Gerhana dan Politik Perempuan Di Hari Perempuan Internasional

Ucapan syukur karena saat ini masih diberi kesempatan untuk beribadah, bekerja dan amal bermanfaat bagi keluarga serta sesama makhluk Allah SWT. Sebab bisa saja setelah gerhana matahari tadi pagi, hidup kita berakhir sebab kiamat sebab tidak ada yang tidak mungkin bilamana Tuhan sudah berkehendak. The end sudah segala cita-cita. The end sudah usia. Lalu saat berada dalam dunia lain, ditanya: sudah dipergunakan untuk berbuat apakah waktu umur kita?

Berhubung saat ini peran saya yang dominan adalah Ibu Rumah Tangga, maka jawabannya:  waktu terpakai banyak untuk keluarga. Namun apakah waktu keluarga itu sudah sesuai dengan harapan agama sebagai pedoman hidup saya?

Gerhana matahari adalah peristiwa alam yang langka, muncul kembali puluhan tahun kemudian, bahkan ratusan tahun untuk lewat pada wilayah bumi yang sama. Sebagai muslim, tentu hal ini adalah sebuah bukti kebesaran Allah SWT. Gerhana matahari bagi saya pribadi adalah sebuah bentuk harapan dalam keputusasaan. Bahwa ternyata gelap 3 menit itu benar-benar terjadi  hanya 3 menit dalam seluruh waktu 24 jam. Begitupun masa-masa kegelapan hidup itu bisa saja hanya berlangsung sekejap dalam kehidupan kita. Tak pernah tahu.

 Perempuan Politis, Bekal Menuju Hari Akhir

Kisah-kisah orang-orang biasa inspiratif seringkali dekat dengan keseharian kalau mau disimak. Kisah seseorang yang semasa muda begitu sukses namun di akhir usianya semua serba kurang. Barangkali Allah SWT mau mengingatkan bahwa di masa perjuangan masa muda, harta sedang dilebihkan bukan untuk foya-foya atau jadi ajang pamer. Melainkan sarana perjuangan di Jalan Tuhan. Di masa tua, harta secukupnya saja sebab waktu sudah habis, sebentar lagi masuk liang kubur, toh harta takkan menolong keselamatan di alam akhirat.

Saat kematian sudah didepan mata, hal apakah yang ingin ditinggalkan: sekedar setumpuk kekayaan atau kenangan indah bagi orang-orang terdekat yang menjadikan mereka berdoa demi kebahagiaan, kemuliaan di alam sana?

Maka sebagai perempuan muslim, perjuangan dalam politik adalah perjuangan bagi anak-anak dan rumah tangga sendiri. Propaganda Orde Baru-lah yang menyatakan bahwa politik itu kotor. Jangankan bagi perempuan, bagi laki-laki pun politik bukanlah mainan yang patut diidamkan. Perempuan, sebagaimana laki-laki, harus terjun dalam politik. Sebab semua urusan rumah tangga bermuara pada politik. Bagaimana sebuah kebijakan negara lahir akan berpengaruh besar pada kehidupan rumah tangga. Misalnya saja, kebijakan barang ekspor impor akan berpengaruh pada harga-harga kebutuhan pokok rumah tangga. Maka menjadi heran bila politik dijauhi karena sifatnya dianggap kotor. Bukan politik yang kotor, melainkan cara-cara menjijikan seperti fitnah menjadi jalan pintas bagi orang-orang keji dalam mencapai tujuannya.

Saat sebuah akhir menjadi sama saja bagi saya dan anda. Semua orang berujung pada kematian. Baik sehat ataupun sakit. Baik terlibat politik praktis atau tidak. Semua amal yang dipermasalahkan adalah soal niat dan tujuan. Apakah niatnya untuk mencari harta kekayaan berlebihan ataukah cukup bagi diri, keluarga dan masyarakat. Apakah tujuannya adalah tujuan mulia ataukah tujuan demi kepentingan sang ego.

Sebagai umat yang baru saja lolos dari maut a.k.a kiamat setelah gerhana matahari, memikirkan persoalan umat, bangsa dan negara ini menjadi keharusan bagi setiap kita, warga negara Indonesia. Bukan urusannya anggota DPR/ MPR, Presiden dan Menterinya saja. Sebab jalur menuju lembaga-lembaga kenegaraan itu terlalu jauh. Apa yang ada di depan mata, itulah ajang perjuangan kita. Sebelum hidup ini the end. Layar tertutup. Gelap. Sepi tak ada penonton. Pertunjukan usai. Lalu di alam kubur nanti hanya penyesalan yang datang: Mengapa saat aku hidup dahulu, aku tak menjadi tanah? (ratih karnelia)

Leave a Reply