fbpx
FaithCoffee

Make Up Pilkada DKI Jakarta

Bagikan

Bagaimanakah memahami politik dari sudut pandang perempuan? Benarkah perempuan, khususnya emak-emak tak peduli soal quick count atau real count, hanya peduli dis count? Apakah harapan selepas pilkada, khususnya usai Pilkada DKI Jakarta?

Politik kini memang bukan menjadi monopoli kaum lelaki. Entah itu partisipasi secara nyata atau sekedar gossip politik. Sambil ngebaso, ngaji atau percakapan di group whatsapp, perempuan pun turut partisipasi walau politik sekedar jadi bahan obrolan. Benar..bahwa silent majority atau mayoritas anggota masyarakat yang memilih diam itu bukan berarti tak paham, tak peduli atau tak ingin turut serta mengubah masyarakat dengan obrolan politik. Kebanyakan memang memilih diam karena cape dengan atmosfer politik yang saat ini sering panas karena perbedaan. Padahal, perbedaan menjadi sifat alami manusia. Bahkan si kembar sekalipun tak punya kesamaan 100%.


Bagikan
Bagikan

Bagaimanakah memahami politik dari sudut pandang perempuan? Benarkah perempuan, khususnya emak-emak tak peduli soal quick count atau real count, hanya peduli dis count? Apakah harapan selepas pilkada, khususnya usai Pilkada DKI Jakarta?

Politik kini memang bukan menjadi monopoli kaum lelaki. Entah itu partisipasi secara nyata atau sekedar gossip politik. Sambil ngebaso, ngaji atau percakapan di group whatsapp, perempuan pun turut partisipasi walau politik sekedar jadi bahan obrolan. Benar..bahwa silent majority atau mayoritas anggota masyarakat yang memilih diam itu bukan berarti tak paham, tak peduli atau tak ingin turut serta mengubah masyarakat dengan obrolan politik. Kebanyakan memang memilih diam karena cape dengan atmosfer politik yang saat ini sering panas karena perbedaan. Padahal, perbedaan menjadi sifat alami manusia. Bahkan si kembar sekalipun tak punya kesamaan 100%.

Sumber Gambar StartupGuys

Lalu? Para aktor politik di panggung media layaknya perempuan yang ber-make up. Sebisa mungkin memulas poles wajahnya agar nampak lebih indah. Barangkali muka aslinya memang terlalu seram untuk diterima kenyataan pun apalagi dilihat orang. Kumpulan perempuan ini, mereka yang kritis akan situasi sosial politik negerinya tak ragu untuk berkomentar pedas sesuai isi hati. Ruang mereka privat. Namun bukan berarti keakraban yang dibangun tak bisa selaras dengan dunia media yang isinya penuh dengan polesan itu. Perempuan, lebih mengerti cara-cara untuk menjadi ‘cantik’ di hadapan public. Sayangnya, dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, salah satu paslon (paslon nomer urut 1, AHY dan Profesor Sylvi) yang menggandeng perempuan sebagai Wakil Gubernur nampaknya kewalahan untuk memoles wajah masa lalu dihadapan publik. Maka kekalahanlah yang menjadi  resikonya. Sementara itu, Kokoh Ahok dengan ribuan relawan yang pandai tumplek-tumplekin bedak di wajah jagoannya berhasil lolos, malah menurut hasil real count unggul dibanding dua paslon lainnya. Padahal ia juga tidak terlepas  dalam kontroversi untuk kasus korupsi dan didemo berkali-kali gara-gara ucapannya soal agama yang bukan keyakinannya. Ingat Ahok Ingat reklamasi, di situ ada puluhan ribu trilyun yang lahannya banyak dipasarkan secara massif di Negara Tiongkok  tapi Gubernur Ahok hanya meminta bagi hasil 15%, padahal menurut doktor Oceanografi ITB, Muslim Muin Kenapa bangga dapat 15% sementara di negara lain Negara dapat 80% dari daerah reklamasi. Dan Bosman Batubara—Kandidat PhD UNESCO-Institute for Water Education, Delft, Belanda mengatakan bahwa KOMPAS (30 September 1995 halaman 8) menyebutkan bahwa skema bagi hasil reklamasi Pantai Indah Kapuk ( PIK ) adalah 75:25% (MKY mendapatkan 75% lahan, dan PT Pelindo II/perusahaan negara, mendapatkan 25% lahan). Kalau benar bahwa skema bagi hasil dalam kontrak MKY adalah 75:25%, maka konstruksi logika soal dana kontribusi akan berubah total.

Sikap Ahok tidaklah progresif dalam meminta kontribusi tambahan sebesar 15%, karena itu justru adalah penurunan dari apa yang terjadi di 1997 (25%). Artinya, ditinjau dari sisi prosentase bagi hasil untuk negara, Ahok lebih buruk dari Orde Baru. Dengan demikian, kalau ini yang terjadi, maka tidak ada pilihan lain kecuali menyatakan bahwa Ahok pro pengembang, That’s Very Big Corrupt!

Sumber Gambar megapolitanKompas

Sementara paslon nomer 3, Anies dan Sandi sudah pandai ber-make up sendiri tanpa perlu di-make over oleh make up artist atau para relawan yang berkoar-koar, terutama di media sosial. Anies, seperti kita ketahui, memang pandai memanfaatkan momen semenjak terjun ke politik dimulai jaman Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang dimenangkan oleh Jokowi dan itu bukan kesalahan besar dalam politik.  

Bagi para perempuan ini, mereka yang tinggal di pinggiran kota Jakarta dan kebanyakan bekerja di Jakarta, kehadiran pemimpin yang mengerti pentingnya memanage dengan baik kota Jakarta berarti banyak. Jika Jakarta tak lagi macet dan banjir, itu artinya lebih cepat tiba di kantor juga lebih cepat tiba di rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Pemimpin yang mengerti mereka, ada yang mengartikan berarti seagama. Sebab bila seagama, sang pemimpin Jakarta akan menyediakan berbagai fasilitas yang nyaman untuk beribadah. Kemacetan dan banjir juga jadi kendala bila ingin melaksanakan ibadah.. sementara calon Gubernur yang lain agama, tentu takkan mengerti soal-soal spiritual di kota yang ganas, membutuhkan ketabahan dan kesabaran menghadapinya. Kokoh A Hoax bilang, banjir yang terjadi di Jakarta kan sebentar. So, gak masalah lah… Kalau kebakaran kan juga sebentar koh..tapi bagaimana dengan kerusakan yang ditimbulkannya?

Para pemilih paslon lain tidak tergiur diiming-imingi dapat Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat oleh Kokoh A Hoax, karena alasan keimanan yang tidak bisa diperjualbelikan, KJP dan KJS bukan diberikan cuma-cuma melainkan memang menjadi bagian dari APBD. Seandainya paslon lain yang menang pun masyarakat DKI Jakarta tetap akan mendapatkan KJP dan KJS bahkan lebih, itu harapannya.

Sumber Gambar kaskus

 Para pendukung Kokoh A Hoax yang muslim dicibir muslim pemilih pemimpin muslim. Mereka dianggap bagian dari golongan munafik yang tidak paham Islam serta tidak menjalankannya dengan baik. Sebaliknya, para A Hoax memandang sebelah mata pada muslim yang memilih pemimpin muslim, menganggap mereka sebagai alat politik paslon-paslon muslim. Sehingga muncullah sebutan politik sektarian. Mereka dianggap fanatik karena bawa-bawa agama dalam ranah politik, yang seharusnya bukan menjadi bagian ulama untuk ikut campur padahal sesungguhnya dalam Islam berpolitik adalah bagian dari Ibadah. Pola pikir muslim pendukung A Hoax dianggap maju oleh mereka sendiri didukung para sarjana lulusan pesantren yang mendapat beasiswa S2 dan S3 dari Negara-negara sekuler. Para pendukung A Hoax ini juga mengeluhkan soal Pilkada DKI Jakarta yang tak berpihak pada suara mereka. Buktinya ada 1000 warga yang diduga dihalang-halangi untuk mencoblos dengan berbagai alasan, kebanyakan kesalahan pemilih sendiri dalam  soal KTP yang belum elektronik dan tidak ada surat keterangan ( suket ) dari Disdukcapil.

Berdasarkan pengamatan dan laporan warga di 5 TPS Jakarta Selatan. Pihak A Hoax diduga melakukan kecurangan, misalnya jumlah suara yang digelembungkan, ada juga suara nihil untuk paslon lainnya dominasi suara 100% untuk A Hoax, intimidasi mental para pendukung A Hoax yang mengenakan baju kotak-kotak berkerumun di sekitar TPS.

Seperti apapun wajah paslon serta make up yang dikenakannya, tak membuat para pemilih silau atau gegabah dalam memilih. Kecerdasan pemilih DKI Jakarta terbukti tidak rasis karena paslon yang lolos ke putaran dua yang dijadwalkan 19 April 2017 bukanlah orang pribumi asli.

 

 


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *