Perawatan Taman Bentuk Peduli Lingkungan, Pererat Hubungan Sosial

Lahan dialihfungsikan menjadi perumahan itu biasa, justru semakin menjamur di daerah Serpong dan sekitarnya. Entahlah status lahan sebelumnya apakah memang daerah resapan air yang terlarang untuk perumahan atau bukan. Jelasnya, beberapa developer perumahan yang berada di wilayah Serpong dan sekitarnya seperti menebus ‘kesalahan’ dengan membuat taman-taman diantara rumah-rumah yang berderet. Dus, keberadaannya menjadi satu bagian dengan keberadaan rumah-rumah pun jadi tanggung jawab warga untuk turut menjaganya. Meskipun, tanggung jawab terbesar tetap ada di tangan pengelola.

Perawatan taman, haruslah mengesampingkan status sosial serta berbagai sebab akibat bagi si perawat taman. Sebab akibat?  Ya, perawat taman bukanlah profesi yang membanggakan bahkan untuk kalangan pemulung dan pedagang keliling. Mereka semua menolak, akan menerima asalkan diberi bayaran, sama dengan bayaran pembantu rumah tangga yang setiap hari datang. Padahal taman hanya perlu ditengok seminggu sekali, disapu atau dibersihkan dari rerumputan liar.

Sebabnya, perawatan taman seperti menjadi kerja sosial bagi si tersangka entah kejahatan apa yang sudah diperbuat. Begitu gengsi untuk melakukan sesuatu di taman. Entah sekedar disapu, dibersihkan dari rumput liar, atau hanya dilihat keindahannya. Taman otomatis hanya menjadi arena bermain anak-anak di sore hari; tempat kongkow bapak-bapak; tempat curhat ibu-ibu yang semakin jarang. Ataupun tempat hewan peliharaan melepas penat karena seharian di dalam rumah.

Akibatnya, hanya segelintir orang mau berurusan dengan taman. Taman dibiarkan berumput tinggi. Lebat. Tak diurus. Banyak sampah. Sehingga bukan saja tak sedap dipandang, malah menjadi sarang ular yang jadi isu hot bagi ibu-ibu. Beberapa orang mencoba beri solusi supaya rumputnya tidak tinggi ya harus rajin dibersihkan. Supaya ular tidak masuk rumah ya cari akal dengan pakai keset ijuk serta beragam tips lainnya. Semua disampaikan melalui alat komunikasi, tidak secara langsung. Sekedar saran. Hanya beberapa saja yang benar-benar peduli. Semua terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Mengapa? Tentu saja, si perawat taman ini bukan profesi yang menyenangkan. Tidak bergengsi. Tidak ada pula bayarannya. Apalagi kadang juga malah perlu mengeluarkan kocek biar rumput liar tak terus meninggi dengan membayar pemotong rumput profesional yang punya alatnya.

Seandainya aku perawat taman. Tak mengapalah dianggap sok cari muka atau barangkali ada berbagai macam sebutan lainnya yang tak kalah kejam. Barangkali juga ada yang senang, bersyukur ada orang yang mau peduli taman, asalkan bukan dirinya. Mudah-mudahan sih si perawat taman diterima dengan baik. Bukan masalah dipandang sebelah mata atau malah justru dipelototi. Semua konsekuensi tak hanya ditanggung sendiri, tentu bersama RT yang baik hati. Begitulah resiko tinggal didalam perumahan. Tak mudah untuk bangun kesadaran sementara bertemu pun jarang. Perawatan taman bukan saja bentuk peduli lingkungan upaya meminimalisir bencana alam sebagai manfaat jangka panjang. Kedekatan dengan keluarga dan tetangga pun bisa dibangun di taman dengan kegiatan berkebun bersama sebagai manfaat jangka pendek. (ratih karnelia)

Leave a Reply