FaithCoffee

Tukang Kritik Tak Diinginkan

Bagikan

Mencoba memulai awal menulis article MAKI MAKI ( Mencerahkan Aktual Kritis Independen ) setelah sekian lama vakum. pelajaran paling utama adalah memahami Sebuah artikel dalam Kompas, mengingatkan pembaca soal budaya kritik dalam masyarakat kita di masa lalu (Orde Baru) dan masa kini (Orde Pasca Reformasi). Bahwa kritik boleh saja asalkan tak lupa sopan santun. Lalu, kritik sopan santun itu seperti apa? Sebab kritik pastinya menuai ketidaksukaan, terutama dari pihak penguasa dan para pengikutnya. Sementara itu, rakyat dalam sebuah nuansa demokrasi diminta pendapatnya agar negara pun masih pantas disebut sebagai negara demokrasi. Masa iya negara demokratis tapi kok rakyatnya tak boleh menyampaikan pendapat?

Demikian sebuah artikel tentang rasionalitas. Soal kognitif yang ingin disandingkan dengan soal afektif yang berujung pada kritik sopan nan logis. Pertanyaan selanjutnya adalah: Siapkah masyarakat kita mendengar kritik mengkritik? Padahal pun kritik itu disampaikan di ruang publik, demi kepentingan publik pula, pastilah dikira urusan personal atau sekedar sentimen pribadi. Kami sebagai lembaga identik sebagai pengkritik berpengalaman mendapat serangan netizen baik di ruang sosial media maupun melebar hingga ke dunia nyata. Seolah-olah kami ingin merebut “Indonesia” sehingga “pemilik”-nya kehilangan pamor di mata masyarakat. Positif nya, negara dan bangsa ini masih ada. Belum tenggelam dalam serangan dunia online sepenuhnya sehingga penduduknya sibuk dagang saja.

Urusan negara dan bangsa masih bisa membuat tersinggung, rasa memiliki itu masih ada. Bolehlah kita bernafas lega, Indonesia bukanlah “Immagined Communities” sebagaimana buku karya Ben Anderson. Indonesia masih nyata. Tapi, urusan kebijakan rezim anti kritik itu tentu mengkhianati arti demokrasi itu sendiri. menjadi bukti adalah Senyata serangan balik pada kami di dunia online dan offline. Entah siapa mereka itu, orang partai atau bukan. Pastinya mereka sekelompok orang yang meluapkan kemarahannya pada kami sebagai pribadi-pribadi dibalik layar keberadaan SPI. Boleh GR. Sebab, serangan itu begitu terstruktur, sistematis dan masif. Antara lega dan tertekan. Sempat membuat semangat down dan takut (wajar kan, kami manusia loh bukan mesin pencipta algoritma). Terutama ancaman seolah akan menyebabkan dunia kami tamat. Seringkali terpikir untuk berhenti membuat content. Terutama content soal sosial politik. Senyatanya membiarkan para netizen berpikir, berbagai essay yang telah terbit di www.suaraperempuan.or.id atau dalam fanspage ini sekedar urusan personal atau parpol (parodi politik). Just for fun. Tanpa tujuan berarti. Namun, kami ingat lagi tujuan awal SPI didirikan adalah jihad. Upaya amar ma’ruf nahi Munkar. Tujuannya bukan pencapaian duniawi, tapi bekal untuk kehidupan ukhrawi. Jadi maaf, bila kritik dalam ruang SPI seolah timbul tenggelam. Antara nyata atau tiada. Sebab kami, sekedar manusia-manusia yang masih punya rasa manusiawi. Kritik bukan berarti pedas untuk menyakiti. Diam pun bukan berarti menyerah berhenti.

Terima kasih pada para pembaca setia kami, subscribers yang rela meluangkan waktu untuk menyimak dan turut berkontribusi, berpartisipasi dalam rangka membuat Indonesia semakin demokratis. Meyakinkan dunia, bahwa bangsa dan negara Indonesia, bukanlah sebuah negara dan bangsa khayalan. Ia, senyata senyum Anda sekalian yang telah lebih dulu melanglang buana ke seantero bumi. (rkk)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *