fbpx
FaithCoffee

Merdeka Sebelum Mati: Bebas dari Prasangka dan Hakim Menghakimi

Bagikan

 

 

Merdeka! Merdeka atau Mati! Teriakan pejuang di masa penjajahan sebelum Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka. Dengan kondisi 95% rakyatnya buta huruf. Ya…kemerdekaan sudah disadari rakyat Indonesia sebagai suatu keniscayaan bahkan sebelum mereka bisa membaca. Jika di masa kejayaan Islam, dipimpin oleh pemimpin yang tak bisa baca tulis, maka Indonesia dipimpin oleh seorang terpelajar dengan rakyat yang tak bisa baca tulis. Lalu mengapakah keduanya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka bahkan sempat berjaya?

Apa arti merdeka sesungguhnya bila ternyata bisa terjadi di tengah masyarakat yang belum melek huruf, bahkan belum juga mapan secara ekonomi pada jamannya?


Bagikan
Bagikan

 

 

Merdeka! Merdeka atau Mati! Teriakan pejuang di masa penjajahan sebelum Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka. Dengan kondisi 95% rakyatnya buta huruf. Ya…kemerdekaan sudah disadari rakyat Indonesia sebagai suatu keniscayaan bahkan sebelum mereka bisa membaca. Jika di masa kejayaan Islam, dipimpin oleh pemimpin yang tak bisa baca tulis, maka Indonesia dipimpin oleh seorang terpelajar dengan rakyat yang tak bisa baca tulis. Lalu mengapakah keduanya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka bahkan sempat berjaya?

Apa arti merdeka sesungguhnya bila ternyata bisa terjadi di tengah masyarakat yang belum melek huruf, bahkan belum juga mapan secara ekonomi pada jamannya?

 

Sebab mereka, baik pemimpin dan rakyatnya sudah merdeka sebelum mati. Bebas dari prasangka dan hakim menghakimi satu sama lain. Bayangkan bila antara pemimpin dan rakyat saling berprasangka dan saling menghakimi, tentu tak ada rasa percaya satu sama lain, sehingga sulit untuk bersatu untuk kemudian berhubungan dengan bangsa lain.

Prasangka dan hakim menghakimi, terutama pada pemerintah saat ini terjadi karena banyaknya pejabat korupsi. Sehingga sedikit saja berbicara soal pemerintahan, apalagi soal pajak, langsung mengarah pada koruptor. Padahal, dalam dunia perpolitikan, mudah saja yang hitam jadi putih dan yang putih jadi hitam. Belum tentu prasangka rakyat itu benar. Siapa tahu koruptor yang ada di penjara saat ini beberapa diantaranya dijebak karena faktor politik. Bayangkan jika keluarga anda sendiri dituduh koruptor karena ‘terlihat kaya’. Orang semakin bebas main tuding dalam sosial media sesuai dengan prasangka mereka sendiri. Main hitung-hitungan gaji sebagai patokan rejeki seseorang. Padahal bisa saja baru dapat warisan, bisa saja hasil usaha lain, bisa saja semuanya belum lunas, bisa saja hasil perjuangan puluhan tahun makan tahu tempe. Ya.. orang mudah berprasangka buruk, terutama bila ada keberuntungan yang diperoleh pihak lain. Tanpa mau klarifikasi, tanpa mau tahu sejarah.

SPI mengakui, sebagai lembaga dengan media perjuangan lewat sosial media dan website, pernah juga ada dalam lingkaran setan anti koruptor dengan dasar berita di media tanpa klarifikasi ulang. Memang sulit tanpa pembuktian terbalik. Kini, SPI memulai gerakan-gerakan baru yang lebih positif saat terjun di masyarakat, live in atau terlibat langsung di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan. Merdeka Sebelum Mati: Bebas Prasangka dan Hakim Menghakimi. Tak perlu bingung untuk berinteraksi dengan siapapun dimanapun, sebab tanpa prasangka dan menjadi hakim dalam kehidupan sosial, hidup jadi lebih mudah. Senyum dengan mudah ditebar dengan tulus. Kondisi ekonomi ataupun latar belakang pendidikan bukan menjadi alasan untuk bersikap baik atau jutek. Please be fair, it would be good for your health. Istilah sederhananya: jangan suka berprasangka buruk atau suka menghakimi orang lain, ntar cepet mati! (ratih karnelia)   


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *