fbpx
FaithCoffee

Pengungsi Suriah Inspiratif Bagi Pemuda Pemudi Indonesia

Bagikan

Para pemuda masa kini, keluar dari kampung masing-masing, merantau cari ilmu atau kerja. Kehidupan mereka tentu lebih baik daripada para pengungsi Suriah yang terpaksa meninggalkan segala miliknya di kampung halaman dengan terpaksa: cinta, keluarga, rumah, pekerjaan, bahkan masa depan! Negara-negara Eropa bersedia menampung mereka, terutama Jerman terkecuali Inggris. Saat inilah menjadi ujian bagi muslim sebagai pengungsi untuk membuktikan pada dunia, wajah Islam yang sesungguhnya. Bahwa muslim bukan sekedar menjadi korban walau status mereka sebagai pengungsi. Beberapa kisah mengharukan seputar pengungsi Suriah beredar di media elektronik maupun media sosial. Berbagai kisah seolah makin menguatkan bahwa hidup ini sangat berharga untuk diperjuangkan: seorang bapak berjuang menjual beberapa potong bolpoin demi menyambung hidup diri, istri serta keempat anaknya.

Ada pula kisah seorang anak perempuan begitu ketakutan melihat kamera foto yang dikiranya senjata, dengan spontan ia lantas mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Namun, adakah muslim Suriah di hati kita? Dapatkah kita menyerah setelah mendengar kisah-kisah inspiratif mereka?


Bagikan
Bagikan

Para pemuda masa kini, keluar dari kampung masing-masing, merantau cari ilmu atau kerja. Kehidupan mereka tentu lebih baik daripada para pengungsi Suriah yang terpaksa meninggalkan segala miliknya di kampung halaman dengan terpaksa: cinta, keluarga, rumah, pekerjaan, bahkan masa depan! Negara-negara Eropa bersedia menampung mereka, terutama Jerman terkecuali Inggris. Saat inilah menjadi ujian bagi muslim sebagai pengungsi untuk membuktikan pada dunia, wajah Islam yang sesungguhnya. Bahwa muslim bukan sekedar menjadi korban walau status mereka sebagai pengungsi. Beberapa kisah mengharukan seputar pengungsi Suriah beredar di media elektronik maupun media sosial. Berbagai kisah seolah makin menguatkan bahwa hidup ini sangat berharga untuk diperjuangkan: seorang bapak berjuang menjual beberapa potong bolpoin demi menyambung hidup diri, istri serta keempat anaknya.

Ada pula kisah seorang anak perempuan begitu ketakutan melihat kamera foto yang dikiranya senjata, dengan spontan ia lantas mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Namun, adakah muslim Suriah di hati kita? Dapatkah kita menyerah setelah mendengar kisah-kisah inspiratif mereka?

Ya.. di Suriah, anak-anak yatim masih saja semangat memegang teguh agama mereka, tetap menghafal Al Quran walau nyawa menjadi taruhannya. Sementara, pemuda kita di Indonesia, begitu mudah lalai dan abai soal agamanya, padahal negeri  ini damai tentram tanpa perang berkecamuk. Anak-anak lelaki disana berani syahid! Subhanallah. Sementara disini, masjid-mesjid sepi dari jamaah. Jangankan untuk hafalan Al Quran, untuk shalat wajib pun belum termaksimalkan.

Sumpah Pemuda nampak begitu agung bagi pemuda pemudi Indonesia. Mengapakah syahadat kurang nilainya dibandingkan Sumpah Pemuda? Padahal, sebagai muslim yang percaya adanya hari akhirat, syahadat adalah sebuah komitmen seumur hidup, dibawa sepanjang hayat pun menjadi bekal di akhirat. Mudah-mudahan saja, rasa cinta pada Allah SWT dan Rasulullah tetap terpatri sebagai cinta nomer satu di dada setiap pemuda pemudi muslim. Walau jalannya tak mudah dan selalu banyak rintangan. Tetap percaya, rintangan pemuda pemudi muslim di Indonesia masihlah belum sebanding dengan rintangan super berat yang dihadapi para pengungsi Suriah. Selamat Hari Pengungsi Sedunia (24 Oktober) dan  Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober)!

 


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *