fbpx
FaithCoffee
Taat Dan Eksis Muslimah Kekinian

Taat Dan Eksis Muslimah Kekinian

Bagikan

Tidaaakkk! Teriakan mama bila melihat kosmetik berserakan tak jelas bentuk. Ada yang menjadi “pembentuk sejarah” mirip lukisan gua tertempel di dinding, ada juga yang menjadi butir-butir intan di lantai. Walau kosmetik ini sifatnya gak wajib buat ibu but perlu sebagai penambah kepercayaan diri. Meski Pak Su pasti banyak nanya deh kalo pagi-pagi istrinya udah cantik, “Mau kemana?” “Ketemu Mba Dian” “Dian Sastro?” Pengalaman kayak gini gak akan ketemu tuh di buku”The Beauty Myth”-nya Naomi Wolf.

Buku tebal yang bisa buat ganjel pintu ini emang lumayan panjang lebar bahas mitos kecantikan. Cuma sebagai muslimah Indonesia, rada ora mudeng sama buku ini. Dari awal sampai akhir, bahas data yang ada di Amerika sana, disertai dgn penyebutan nama-nama perusahaan, politik, merk ksmtk & peran media. Entah maksudnya ada iklan terselubung atau tidak, yang jelas di sana pemakaian kosmetik bagi para perempuannya seperti tameng untuk menghadapi kerasnya dunia persaingan antara perempuan dan laki-laki.

Baca buku ini.. sebagai perempuan yang pernah bekerja full time di luar rumah, part timer dan akhirnya kerja online full di rumah.. menyadari satu hal: kosmetik bukan sekedar alat mempercantik diri saja namun juga sebagai alat bantu pembuktian diri. Kebayang kan banyaknya tuntutan pada ibu? Bukan cuma harus bisa pinter cari duit, urus rumah dan anak-anak.. tapi juga tetap tak lupa polas poles wajahnya supaya terlihat lebih berwarna. Kalau di Amrik sana malah kosmetik seperti alat legitimasi untuk melupakan peran orang tua, khususnya bagi mereka petarung di dunia politik yang keji. Sebab orang tua itu memang memunculkan kelembutan ekstra (bukan kelemahan) dari seorang perempuan. Bahkan lelaki pun saat jadi ayah pasti akan terharu.

Nah.. pertanyaannya: Pertama, Bolehkah make up bagi muslimah yang sedang berusaha menjalankan ajaran agama secara kaffah? Kedua, fenomena perempuan muslimah sebagai “Beauty Influencer” di Instagram dan sosmed lainnya apakah bernilai dakwah atau malah justru menurunkan nilai perempuan muslimah?

Pertama, ada dalil yang menyebutkan bahwa Allah itu Maha Indah maka wajar kalau kita sebagai makhluk-Nya pun berpenampilan baik & enak dilihat sebagai wujud rasa syukur pada karunia-Nya. Boleh saja berkosmetik asal tidak berlebihan. Ada juga yang melarang make up kalau niatnya cantik bukan untuk suami karena “mengundang mata lelaki yang bukan mahram”. Dalil kedua dilandasi kehati-hatian. Lagian kalau wudhu mau ibadah kan make up-nya luntur lagi. Percuma kan beli mahal-mahal? Lebih baik untuk keperluan lain yang akan menambah amal kita, misalnya beli kosmetik waterproof oopppsss… maksudnya untuk beli kambing atau sapi buat Idul Qurban yang akan dijelang (Bulan Agustus 2019) nanti. Masih banyak loooh saudara-saudara kita yang jarang banget makan daging. Sementara itu kita beli pewarna wajah cuma buat ditemplokin beberapa jam aja. Itupun untuk dihapus pake make up remover. Belum lagi kalo pake jasa make up artist.. wuiiih bisa jutaan tuh keluar duitnya. Kebeli kali tuh sapi satu ekor, gak perlu patungan 7 orang lagi.. (gak segitu juga kali?! Kecuali buat make up artist internasional?).

Kedua, positifnya memang pemakai hijab itu semakin banyak dengan masifnya para beauty influencer hijaber. Mulai dari cuma pake scarf doang sampai ke hijab syar’i yang butuh kain bermeter-meter. Cuma apakah aktivitas ini bernilai dakwah atau justru semakin mengeksploitasi perempuan secara halus? Soalnya perempuan mau dibungkus kayak apa juga kalo masih terlihat menarik malah akan menimbulkan fitnah dunia. Apalagi foto selfi yang disebar dimana-mana.. sementara itu, jaman dulu istri dan putri Rasulullah selalu pakai hijab kain seperti tirai kalau ada orang yang mau bertanya soal agama. Bukan cuma hijab yang dipakai di kepala. Saking menjaga dirinya. Udah kayak gitu aja masih ada fitnah tertuju ke Aisyah gara-gara beliau nebeng unta sahabat Rasul. Gimana kita yang begitu bebas. Tak ada lagi ada tirai diantara diri dan dunia ini. Hiks.

Kalau bicara soal ideal memang apa yang ada dalam masyarakat sekarang jauh banget dari gambaran ideal Islam jaman dulu

Namun bukan berarti juga kita pesimis dengan kejayaan Islam di masa akan datang. Dunia luar dengan atau tanpa menjadi fashionista memang rawan buat perempuan. Jadi sebisa mungkin perempuan muslimah sendiri mendefinisikan arti cantik secara seimbang antara tuntunan ajaran Islam sebagai pegangan hidup dengan cantik secara universal yaaang jelas butuh kosmetik dalam keseharian. Minimal perawatan lah biar gak katro-katro amat. Kan udah banyak produk halal kekinian. Soal dandan yang jadi masalah kan juga soal waktu. Kalau bisa bagi waktu kan keren. Bisa urus ini itu sambil tetap tampil cantik. Kalo aku sih rada pilih waktu, tempat dan even yang dituju kalau mau dandan komplit karena masih punya anak-anak balita. Kalau maksain dandan komplit setiap mau keluar rumah juga kayaknya mission impossible deh. Sejam dua jam biar muka rada instagramable sociable dengan resiko anak-anak gak keurus. “Maaaa. … makaaaann.. minuuummm.. pipiiiiss… puuuuppp..,” maklumlah masih pada balita, masih harus dibantu sikit-sikit.

Kalau baca Fiqih Wanita atau buju-buku islami tentang perempuan memang gak ada panduannya sih pake kosmetik ala bulu mata cetar membahana. Paling dibahas soal perawatan tubuh aja sih secara seribu empat ratusan tahun lalu belum ada inovasi produk. Jadi paling perawatan umum aja: keramas, siwak (gosok gigi), cukur rambut kemaluan setiap Hari Jumat, pake celak, pake parfum tak berwarna dengan wangi menyengat di Hari Jumat (buat bapak-bapak), pake parfum warna warni dengan wangi lembut (buat ibu-ibu). Walau pemakaian parfum buat perempuan masih juga ada beda pendapat, ada yang mengharamkan ada juga yang boleh sewajarnya. Mungkin kalau pake sabun wangi masih bolehlah kalau pake parfum yang kecium dari jarak 5 meter itu gak boleh. Soalnya wewangian juga bisa menimbulkan sesuatu antara mereka di luar sana. Nah.. soal ini lazim banget nih karena hijaber ada juga yang bajunya udah panjang dobel dobel jadinya menimbulkan bau kurang sedap. Padahal udah pake sabun wangi. Sekarang ada juga inovasi pewangi buat bajunya… jadi solusi buat menghilangkan bebauan karen bajunya dobel dobel.

Jadi sebenernya udah gak ada alasan lagi untuk tidak taat agama sekaligus masih bisa eksis di dunia yang fana ini (baca: diterima masyarakat umum). Iya gak? ( ratih karnelia )


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *