fbpx
FaithCoffee

Senjata Pemusnah Massal, Urgen atau Perlu Diantisipasi

Bagikan

Pertama kali dengar dan mulai cari info soal senjata pemusnah massal ini saat dimintai masukan untuk naskah pidato Kapolri untuk rapat dengan Menkopolhukam. Kaget. Apa masih ada ambisi untuk membunuh ribuan orang, saat dunia begitu damai? Peperangan di beberapa belahan dunia saja, apa perlu melebar hingga Indonesia turut terlibat didalamnya? Lebih ekstrim lagi, apakah Perang Dunia Ke-3 akan segera dimulai?

Tulisan ini tentu tidak akan membahas masukan kami pada Kapolri sebab itu sifatnya rahasia. Namun, beberapa peristiwa nasional maupun internasional membuktikan bahwa senjata pemusnah massal itu memang ada dan serius dipergunakan untuk mengeksekusi sebuah bangsa ataupun menyerang orang per orang. Sebut saja Suriah. Sehingga jelas dua blok berbeda di dunia yang pro kontra dengan adanya pembantaian di Suriah. Negara-negara yang tidak setuju pembantaian itu balas serang dengan bom terukur menuju markas persenjataan Suriah. Sedangkan negara-negara yang tidak setuju (termasuk Indonesia) meminta ada kejelasan secara internasional soal serangan balik ke Suriah mengingat intervensi senjata ke negara berdaulat harus ada keputusan sidang PBB.

Sumber Gambar tribunnews


Bagikan
Bagikan

Pertama kali dengar dan mulai cari info soal senjata pemusnah massal ini saat dimintai masukan untuk naskah pidato Kapolri untuk rapat dengan Menkopolhukam. Kaget. Apa masih ada ambisi untuk membunuh ribuan orang, saat dunia begitu damai? Peperangan di beberapa belahan dunia saja, apa perlu melebar hingga Indonesia turut terlibat didalamnya? Lebih ekstrim lagi, apakah Perang Dunia Ke-3 akan segera dimulai?

Tulisan ini tentu tidak akan membahas masukan kami pada Kapolri sebab itu sifatnya rahasia. Namun, beberapa peristiwa nasional maupun internasional membuktikan bahwa senjata pemusnah massal itu memang ada dan serius dipergunakan untuk mengeksekusi sebuah bangsa ataupun menyerang orang per orang. Sebut saja Suriah. Sehingga jelas dua blok berbeda di dunia yang pro kontra dengan adanya pembantaian di Suriah. Negara-negara yang tidak setuju pembantaian itu balas serang dengan bom terukur menuju markas persenjataan Suriah. Sedangkan negara-negara yang tidak setuju (termasuk Indonesia) meminta ada kejelasan secara internasional soal serangan balik ke Suriah mengingat intervensi senjata ke negara berdaulat harus ada keputusan sidang PBB.

Sumber Gambar tribunnews

Mengingat beberapa perjanjian Internasional melarang keras penggunaan senjata pemusnah massal baik berupa cluster bomb, nuklir, senjata biologis atapun senjata kimia bahkan cyber crime dan mengingat pula penggunaan privilege pemegang Hak Veto pada sidang PBB yakni negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam hal ini Rusia, China yang pro Suriah. Tentu sidang PBB bagi kami hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Oleh karena itu, kami mendukung sikap Donald Trump, Presiden AS untuk menyerang pangkalan udara Suriah yang diduga kuat sebagai landasan pesawat tempur  yang membawa bom kimia pemusnah massal tersebut.

Senjata Kimia di Indonesia

Lalu balik ke dalam negeri , soal senjata kimia, digunakan untuk menyerang Novel Baswedan, penyidik par excellence KPK yang sedang menyelidiki kasus-kasus korupsi yang melibatkan nama-nama besar di Indonesia.   

Jika demikian membahayakan, maka senjata pembunuh massal ini, apakah menjadi urgen bagi negara sebagai alat bela diri atau justru perlu diantisipasi keberadaannya?

Senjata pembunuh massal ini menjadi urgen unuk diantisipasi jika negara menjadi target serangan dari pihak lain. Pun saat senjata pembunuh massal ini bukan berbentuk senjata Bom. Bagaimana jika senjata pembunuh massal ini memiliki bentuk-bentuk lain seperti narkoba yang melumpuhkan generasi muda, cyber crime yang bisa meretas sistem kendali otomatis persenjataan, sistem keamanan, serangan pemikiran yang mematikan kecintaan pada negara & bangsa, dan atau tontonan pornografi melenyapkan iman takwa?

Sumber Gambar metrotvnews

Lebih lanjut, Indonesia Perlu ikut terlibat dalam penindakan tegas jika keberadaan senjata pembunuh massal ini digunakan kelomok, negara untuk menyerang  pihak lainnya demi kekuasaan negara. Jika demikian halnya, maka ini sama saja dengan penjajahan pada pihak lainnya, minimal intimidasi pada orang per orang, kelompok atau bangsa lain. Mereka yang akan terenggut hak-hak hidupnya, hak untuk merasa aman, damai, tentram dan sejahtera.

Soal  keberadaan senjata pembunuh massal berupa ancaman keamanan bangsa ini perlu menjadi concern pemerinah itu sudah pasti. Oleh karena itu perlu dicermati konteks penggunaannya serta target sasaran yang dituju, strategi dan SDM kita harus bisa memetakan dan mematahkan. Tak kalah penting adalah soal budget pemerintah soal antisipasi senjata pembunuh massal ini. Sebab pilihan dilematis seringkali muncul saat minim budget. Di satu sisi, urgensi antisipasi keberadaan senjata massal ini demi kelangsungan hidup bangsa & negara. Di sisi lain, perlawanan terhadap korupsi yang mengakibatkan anggaran untuk antisipasi proliferasi senjata pemusnah massal nihil tentu  akan ada pihak-pihak yang menderita, menjadi korban dengan adanya senjata pembunuh massal ini. yang Tentu lebih membahayakan kemanusiaan. Dengan efek psikologis tahunan. Belajar dari peristiwa bom Hiroshima di Jepang. Orang yang selamat memang banyak, namun mereka menderita cacat tubuh seumur hidup atau menderita secara psikologis karena tak dapat melupakan peristiwa besar dalam hidup mereka sehingga sulit untuk bangkit lagi. Kehilangan keluarga, kehilangan rumah, dan tentu saja, kehilangan masa depan., Negara Indonesia hanya akan menjadi sejarah.


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *