Empat Tepat Bagi Kasus Yuyun

Peristiwa yang terjadi di Bengkulu dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa karena pemerkosaan dilakukan oleh 14 orang (12 sudah tertangkap, 2 masih buron) pada anak sekolah berusia 14 tahun. Kondisi korban, Yuyun saat ditemukan sangat mengenaskan dengan tangan dan kaki terikat, kemaluan dan anus sudah menyatu. Korban ditemukan di lereng curam, 3 hari setelah kejahatan dilakukan.


Indonesia berduka karena berita ini mulai ramai bertepatan Hardiknas walau kejahatan sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Ada empat hal yang patut disoroti terkait kasus Yuyun, yaitu:

 

Pertama, pelaku kejahatan yang berusia dewasa hanya 5 orang, sedangkan 7 orang lainnya dianggap masih belum cukup umur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, dari hasil rekonstruksi diperoleh informasi kronologis kejadian dan perilaku yang sama sekali bukan perilaku anak kecil (melakukan pemaksaan hubungan seksual tanpa ada tanda-tanda penyesalan). Selayaknya mereka diberi hukuman setimpal sesuai perbuatan YANG biasanya dilakukan orang dewasa. Sebab walau menurut hukum negara, usia yang dianggap dewasa adalah 18 tahun, jika kejadian ini dilakukan oleh anak 14 tahun, maka ia seharusnya dianggap telah mengerti hubungan seksual alias dewasa secara seksual. Reaksi seorang anak kecil yang berada pada situasi sama bukan tak mungkin akan berbeda, bisa saja beberapa orang dari kelompok itu lari ketakutan karena melihat ketidakwajaran dalam logika anak-anak kecilnya.

Kedua, lama hukuman 10 tahun dianggap kurang maksimal, baik menurut ibu  dan guru korban maupun menurut publik. Hukuman seumur hidup adalah tuntutan pihak keluarga. Hukuman ini walau kejahatan dilakukan beramai-ramai, tak selayaknya memperingan hukuman para pelaku. Sebab pemerkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan adalah sungguh sebuah perbuatan biadab yang tak boleh sekalipun diulangi lagi dimanapun, kapanpun oleh siapapun. Maka hukuman seumur hidup layak diberlakukan secara merata pada ke-14 orang itu tanpa kecuali.

Ketiga, jika ada kejahatan luar biasa seperti ini pasti pendidikan dianggap menjadi ujung pangkal sebab akibat. Beberapa orang pelaku masih tercatat sebagai pelajar sementara sisanya yang dominan sudah putus sekolah. Lalu apalagi yang salah dengan pendidikan? Sementara korban menurut pengakuan ayahnya, seorang anak berprestasi lagi pintar mengaji. Pelaku yang sudah putus sekolah, dianggap tak mendapat pendidikan layak maka ‘wajarlah’ melakukan perbuatan biadab itu? Berpendidikan atau tidak berpendidikan, jika seorang manusia terbiasa melihat film porno secara rutin dan minum miras, maka efek keduanya lebih buruk daripada narkoba. Solusinya, razia CD/ DVD film porno, batasi tontonan di youtube dengan adanya sensor nasional, pelarangan produksi film porno dan pelarangan jual miras (sudah dilakukan pada beberapa tempat). Sanksi yang tegas untuk penjual ataupun konsumen miras di wilayah terkecil masyarakat. Setiap RT/RW di seluruh Indonesia harus memberi sanksi sosial berat bagi penjual ataupun konsumen miras. Sebab miras sumber semua kejahatan. Terutama kekerasan pada perempuan dan anak.

Keempat, sungguh sayang sekali, di era revolusi mental, kasus kejahatan luar biasa seperti ini baru muncul ke publik sebulan setelah kejadian. Sementara itu, berbagai peresmian pembangunan infrastruktur sungguh ramai di media-media besar. Jangan sampai rakyat mengingat pemerintahan sekarang sama seperti masa Soeharto* yang lebih mengedepankan pembangunan fisik daripada mental. (ratih karnelia)   

 

*ada satu kasus pemerkosaan pada tahun 1970an di Yogyakarta yang dilakukan oleh 10 tersangka, diduga melibatkan anak pejabat negara. Kasus Sum Kuning yang tak terungkap hingga sekarang.
 

Leave a Reply