Menjadi Beradab Di Tahun Baru Islam dan Di tengah Pandemi

Peringatan! Dilarang teruskan  baca ini karena dapat mengakibatkan baper akut. “Semua juga sudah tahu, menjadi manusia punya harkat martabat” tapi tak pernah cukup. Sebab di jaman beradab ini, ia harus memiliki titel profesi untuk melengkapi dirinya berdiri tegak di bumi. Bukan untuk diri sendiri, melainkan membentuk imaji orang lain tentang kita. Sebagaimana hampir seluruh penduduk…

Read More

“Rethinking Islamic Feminism”

Oleh: Ratih Karnelia Feminis= sekuler! Benarkah demikian? beberapa waktu lalu dua buku launching, membahas soal ada kemungkinan pemikiran Feminisme Islam, buku pertama ditulis oleh Profesor Etin Anwar, perempuan SUNDA, kredibilitas dalam dunia akademik tak perlu diragukan lagi. Silakan browsing. Buku kedua karya Lies Marcoes berjudul, “Merebut Tafsir” berisi tulisan-tulisan singkat keseharian namun penuh perenungan soal…

Read More

Ibu, Di Rumah Saja juga Manusia

It’s been a while. Berkat sebuah artikel berjudul “Belajar Memanusia” oleh Iwan Pranoto (Guru Besar ITB) , mari kita bahas kembali soal kemanusiaan. Soal pendidikan dua rel antara hominisasi dan humanisasi di masa lalu menyebabkan pengajaran tidak berjalan harmonis, seringkali bertolak belakang. Takkan pernah bertemu dalam satu rel: Cukup Menjadi Manusia Saja. Manusia yang mampu…

Read More

Tukang Kritik Tak Diinginkan

Mencoba memulai awal menulis article MAKI MAKI ( Mencerahkan Aktual Kritis Independen ) setelah sekian lama vakum. pelajaran paling utama adalah memahami Sebuah artikel dalam Kompas, mengingatkan pembaca soal budaya kritik dalam masyarakat kita di masa lalu (Orde Baru) dan masa kini (Orde Pasca Reformasi). Bahwa kritik boleh saja asalkan tak lupa sopan santun. Lalu,…

Read More
Exit mobile version