Mengapa Orang Indonesia Sulit Lepas dari Korupsi?

Mengapa orang Indonesia sulit melepaskan diri dari korupsi? Apakah ini persoalan pendapatan yang kurang? Jika bukan, lantas apa yang membuat mereka melakukan hal demikian merugikan negara? Menjadi klise bila persoalan korupsi menjadi soal budaya dan mental. Sehingga sulit untuk mengubahnya sebab bicara soal budaya dan mental, tentulah keduanya mengakar kuat. Untuk menghilangkannya perlu dicabut dari akarnya. Mengapa negara lain minim korupsi? Apakah sedemikian sucikah orang-orang di negara lain? Bahkan negara-negara sekuler?

 

Pertama, korupsi seringkali menjadi bias saat hal yang dilakukan sebenarnya GRATIFIKASI tapi dimaksudkan untuk “sedekah”. Bila ada “jasa pengaruh” karena kedudukan seperti dalam kasus Irman Gusman, maka uang yang diberikan jelas gratifikasi walau nominalnya ‘hanya’ Rp 100 juta untuk sekelas Ketua DPD.

Kedua, perbedaan upah yang menyolok antara atasan bawahan atau WNI dengan WNA.

Ketiga, tuntutan dunia digital yang menggila. Orang semakin mudah pamer melalui sosmed.

Keempat, tekanan untuk berstatus sosial tinggi dari lingkungan sosial, pertemanan dan keluarga. Balas dendam pada kehidupan lampau.

Kelima, agar mendapatkan pengaruh dalam lingkungan. Gain power with money. Gain respect with money. Anggapan bahwa kekuasaan baru akan terasa pengaruh dan kehormatannya diperoleh karena uang.

Keenam, terlalu banyak program dengan anggaran minim, atau sebaliknya. Program yang sedikit, anggaran bengkak. Jika kelebihan anggaran ini dikembalikan ke pusat, sulit untuk mendapatkannya kembali karena birokrasi yang berbelit, prosedur yang panjang.

Ketujuh, alasan kemanusiaan. Keluarga sakit atau terdesak kebutuhan lainnya menjadi alasan bagi pegawai bergaji rendah untuk korupsi.

Kedelapan, sikap anti korupsi membuatnya dikucilkan dari pergaulan kantor, dianggap sok suci, sok pahlawan, tidak bisa diajak kerjasama. (ratih karnelia)

 

 

Leave a Reply