fbpx
FaithCoffee

Was-was.. Awas Murtad

Bagikan

Gara-gara dengar ceramah di Mesjid As Salam, Jakarta Selatan pada 24 Januari 2017, soal bahaya murtad.  Jadi was-was, apakah saya masih Islam ataukah jangan-jangan sudah murtad dari dulu? Sebab penampilan saja tak menjamin seseorang masih Islam atau sudah ber-Islam dengan baik dan benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Saat beliau masih hidup pun masih banyak kaum munafik yang berkata sudah Islam, tapi dari segi ucapan, perbuatan dan keyakinan belum sepenuhnya Islam.

Ternyata murtad atau keluar dari Islam dengan sendirinya itu ada tiga sebab. Sebab ucapan, perbuatan dan keyakinan.


Bagikan
Bagikan

Gara-gara dengar ceramah di Mesjid As Salam, Jakarta Selatan pada 24 Januari 2017, soal bahaya murtad.  Jadi was-was, apakah saya masih Islam ataukah jangan-jangan sudah murtad dari dulu? Sebab penampilan saja tak menjamin seseorang masih Islam atau sudah ber-Islam dengan baik dan benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Saat beliau masih hidup pun masih banyak kaum munafik yang berkata sudah Islam, tapi dari segi ucapan, perbuatan dan keyakinan belum sepenuhnya Islam.

Ternyata murtad atau keluar dari Islam dengan sendirinya itu ada tiga sebab. Sebab ucapan, perbuatan dan keyakinan.

Muslim Malaysia Demo Anti Pemurtadan

Sumber: Republika

 

Pertama, ucapan saja walau berupa peran dalam sandiwara, misalnya, dapat menyebabkan seseorang terjerumus dalam kekufuran. Misalnya, ucapan, “Saya tidak percaya pada Tuhan” atau “Allah bohong” atau ucapan sejenisnya, bagi seorang mukmin pantang dilakukan. Ternyata, Ahok bukan yang pertama menistakan agama Islam karena kasus QS. Al Maidah 51. Bagi ibu-ibu, ucapan kalau QS. An Nisa ayat 2 (perintah berpoligami) tidak usah diikuti juga dapat menyebabkan kemurtadan.  (Waduh. Mesti hati-hati bahas isu gender nih).

Kedua, perbuatan mengikuti ritual agama lain atau memakai simbol keyakinan lain juga tidak boleh walau alasannya demi seni (atau toleransi –red). Kalau yang ini, MUI dan Walikota Bandung sudah mengeluarkan fatwa untuk tidak menggunakan atribut Natal, misalnya topi Santa Klaus bagi muslim di tempat kerja. Fatwa ini dikeluarkan sebab pada beberapa kasus, muslim seolah dipaksa untuk ikut pakai, kalau tidak mau, ada konsekuensi akan dikeluarkan dari tempat kerja. Soal ini, ada seorang bule yang menulis di harian Kompas dalam rubrik Udar Rasa akhir-akhir ini. Katanya, pelarangan ini non sense. Ibarat menganggap Firaun sebagai lambang Islamisasi. Lalu pelarangan ini menunjukkan tidak adanya toleransi. Kami tidak setuju dengan tulisan si bule.  Sebab atribut Natal dengan berbagai properti ala Santa Klaus sudah identik dengan Kristen. Sementara itu, kekayaan yang melimpah sebagai simbol Firaun tidak identik dengan Islam tuh. Malah, Islam tuh kesannya kere sebab Rasul meninggal dalam keadaan fakir. Faktanya, banyak orang Islam kaya tapi tidak dzalim seperti Firaun. Rasul meninggalkan dunia dalam keadaan tak berpunya juga itu sebuah pilihan agar tidak memberatkan hisab. Padahal beliau sudah dijamin masuk surga. Pada masa muda, beliau sukses sebagai pedagang dan memberi mahar unta merah banyak pada Siti Khadijah. Kalau dikalkulasi, mahar beliau saat itu mencapai ratusan juta rupiah. Apa itu disebut miskin? Intinya, Firaun dengan simbol kekayaan dan kesombongannya tidak pernah jadi alat untuk meng-Islam-kan sebuah masyarakat. Justru Islam mengajarkan kesederhanaan. Kekayaan menjadi sarana untuk beramal soleh demi menggapai ridho Allah SWT (idealnya).

Ketiga, keyakinan bahwa setiap agama itu sama. QS. Ali Imran ayat 19 dan ayat 85 menerangkan bahwa Islam-lah agama di sisi Allah*

Nah! Berusaha menjadi Islam saja sudah sulit. Apalagi berusaha menjalankan setiap ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali dapat tuduhan: SOK SUCI. Suci apa? Stand Up Comedy Indonesia?! Maka hidup itu lucu dengan sendirinya. Humor yang berhasil adalah kemampuan menertawakan diri sendiri disaat titik nadir keterpurukan. Perjalanan menjadi Islam dan menjalankan ajarannya bisa jadi humor paling unik di Indonesia. Sebagaimana dilakonkan dengan apik dalam ‘Dunia Terbalik’ yang saat ini tayang prime time. Satu-satunya sinetron yang bisa dicerna otak sederhana (saya).

Lalu? Kalau sudah terlanjur begitu, kata sang penceramah, kita (saya) harus bersyahadat kembali di hadapan saudara-saudara muslim. Kemarahan janganlah menjadi alasan untuk menyalahkan qada qadar-Nya.  Allah SWT berhak mentakdirkan  setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, baik ataupun buruk. Sebagai hamba-Nya, kita hanya patut menjalani saja. Betapa seringnya kita (saya) saat putus asa dengan rahmat-Nya karena peristiwa buruk, tanpa sadar karena kemarahan, seolah menyalahkan-Nya. Seberapa sering? Sudahkah kita (saya) bersyahadat kembali sesering ucapan atau perbuatan atau keyakinan yang menjurus pada kemurtadan itu?

Apalagi kalau lagi getol ibadah lalu tertimpa musibah. Nah, setan tuh enak banget bisikinnya: ‘Lo ibadah taat aja dikasih kesialan. Liat tuh orang-orang yang kagak solat, malah hidupnya senang terus. Udah..kagak usah deh solat solat mulu. Hobi amat sih solat. Minum obat aje cuma 3 kali sehari.. nah ini sehari lima kali. Pake wudhu segala lagi.., ngabisin aer aja. Kasian tuh di Afrika ntar makin kekeringan loh, banyak orang mati kehausan’.  Masih banyak lagi bisikan-bisikan yang lebih dahsyat, maknanya sama, ucapannya bisa beda-beda. Istigfar, istigfar… #gelengkepala (ratih karnelia)

*Kajian soal kedua ayat ini, silakan tanya pada ahlinya.


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *