Teror Jakarta: SUARAKAN Deradikalisasi daripada Revisi UU Anti Terorisme!
Terror. Jakarta seperti Paris. Jakarta jadi sasaran teroris. Semua orang merasa perlu berkomentar. Mulai dari komentar iseng karena kelucuan yang terjadi saat terror, polisi ganteng, atau betapa “bahagianya” jenazah si pelaku terror. Tak lama kemudian terjadi klaim ISIS bahwa merekalah pelaku baku tembak dan bom di Sarinah. Soal teroris menjadi soal mendunia karena mengecam keselamatan orang banyak. Saat ada banyak reaksi yang timbul selain ketakutan, maka hal itu menjadi menarik untuk diperbincangkan. Sesungguhnnya, masyarakat sedang melakukan terror balik pada serangan bom yang sudah terjadi. Hastag Kami Tidak Takut atau Indonesia Berani, menurut tulisan di media nasional hanyalah ungkapan kelas menengah. Sebab kelas bawah sudah biasa hidup dalam resiko. Seperti si tukang sate atau tukang kacang atau tukang manisan yang tetap berjualan walau terror sedang terjadi di depan mata. Sebab keseharian mereka sudah biasa dengan terror sesungguhnya: lapar, miskin, dan tak dihargai.
