saja, tapi juga berada dalam media digital berupa website atau berbagai platform media sosial. Seniman lukis dan fotografer dapat mengembangkan karya mereka dengan AI.
Penggunaan AI bagi beberapa pihak bukanlah kecurangan, sebab AI tetap membutuhkan proses kreatif manusia berupa perintah pada aplikasi. Namun hal ini dibantah oleh komunitas di AS yang menggugat perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan, seperti Stability AI Ltd, Midjourney Inc, dan DevianArt Inc atas pelanggaran hak cipta dan bila ada pemenang karya menggunakan AI dianggap ilegal. Ketua Komunitas AI Indonesia Indonesia (IAIS) Lukas mengatakan bahwa secanggih apapun AI, ia tetaplah mesin yang bekerja atas perintah manusia. Untuk itu, yang perlu mendapatkan perlindungan kekayaan intelektual adalah manusia, baik yang menciptakan mesin generatif AI maupun yang menghasilkan karya dengan AI. Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta di pasal 1(2) jelas disebutkan bahwa yang dimaksud pencipta adalah seseorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri
atau bersama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi. Obyek yang dilindungi disini adalah manusia sebagai pencipta karya. Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) menyatakan, sistem kekayaan intelektual telah dirancang guna mendorong inovasi dan kreasi manusia. WIPO menyediakan forum untuk menyatukan pemahaman mengenai AI. WIPO juga mendorong agar negara-negara anggotanya mulai mengatur kebijakan hak cipta di bidang AI. Produk hukum saat ini harus mampu mengikuti perkembangan inovasi dan teknologi. Namun, hukum pun tidak selamanya menjadi solusi. Adakalanya instrumen hukum dalam negara tidak selalu memberi solusi. Dibutuhkan peran civil society (organisasi keagamaan, organisasi profesi, pers, lembaga pendidikan, dan organisasi nonpemerintah atau NGO) supaya hukum bukan sekedar teks aturan (karena mulai kehilangan ruh moralnya) (Kompas. 2023).
Maka (saya) sebagai seorang pribadi dan orang tua seharusnya tidak perlu terlalu khawatir pada masa depan dikarenakan keberadaan AI. Ingat-ingat KTP.., Kendala= Tantangan + Peluang. Sebisa mungkin kita dapat menjadikan kendala sebagai tantangan dan peluang. Bukan menjadi alasan untuk berputus asa. Bukan juga alasan untuk menjadi sombong, sebab kamu tidak akan mampu menembus bumi dan tinggi menjulang setinggi gunung (QS. Al Isra: 37). Tekanan soal masa depan seperti apa dengan perubahan teknologi yang begitu cepat itu dapat menimbulkan kecemasan berlebihan bukan hanya pada orang tua, tapi juga pada anak-anak. Sebagaimana diberitakan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengutarakan, kasus (penganiayaan David oleh Dandy) haruslah menjadi perhatian dan pengingat orang tua dan pemerintah untuk lebih fokus melihat tumbuh kembang anak-anak. Pada masa remaja, terutama, mereka harus mendapat lingkungan yang baik supaya mampu mengembangkan keterampilan coping mechanism ketika menghadapi suatu kondisi sulit yang cukup menekan. Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Sylvana Apituley mengatakan, “Diperlukan kesediaan dan kerendahan hati orang-orang dewasa untuk mengakui bahwa mereka mau tidak mau -diakui atau tidak- berperan dalam meluasnya budaya kekerasan di lingkungan anak-anak,” (Kompas. 2023).
Kondisi idealnya memang semua pihak bekerjasama dalam menghadapi perubahan yang cepat ini, terutama dalam hal teknologi, serta hal-hal lain menyangkut jati diri dan masa depan anak-anak. Masalah kekerasan yang terjadi pada anak-anak, bukan tidak mungkin, salah satu sebabnya karena ada tekanan untuk terus mengikuti perkembangan teknologi agar dapat berperan dalam kehidupan. Minimal dapat tetap mempertahankan status sosial ekonominya. Maka saat kerjasama membimbing anak-anak kurang berjalan dengan baik, anak-anak cenderung melakukan kekerasan demi memperoleh legitimasi superioritasnya atas orang lain. Mengapa bukan cara lain? Maka dari itu, dibutuhkan peran sekolah untuk memberikan pelatihan coping mechanism yang sehat. Serta orang tua untuk lebih ramah dalam pengasuhan. Sementara menurut Rhenald Kasali, mahasiswa harus dibekali keterampilan untuk berani bertindak dan memiliki sense of execution menjadi amat penting dalam perjalanan awal karier mereka. Perubahan menuntut tiga hal sekaligus: melihat, bergerak dan menyelesaikan sampai tuntas. Maka (saya) sebagai pribadi dan orang tua diharapkan untuk menjadi pemimpin bagi anak-anaknya, “membaca” apa yang kini belum terlihat dan membuat mereka bergerak ke arah “gambar” yang telah disusun. Berubah sama sekali dan menyelesaikan tugas-tugas agar “gambar” itu benar-benar menjadi kebenaran (Kasali. 2017). Perubahan ini memang membutuhkan dedikasi dan kerja keras, namun bukan kekerasan.
Kekerasan bisa jadi mengantarkan seseorang pada kesuksesan, sebagaimana yang dialami Michael Jackson. Namun, kekerasan masa kecilnya itu membekas dalam jiwanya. Sehingga walau banyak karya masterpiece yang dihasilkan olehnya di bidang musik, dengan jutaan penggmar dari seluruh dunia, ada satu hal yang tidak dapat kembali: jiwanya yang utuh. Ada “kekusutan” yang sulit diperbaiki oleh ketenaran dan kekayaannya. Maka patutlah kita sebagai pribadi dan orang tua bertanya: “Apakah akhir demikian yang saya inginkan terjadi pada anak-anak saya?”. ….for better tomorrow it doesn’t always mean to be mean, but to be better person instead. Mulai darimana lagi kalau bukan mulai dari diri sendiri?
Bagaimana memulai? (Nasihat untuk diri sebagai pribadi dan orang tua, kalau mau ikutan, boleh banget. Namun nasihat bagi diri sendiri ini tidak menjanjikan kekayaan 70 kali lipat daripada jumlah kekayaan kita saat ini. Jadi kalau masih berharap hal-hal demikian, lebih baik tidak usah baca tulisan-tulisan saya)
Pertama, tetapkan prioritas. Soal pekerjaan multitasking, tak usah diambil jika dirasa tubuh tidak sekuat dulu lagi. Terutama emak-emak, kadang terlalu memaksakan diri hingga lupa merawat diri. ...for better tomorrow memang butuh perjuangan dan pengorbanan, tapi bukan bunuh diri.
Kedua, sesekali refresing yang membahagiakan, walau itu sekedar jalan-jalan ke taman atau ngopi bareng suami.
Ketiga, fokus pada hasil akhir. Walau itu cuma sekedar menerbitkan hasil bacaan dan pengamatan; walau itu sekedar membimbing anak-anak untuk skill-skill baru yang diperlukan dalam dunia disruption, seperti bahasa asing dan coding.
Keempat, semakin rajin berdoa dan beribadah agar terhindar dari kecemasan berlebih. Selalu ingat keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT sebagai pengatur alam semesta. Bahwa beban itu takkan melebihi kesanggupan hamba-Nya. So pasti kita akan mampu melalui berbagai KTP (Kendala= Tantangan + Peluang) itu asalkan tetap bersyukur dan bersabar.
Kelima, cari komunitas positif yang mau dan mampu menerima bukan cuma kekuranganmu, tapi juga kelebihanmu. Sebab kadang-kadang, punya kelebihan juga bisa jadi sumber masalah. Kecuali kelebihan uang, bisa beri solusi buat banyak orang (matre, red).
Sekian dan terima kasih untuk terus mengikuti bacaan yang tidak menjanjikan kekayaan anda bertambah 70 kali lipat dalam beberapa waktu kemudian.
Wassalam
(ratih)
Sumber Rujukan:
Kasali, Rhenald. 2017. Disruption. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Kharlie, Ahmad Tholabi. “Civil Society dan Penguatan Nilai Kemanusiaan”, dalam Kompas 13 Maret 2023. Jakarta: Kompas
Setiyawan, Iwan. “Hak Cipta dan Kebebasan Berkarya di AI”, dalam Kompas 6 Maret 2023. Jakarta: Kompas
Sinombor, Sonya Hellen. “Membekali Anak dengan Ilmu Kesehatan Jiwa”, dalam Kompas 6 Maret 2023. Jakarta: Kompas
