SPI di Era MEA

Serius? Pintar? Inklusif? Santai? Peduli? Interaktif? Suara Pembebasan Ibu rumah tangga? Apapun singkatan SPI selain Suara Perempuan Indonesia, menjadi hak anda sebagai pembaca. Di awal tahun ini, melalui Whatsapp dan BBM, SPI memulai Gerakan DO IT SPI (Suami Pria Idamanku). Terdengar main-main, melanggengkan patriarki, ataupun sebutan lain yang mencirikan bahwa SPI sesungguhnya hanya berusaha membuat perempuan statis. Tidak beranjak kemana-mana, tak menjadi apa-apa. Benarkah?

 Sumber: RRI

Di koran nasional, media mengingatkan bahwa tahun 2016 adalah tahun dimulainya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Setiap Negara ASEAN mempersiapkan beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan perdagangan lintas Negara. Benar, MEA tanpa ingar bingar. Sepertinya pemerintah di wilayah ASEAN paham, bahwa masyarakat butuh waktu dalam masa transisi. Siap tak siap harus siap? Pemerintah Indonesia masih bersiap di sektor perdagangan, perhubungan, perijinan, dan peningkatan kualitas SDM. Delapan profesi yang menjadi prioritas menyusul penandatanganan mutual recognition arrangements (MRA) antara negara ASEAN, yakni akuntan, teknisi, surveyor (bidang pertanahan), arsitek, perawat, tenaga medis, dokter gigi dan tenaga pariwisata.

Bagaimana dengan sektor rumah tangga yang menjadi basis kuatnya sektor-sektor lain? SPI dengan Gerakan DO IT SPI (Suami Pria Idamanku) menjaga berbagai kemungkinan terburuk yang bakal terjadi di negeri ini sehubungan dengan akan banjirnya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Barangkali bukan menjadi perhatian Kementrian, apalagi kalau Presiden harus turun tangan untuk hal remeh temeh macam urusan rumah tangga. Sebab urusan rumah tangga menjadi hak masing-masing individu. SPI dalam hal ini melihat tantangan tahun 2016 ini sebagai peluang bagi perempuan sebagai ibu rumah tangga berperan sebagai supporter terbaik bagi pasangannya bersamaan dengan peluang menggiurkan yaitu go internasional ke negara-negara ASEAN, tentu bila sesuai dengan 8 profesi prioritas yang dipersiapkan pemerintah dalam hal peningkatan kompetensi dan sertifikasi profesi dari tenaga kerja-tenaga kerja tersebut .

Lalu bagaimana dengan para perempuan di luar kedelapan profesi yang ada dalam MRA? Sementara belum produktif apalagi sesuai standar untuk go internasional ke negara-negara ASEAN, godaan untuk shopping online merajalela. Bayangkan bila perempuan dalam lingkup terkecil masyarakat yaitu rumah tangga hanya gemar belanja daring tanpa produktif dari rumah? Bila stabilnya sebuah Negara ditandai dengan ‘aman dan nyaman’-nya kehidupan para ibu rumah tangga, maka layaklah bila SPI menggawangi agar para ibu tetap kuat di tengah hantaman badai ketidakpastian ekonomi di masa depan. Pantaslah bila SPI memberikan ransum bagi pikiran, emosi dan spiritual para perempuan (khususnya ibu rumah tangga) untuk tetap siap, siaga dan sigap menghadapi berbagai tantangan.

Bagi para perempuan yang belum berumah tangga, hal-hal semacam ini luput dari perhatian. Tentu saja, tanpa bermaksud menyepelekan, tapi masyarakat dalam realita terdiri dari rumah tangga-rumah tangga yang terlibat, melibatkan dan dilibatkan dirinya dalam keberlangsungan bangsa dan Negara Indonesia. Apa jadinya bila perempuan, selalu berkontribusi negatif dalam lingkup terkecil masyarakat, yaitu rumah tangga. Gerakan DO IT SPI dimulai dengan berkontribusi positif para perempuan pada sebuah rumah tangga. Nasihat baik, konsultasi, dukungan moril materil pada kehidupan masyarakat secara umum, misalnya advokasi pengurusan dokumen atau kontribusi pada pembangunan fasilitas umum (akan bertambah seiring dengan perjalanan waktu). Dunia online bukan lagi sarana konsumtif, dunia online menjadi sarana perempuan untuk lebih produktif, terlibat langsung dengan sektor lain di luar rumah tangga sembari tak abai pada pendidikan dan perkembangan anak-anak. Lepaskan tabu bahwa rumah tangga adalah urusan individu. Sebab rumah tangga adalah basis sebuah bangsa dan Negara, maka rumah tangga menjadi urusan publik. Tentu dengan batas-batas kewajaran: apa, kapan dan bagaimana sebuah rumah tangga itu menampilkan dirinya.

Selamat datang tahun 2016. Selamat datang jiwa-jiwa perempuan baru. Selamat sukses rumah tangga-rumah tangga Indonesia. (ratih karnelia)

 

Leave a Reply