Hujan Hutang

Hujan di hari Minggu membuat suasana menjadi lebih mellow. Apalagi kalau Indonesia baru saja menambah hutang yang dianggap sebagai pinjaman oleh yang terhormat Bapak Presiden. Barangkali kalau hutang perlu dibayar pakai uang, pinjaman bukan pakai uang. Entahlah. Pokoknya menurut Bapak Presiden, hutang dan pinjaman itu sesuatu yang berbeda. Beda tapi tak sama? Barangkali Bapak Presiden punya pikiran yang lebih maju dari kami, rakyat yang cuma tahu Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, kedua bahasa itu dipakai dalam berbagai transaksi yang melibatkan uang atau hutang. Berhubung Bapak Presiden pengusaha sukses yang sudah go international sampai ke U.S, pastinya paham Bahasa Inggris dan tahu dollar. Dalam Bahasa Inggris itu memang ada dua istilah, loan (pinjaman) dan debt (hutang). Memang, kalau pinjam uang dengan hutang uang itu serupa tapi mirip. Pinjam uang belum tentu bunga berbunga. Kalau hutang juga belum tentu bunga berbunga. Entahlah, Bapak Presiden punya tingkat ngeles setingkat dewa yang tak mungkin dipahami oleh kami, rakyat kecil yang tahunya kalau pinjam uang ya harus dikembalikan. Apalagi hutang uang.

World Bank (WB) sebagai lembaga dunia punya misi kemanusiaan yang positif di Negara-negara berkembang. Maka tak usahlah bersikap sinis dulu. Pada kenyataannya, Negara kita memang sedang kekurangan, pendapatan dari pajak dan lembaga-lembaga dalam negeri masih belum juga mencukupi padahal angkanya sudah trilyunan. Ada atau tidak ada World Bank, negeri ini pastinya mencari hutang eh pinjaman pada lembaga manapun sebisanya. Kabarnya, lembaga apapun di dunia ini, pasti juga meminta persetujuan World Bank dan IMF untuk mengucurkan dana pada Negara-negara berkembang.

Hujan hutang. Kalau hujan air menumbuhkan hutan lebat, hujan hutang menumbuhkan hutan beton. Ya.. hutang pada WB periode kali ini untuk proyek air minum dan sanitasi sebesar 5 miliar dollar AS, jalan tol 3 miliar dollar AS, konektivitas jembatan dan jalan 2 miliar dollar AS, dan penanggulangan bencana banjir sekitar 1,6 miliar dollar AS.. Mudah-mudahan juga hujan hutang kali ini bukan arena cari duit partai. Alirannya sampai ke tangan rakyat kecil. Bukan elit yang mengatasnamakan rakyat, atau merasa dirinya rakyat yang perlu disubsidi. (ratih karnelia)

Leave a Reply