Hari-hari Luar Biasa di Akhir Desember 2015

Akhir bulan Desember 2015 ini, ada beberapa hari peringatan nasional yang berbarengan di Indonesia. Hari Kesetiakawanan Sosial pada tanggal 20 Desember, Hari Perempuan atau Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 24 Desember dan Hari Natal pada tanggal 25 Desember.

 

Kegiatan pemerintah pada Hari Kesetiakawanan Sosial tahun ini adalah dengan gerakan menyumbangkan darah oleh para anak muda sebagai bentuk kepedulian pada kemanusiaan. Sementara hari perempuan atau hari ibu masih berpolemik: perempuan sudah berperan setara dengan laki-laki di berbagai bidang kehidupan namun sebagai ibu, masih memiliki resiko-resiko dalam hal mengandung dan melahirkan dengan masih tingginya angka kematian ibu dan anak pra-pasca melahirkan. Sementara itu, dua hari keagamaan besar yang berbarengan tahun ini aman, bebas dari terror yang sempat dikhawatirkan karena beberapa peristiwa terror yang terjadi di luar negeri.

Kesemuanya, memiliki benang merah: bahwa sebagai manusia, sebagai makhluk sosial, kita semua lahir dari satu Ibu Pertiwi yang seharusnya saling menopang kehidupan satu sama lain dengan berbagai cara dan bentuknya. Sumbangan darah hanyalah satu dari sekian cara manusia untuk peduli pada sesamanya. Peran ibu pun sebagai satu cara seorang manusia mengorbankan diri dan mencurahkan cintanya pada manusia lain. Lalu dua tokoh besar yang berperan besar dalam kemanusiaan ini adalah: Muhammad SAW dan Isa AS. Terlepas dari soal keyakinan para pengikutnya, kedua tokoh inilah sumber inspirasi pengorbanan terbesar yang dapat dilakukan seorang manusia demi manusia lainnya. Muhammad SAW selama hidupnya, walau hina di hadapan manusia, tidak memiliki harta berlimpah seperti raja-raja pada masanya, memperjuangkan Islam hingga akhir hayat. Segala yang dimilikinya hanya demi bersinar terangnya cahaya Islam di tanah kelahirannya pada saat itu hingga mendunia dan sampai saat ini. Isa AS, terlahir di tempat yang jauh dari keramaian orang, melajang, bekerja sebagai tukang kayu dan meninggal dengan menyisakan banyak pertanyaan. Keduanya memiliki pengikut yang menjalankan ajaran yang bermuara sama: kebaikan pada kemanusiaan. Maka menjadi heran bila dalam beberapa bulan belakangan muncul teror-teror yang mengatasnamakan agama yang melibatkan nama-nama besar Muhammad SAW dan Isa AS. Ini lebih buruk daripada kasus ‘Papa Minta Saham’, SN Ketua DPR RI yang bawa-bawa nama Presiden RI Jokowi dan Wapres RI JK  soal pembagian saham Freeport yang ramai belakangan ini dengan kemenangan suara rakyat yang meminta SN diberhentikan sebagai Ketua DPR RI.

Bedanya, bukan soal saham dunia yang ditawarkan para pengikut teror itu, tapi saham akhirat yang jauh lebih menggiurkan bagi orang-orang tertentu.  Ini bukan soal keputusasaan dalam kehidupan dunia, teroris menganggap perbuatannya adalah ide kepahlawanan meniru cara juang Muhammad SAW dan atau pengorbanan Isa AS demi sebuah dunia yang lebih baik, gambaran surga dalam benak mereka. Padahal, surga dunia bisa kita ciptakan sendiri dengan berperan, berkarya dan bekerja sebaik mungkin dimanapun berada, apapun status sosial kita. Kebahagiaan yang sulit ditakar, menjadi sulit dijelaskan secara logika untuk diikuti mereka yang merasa sudah hilang arah yang kemudian menjadikan tindakan teror sebagai caranya menjadi “penting” di dunia mereka yang terputus dari kenyataan hidup.

Itulah. Akhir tahun yang penuh dengan permenungan pada tahun yang begitu hebat, mengerikan sekaligus melegakan karena masih banyak orang-orang yang berkeyakinan berbeda, beda ras, tempat dan cara hidup masih mendukung satu sama lain dengan cara mereka masing-masing. Kematian Ben Anderson 79 tahun, (lahir di Kunmig, Tiongkok, pada 26 Agustus 1936) di Batu, Malang, Minggu, 13 Desember 2015 menyisakan kenangan bagi orang-orang yang mengagumi karya-karyanya tentang Indonesia, terutama karyanya yang terkenal, Imagined Communities.

Well, dalam website ini: suaraperempuan.or.id, sebagai perempuan jadi merasa bahwa opini yang ada saat ini hanyalah komentari kacaunya dunia karena ‘ulah lelaki’. Mulai dari soal Trump yang melarang muslim masuk ke AS jika ia menjadi presiden, kasus ‘Papa Minta Saham’ hingga kematian tokoh Indonesianis, Ben Anderson. Mulai dari perjuangan Muhammad SAW yang coba diikuti ajaran-ajarannya hingga perayaan hari lahir Isa AS yang masih kontroversi di kalangan muslim soal boleh tidaknya ucapan selamat natal pada para penganut ajaran Isa AS.

Whatever it is, tetap SUARAKAN! Sebab posisi kita sebagai perempuan yang tidak berada dalam lingkup kekuasaan pemerintah, hanya dapat beropini. Soal keputusan, kebijakan apapun tergantung dari pemerintah itu sendiri. Namun, bila tidak melakukan yang terbaik buat rakyat tentu SPI akan mengkritisi dengan sangat keras sebagaimana pada masa kepemimpinan SBY- Boediono. Anyway..,  Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi! (ratih karnelia)

 

Leave a Reply