fbpx
FaithCoffee

Teringat Indonesia

Bagikan

Cek kalender wikipedia hari ini, 8 Februari hari apa? Ternyata banyak peristiwa penting dunia yang terjadi tanggal 8 Februari. Salah satunya pada 8 Februari 1885 – Imigran Jepang yang pertama kali disetujui pemerintah Amerika Serikat tiba di Hawaii. Jadi teringat berita belakangan ini, Trump sebagai presiden AS melarang imigran asal tujuh negara muslim untuk masuk negaranya. Padahal kalau dilihat dari sejarah, AS terbuka pada kedatangan imigran Jepang sejak 1885. Kalau dihitung-hitung, berarti sudah 131 tahun. Sementara kalau imigran asal negara-negara muslim? Bisa jadi lebih awal lagi, mengingat ekspansi muslim ke seluruh penjuru dunia, sebagai pedagang atau peran lainnya lebih dari 6 abad yang lalu. Selama itu, pastinya menjadi kabur lagi batasan antara imigran dan penduduk asli sebab adanya percampuran oleh karena perkawinan dan budayanya.


Bagikan
Bagikan

Cek kalender wikipedia hari ini, 8 Februari hari apa? Ternyata banyak peristiwa penting dunia yang terjadi tanggal 8 Februari. Salah satunya pada 8 Februari 1885 – Imigran Jepang yang pertama kali disetujui pemerintah Amerika Serikat tiba di Hawaii. Jadi teringat berita belakangan ini, Trump sebagai presiden AS melarang imigran asal tujuh negara muslim untuk masuk negaranya. Padahal kalau dilihat dari sejarah, AS terbuka pada kedatangan imigran Jepang sejak 1885. Kalau dihitung-hitung, berarti sudah 131 tahun. Sementara kalau imigran asal negara-negara muslim? Bisa jadi lebih awal lagi, mengingat ekspansi muslim ke seluruh penjuru dunia, sebagai pedagang atau peran lainnya lebih dari 6 abad yang lalu. Selama itu, pastinya menjadi kabur lagi batasan antara imigran dan penduduk asli sebab adanya percampuran oleh karena perkawinan dan budayanya.

Sumber Gambar: kompasrakyat

Bagaimana dengan Indonesia? Sejak dulu kala, sebagai orang Indonesia diajarkan untuk berbangga karena adanya ragam suku, agama dan budaya (gaya hidup). Namun keragaman itu tak menjadikan kita terpecah. Tetap satu. Masih bisa gotong rotong dalam kegiatan-kegiatan bermasyarakatnya. Agama juga diakui. Peribadahannya bebas bagi setiap penganut agama. Budaya juga kaya. Saat seseorang berada di luar negeri, kangen dengan Indonesia karena tiga hal itu, keunikan suku-sukunya, perbedaan agamanya, dan budaya (gaya hidup) termasuk soal kuliner.

Dengan adanya kebijakan keimigrasian di AS yang dikeluarkan Presiden Trump, kita semakin sadar kenyataan bahwa perbedaan suku, agama dan budaya bukan cuma milik Indonesia. Masihkah kita patut berbangga? Apalagi saat ini dengan adanya kasus Ahok vs MUI, suku, agama dan budaya seolah menjadi sekat. Lalu benarkah ada sekat diantara kita gara-gara kasus Ahok?

Kebanggaan kita sebagai orang Indonesia itu apa? Perempuan Indonesia itu siapa? Kedua pertanyaan ini menjadi persoalan pencarian identitas yang tak kunjung usai untuk dipertanyakan. Dalam sebuah diskusi umum di Institut Kesenian Jakarta, Jakarta Selatan sekitar tahun 2012 lalu, saya berkesempatan untuk bertanya langsung pada penulis buku “Menjadi Indonesia” karya Radhar Panca Dahana. Inti “Menjadi Indonesia” itu apa? Apakah saya yang berkeyakinan Islam lalu memakai hijab ini masih bisa dibilang orang Indonesia karena tidak lagi memakai kebaya? Jawabannya saat itu putar puter sih.. sebab jawaban dari pertanyaan saya dijawab satu buku dengan akhir yang ngegantung, sebab ‘menjadi’ berarti proses pencarian diri yang terus menerus tidak berhenti pada satu definisi. Namun dari hal yang saya dengar saat itu, saya simpulkan, kalau hijab ini memang bukan penanda orang Indonesia. Penanda orang Indonesia itu  ya kalau bukan kebaya, batik, peci atau kain sarung. Sebagaimana gambar cover buku itu. Nampak… (maaf) terlihat udik dan kampungan. Padahal pada kenyataannya, Orang Indonesia tidak lagi seperti itu, terutama di perkotaan.

Itu soal penampilan. Bagaimana dengan pola pikir? Banyak orang-orang Indonesia cerdas yang mendunia, contohnya, Prof. B.J. Habibie, Yogi Ahmad Erlangga sang pemecah rumus matematika Persamaan Helmholtz yang dijuluki Habibie muda, Soetanto, Khoirul Anwar, Butet Manurung (founder of The Jungle School and TIME Magazine Hero in 2004), Lilyana Natsir (World Champion Badminton Athlete), Marsha Chikita (Animator at Las’ Copaque Production), Rini Sugianto (Hollywood movies Animator), Griselda Sastrawinata (Animator at Dreamworks Film Studio), Sri Mulyani (Managing Director World Bank), Irma Hardjakusumah (Designer of Governors Ball Oscar dan Emmy Awards).

Sumber Gambar: ID

So, orang Indonesia terutama para perempuan pejuang yang saat ini  berada di luar negeri tidak selayaknya berkecil hati lalu putus impiannya. Bahwa pengorbanan ibu-ibu bekerja jauh dari anak-anak, keluarga, tidak akan sia-sia. Optimis. Pengorbanan yang insya Allah akan melahirkan generasi Indonesia yang luar biasa. Para perempuan pejuang di luar negeri yang bukan hanya bekerja sebagai pembantu, tapi juga karyawan di perusahaan-perusahaan minyak, bank-bank multinasional, perusahaan-perusahaan multi produk, perhotelan, perusahaan IT. Para perempuan yang menikah dengan orang asing lalu meninggalkan keluarga, tanah kelahiran dan rumahnya pun patut didukung. Bahwa pernikahan dengan bangsa selain Indonesia bukan berarti ia melupakan cinta sebagai orang Indonesia. Bahwa ada cinta yang lebih luas dan universal yang patut diperjuangkan dalam kehidupan seorang manusia.

Untunglah, Indonesia tidak termasuk dalam negara-negara yang di-ban kedatangannya oleh AS. Tak perlu juga membayangkan Indonesia menolak kedatangan ras-ras ‘asing’ untuk berkunjung ke negara ini. Walau pembatasan itu perlu, mengingat jumlah penduduk negeri ini sudah cukup membludak, perumahan padat, serta berbagai masalah kependudukan lainnya. (dia yang tak ternama)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *