FaithCoffee

Menjadi Beradab Di Tahun Baru Islam dan Di tengah Pandemi

Bagikan

Peringatan! Dilarang teruskan  baca ini karena dapat mengakibatkan baper akut. “Semua juga sudah tahu, menjadi manusia punya harkat martabat” tapi tak pernah cukup. Sebab di jaman beradab ini, ia harus memiliki titel profesi untuk melengkapi dirinya berdiri tegak di bumi. Bukan untuk diri sendiri, melainkan membentuk imaji orang lain tentang kita. Sebagaimana hampir seluruh penduduk bumi mengalami, adanya perbedaan antara memahami dunia secara “logis” atau “spiritualis”. Walaupun telah ada banyak kajian soal bagaimana pendidikan berperan pada seseorang, apakah akan mengantarkannya pada sebuah tujuan duniawi atau ukhrawi, agama selalu menjadi penyeimbang. Tapi seringkali agama “dituduh” sebagai opium yang melenakkan seorang perempuan dan atau lelaki dalam menjalani kehidupan. Sejatinya agama memacu manusia untuk berusaha dan berdoa hingga limit. Kesan bahwa pemeluk agama itu cenderung leha-leha semakin terkikis dengan munculnya tokoh-tokoh masyarakat sukses yang relijius. Pertanyaannya, apakah dalam rangka menjadi manusia beradab, diperbolehkan memakai cara-cara tak beradab yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, sosial, hukum yang berlaku?

Jika rujukan kita sebagai muslim adalah sosok Rasulullah SAW. Cara beliau menawarkan dagangan, misalnya, buah yang busuk pun dijajakan dengan jujur soal kondisinya. Anehnya, laku-laku aja. Manusia jujur begitu semakin jarang, pun reaksi masyarakat sebagai pembeli pun mungkin tidak akan sama dengan reaksi masyarakat dulu. Tapi ada yang bilang, jaman tidak berubah dari segi manusianya. Cuma karena ada teknologi aja, semua tampak berbeda. Namun, secara esensial, manusia masih sama aja, dari dulu hingga sekarang. Maka Al Quran akan selalu relevan hingga kiamat tiba. Butuh keimanan untuk memahami hal ini. Jika tidak, Al Quran hanya akan dianggap sama dengan buku-buku lain. Sekedar teks tak berarti, bahkan dituduh sebagai karangan Muhammad, padahal sebagaimana muslim tahu, Nabi Muhammad itu ummi, tidak bisa baca tulis. Bagaimana mungkin bisa membuat sebuah karya sedemikian bahkan mengetahui hal-hal yang terjadi jauh di masa lalu sebelum beliau lahir. Serta meramalkan masa depan yang belum pernah terjadi di jamannya.

Beradab. Apakah sekedar mengikuti model-model baju kekinian, pandai menggunakan gadget, menguasai berbagai macam software? Hal-hal yang suatu saat ada masanya, tergantikan oleh model-model baru, teknologi baru. Lalu menjadi beradab sesungguhnya sebagai manusia itu apa? Tidak cukup kata “modern”. Mampu dengan cepat berpindah-pindah pola pikir dalam waktu bersamaan. Peran ibu, sekaligus sebagai karyawan, misalnya. semua dilakukan dalam satu waktu. Terutama di waktu pandemic. Di saat semua orang kini merasakan sulitnya membagi peran dalam sebuah ruang yang sama. Pengaturan emosi dikarenakan harus terus menerus switching peran secara cepat. Dikejar deadline, dikejar tuntutan lain, pencapaian sebagai seorang manusia. Mengapa perlu agama dalam rangka menjadi beradab? Bukankah cukup dengan memiliki ini itu sebagai bukti seorang manusia itu berhasil sebagai makhluk hominis dan human? (Sesuai artikel “Ibu, Di rumah Saja Juga Manusia”). Aspek emosional dan spiritual manusia perlu ditopang oleh agama. Saat tuntutan hidup semakin berat, tak cukup pikiran manusia itu diganjal benda-benda. Ada sesuatu yang haus dan harus dicari. Agama memberikan jawabannya. “Bukankah manusia spiritual itu cukup mengenal Tuhan, berbagi dengan manusia lain dan tidak berbuat jahat?” Agama memberikan standar dan indikator. Maka banyak orang tak setuju jika agama menjadi alat politik. Cuma mereka yang menang dalam politik yang berhak menentukan standard a/n indicator itu. Lalu berhak melabeli buruk mereka-mereka yang berbeda pandangan politiknya. Padahal masih dalam satu jalur agama yang sama. (rkk)

 


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *