Hari Kartini: Pengingat Perempuan Tersandera

Perempuan di bulan ini, dirayakan dengan cara Kartini berusaha melepaskan diri dari jerat feodalisme. Bahwa perempuan pada masanya tak punya pilihan, sulit terdidik dan harus diam di dalam rumah, terutama pada kalangan perempuan kelas bawah. Persis seperti kondisi sekelompok orang tersandera atau terjebak dalam reruntuhan. Tak dapat keluar dari situasi sulit karena dikendalikan pihak lain serta tak mengetahui kondisi dunia luar. Minta pertolongan pun bukan hal mudah.

 

*Gambar adalah lukisan berjudul  “Lipstick for Mother”, 1985 by Dede Eri Supria. Koleksi John McGlynn

 

Saat ini, para perempuan Indonesia berbangga hati karena berbagai prestasi di ruang publik. Walau prestasi ini pun disertai dengan temuan kekerasan dikarenakan sistem represif. Isu terkini, soal 9 perempuan yang memasung diri dengan semen karena mempertahankan tanah leluhur dan para perempuan korban penggusuran lokasi reklamasi. Apakah kebanggaan perempuan Indonesia harus luntur dengan adanya banyak kasus yang menjadikan perempuan sebagai korban? Bagaimana para perempuan seharusnya bersikap di tengah masyarakat yang secara fisik sudah modern namun perilaku masih saja di luar norma-norma kepatutan yang dibentuk masyarakat itu sendiri? Masihkah bangga bila perempuan Indonesia pergi ke luar negeri (para istri anggota DPR melancong ke luar negeri, penampilan bak seleb), ternyata disana semakin modern, beradab, justru sikap kesederhanaanlah yang ditonjolkan oleh para perempuan di negara-negara maju?

Justru, saat inilah, para perempuan Indonesia harus lepas dari bayang-bayang Ibu Kartini. Biarkan para perempuan menjadi dirinya sendiri, bangga dengan berbagai prestasinya sendiri –tanpa bermaksud meniadakan peran Kartini- lepaskan pemberitaan dimanapun: cetak atau digital dengan kata-kata ‘Kartini Masa Kini’. Sebab masa Kartini sudah lewat. Bukankah Kartini sendiri menginginkan para perempuan menjadi diri mereka sendiri tanpa belenggu adat diluar rasionalitas? Bukankah “Habis Gelap Terbitlah Terang” berarti tak boleh lagi ada perempuan bernasib sama seperti dirinya yang pada akhirnya menerima perjodohan? Inilah masa ketika setiap perempuan punya nama dan prestasi mereka sendiri. Hari Kartini menjadi sekedar pengingat bahwa di masa lalu perempuan pernah tersandera patriarki. Hari Kartini bukan menjadi momen menjadikan para perempuan masa kini sebagai bayang-bayang atau dayang-dayang Kartini, putri sejati. Setiap perempuan adalah putri sejati dengan caranya sendiri, sebab setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya. Bukan atas dasar siapa yang diikutinya.

Jadi, masa Kartini adalah belenggu budaya yang mengekang tanpa ada kepastian ‘pertolongan dari dunia luar’. Perempuan benar-benar tak berdaya dalam lingkungan keluarga dan tak punya kesempatan dalam lingkungan publik. Saat ini, belenggu hanyalah hadir selain karena sistem, juga karena belenggu yang dihadirkan oleh perempuan itu sendiri. Tak ada lagi alasan untuk menyalahkan patriarki atau lelaki. Sebab kini, dengan semakin mudahnya akses pada pengetahuan berkat dunia digital, perempuan seharusnya lebih cepat tersadarkan akan peran sentralnya dalam kehidupan. Sebagai manusia, memilih pekerjaan sesuai minat dan bakat tanpa menelantarkan anak-anak. SUARAKAN! dan do it…buat prestasi. (ratih karnelia)

Leave a Reply