Keyakinan & Perubahan, Ini Soal Jenasah
Jenasah seorang nenek bernama Hindun di Jakarta ditolak untuk disolatkan di sebuah musholla yang berspanduk anti pendukung Ahok. Pada hari ini, 11 Maret 2017, paslon nomer 3, Anies- Sandi akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya tidak pernah mendukung aksi penolakan jenasah pendukung Ahok.
Semua ini adalah soal keyakinan. Bahwa keyakinan seseorang dengan orang lainnya tak pernah dapat dipaksakan. Keyakinan soal paslon dalam Pilkada, soal kematian dan soal Tuhan manusia. Ada seloroh yang beredar di sosial media, “Ya Allah… matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik) dan di luar tanggal Pilkada” untuk menunjukkan kekhawatiran yang besar seseorang akan ditelantarkan saat menjadi mayat hanya karena ia memilih paslon yang salah menurut kelompok tertentu. Benar bahwa seseorang dapat diketahui keyakinannya dari kolom agama yang tertera di KTP. Namun, soal hati? Siapakah yang dapat mengetahui hakikatnya? Allah Maha membolakbalikkan hati. Allah pulalah Sang Pemberi Hidayah. Bahkan tanpa disadari orang yang bersangkutan.
Adapun musyrik dapat diartikan menilai manusia lainnya dengan ukuran-ukuran duniawi. Kafir pun dapat diartikan sebagai orang mengingkari nikmat-nikmat-Nya. Bagi penganut keyakinan ini, QS. Al Baqarah ayat 62 menjadi patokannya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”.
Sumber Gambar ‘Hidayatullah’
