fbpx
FaithCoffee

Suara MAKI

Anak-anak, Biarkan Kekanakan

Anak. Seperti melihat duplikat dari diri dan pasangan. Saat ada hal-hal positif, dengan bangga dan PD-nya langsung merasa, “Ya seperti itulah saya”. Namun, sebaliknya saat ada hal yang agak menyebalkan, dalam hati berpikir, “Ah ini sih sifat pasanganku”. Saat dia berprestasi, dengan yakinnya berkoar-koar, “Ya itulah hasil didikan kami sebagai orang tuanya”. Saat anak beranjak remaja, tak semanis dulu malah mulai agak melawan, langsung berpikir, “Mungkin ini pengaruh lingkungan”, karena ia sudah mulai bergaul di tengah masyarakat. Padahal saat anak berprestasi atau berubah jadi nakal, semua adalah bentuk campuran hasil dari pengaruh lingkungan terkecil maupun lingkungan masyarakat yang lebih besar.

Adu Cinta di Awal Juni

Setiap kisah romansa yang abadi pastilah ada bumbu konflik didalamnya. Romeo & Juliet salah satu yang jadi patokan sebuah kisah asmara. Walau cerita itu fiktif. Ada perebutan cinta. Adu cinta antara cinta keluarga dan cinta pada kekasih. Jadi mari bahasakan konflik dengan kata ‘adu cinta’ saja. Sebab terdengar lebih rasional daripada sekedar konflik yang terkesan rusuh, tak punya tujuan, mulai dari kasak kusuk adu mulut, adu fisik sampai adu strategi. Ya.. adu cinta ini masih berlaku hingga kini. Bahkan lepas dari ranah pribadi menuju ranah publik. Rebut-rebutan harta, tahta dan wanita adalah bukti bahwa manusia ini memang menuhankan cinta, maka adu cinta hadir setiap hari dalam perjalanan hidupnya.

1 Juni, Hari Kesaktian Pancasila. Hari dimana Pancasila menjadi berhala orang Indonesia. Bahwa kelima prinsip dasar bernegara harus dipatuhi, kalau tidak suka, konsekuensinya silakan pilih: pergi ke luar negeri atau diasingkan. Kesaktian Pancasila ini merajai pola pikir orang Indonesia, bahwa kalau tidak mengikuti aturan dasar, bukanlah orang Indonesia.

Bangkit dari Kegelapan, Ilusi Pendidikan Bagi Pelaku Kejahatan

Pendidikan itu apa, bagaimana dan mengapa ada serta perlu? Saat kejahatan luar biasa seperti pemerkosaan dan pembunuhan sanggup dilakukan oleh makhluk yang menyebut dirinya manusia, pendidikan menjadi seperti ilusi. Manusia sebagai pelaku seperti hanya mengenal bahasa kekerasan, bukan cinta. Guru ibarat ilusionis yang punya trik-trik untuk buat kagum penontonnya, walau trik itu sebenarnya bisa dipelajari semua orang dengan latihan. Lalu murid, apakah seperti benda mati yang menjadi bagian dari ‘permainan’ sang guru? Saat menjadi murid, saat menjadi guru, pemikiran saya masih idealis bahwa pendidikan ada memang untuk kebaikan seorang manusia. Pendidikan memberi aturan bagaimana selayaknya seseorang harus berperilaku, hidup dengan rutinitas dan harmonis dengan sesama manusia. Namun, setelah melihat dan mendengar adanya kasus pemerkosaan dan pembunuhan dilakukan para pelajar, rasanya makna pendidikan itu semakin kabur. Ilusi.

Empat Tepat Bagi Kasus Yuyun

Peristiwa yang terjadi di Bengkulu dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa karena pemerkosaan dilakukan oleh 14 orang (12 sudah tertangkap, 2 masih buron) pada anak sekolah berusia 14 tahun. Kondisi korban, Yuyun saat ditemukan sangat mengenaskan dengan tangan dan kaki terikat, kemaluan dan anus sudah menyatu. Korban ditemukan di lereng curam, 3 hari setelah kejahatan dilakukan.


Indonesia berduka karena berita ini mulai ramai bertepatan Hardiknas walau kejahatan sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Ada empat hal yang patut disoroti terkait kasus Yuyun, yaitu:

Hari Kartini: Pengingat Perempuan Tersandera

Perempuan di bulan ini, dirayakan dengan cara Kartini berusaha melepaskan diri dari jerat feodalisme. Bahwa perempuan pada masanya tak punya pilihan, sulit terdidik dan harus diam di dalam rumah, terutama pada kalangan perempuan kelas bawah. Persis seperti kondisi sekelompok orang tersandera atau terjebak dalam reruntuhan. Tak dapat keluar dari situasi sulit karena dikendalikan pihak lain serta tak mengetahui kondisi dunia luar. Minta pertolongan pun bukan hal mudah.

Halalkah Baju dan Sepatu: Dear MUI, Please Jangan Lebay

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Ma’ruf Amin mengungkapkan, pada tahun 2018 produk asal Indonesia harus sudah tersertifikasi halal dan sedikitnya ada 85 persen jenis produknya.

“Saat ini sudah ada perlindungan Undang-undang (UU) Jaminan Produk Halal yang mengatur, bahkan sudah ada daerah yang menjalankan UU tersebut, yaitu di Bangka Belitung,“ ujar Dr KH Ma’ruf Amin

Sementara itu, Kasubdit Produk Halal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Hj Siti Aminah SAg M.Pd.I memaparkan bahwa Kementerian Agama sedang menyiapkan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJH) yang nantinya berwenang untuk memberikan sertifikasi halal secara resmi di Indonesia. Sehingga, ke depannya MUI hanya berfungsi untuk memberikan fatwa halal atau haram.

“Selama ini, MUI yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikasi halal dan juga mengeluarkan fatwa. Sedangkan label atau logo halal dikeluarkan oleh BPOM. dan BPJH ini diharapkan sudah bisa didirikan pada tahun 2017 mendatang,” pungkasnya.

Sertifikasi halal dimaksud dalam berita ini bukan hanya produk makanan dan minuman saja, tapi juga pakaian dan sepatu. Sebab pernah ditemukan pakaian dan sepatu yang terbuat dari kulit babi.

Bagaimanakah opini para perempuan sebagai ibu-ibu muda menanggapi berita tersebut?

Gerhana dan Politik Perempuan Di Hari Perempuan Internasional

Ucapan syukur karena saat ini masih diberi kesempatan untuk beribadah, bekerja dan amal bermanfaat bagi keluarga serta sesama makhluk Allah SWT. Sebab bisa saja setelah gerhana matahari tadi pagi, hidup kita berakhir sebab kiamat sebab tidak ada yang tidak mungkin bilamana Tuhan sudah berkehendak. The end sudah segala cita-cita. The end sudah usia. Lalu saat berada dalam dunia lain, ditanya: sudah dipergunakan untuk berbuat apakah waktu umur kita?

Berhubung saat ini peran saya yang dominan adalah Ibu Rumah Tangga, maka jawabannya:  waktu terpakai banyak untuk keluarga. Namun apakah waktu keluarga itu sudah sesuai dengan harapan agama sebagai pedoman hidup saya?

Gerhana matahari adalah peristiwa alam yang langka, muncul kembali puluhan tahun kemudian, bahkan ratusan tahun untuk lewat pada wilayah bumi yang sama. Sebagai muslim, tentu hal ini adalah sebuah bukti kebesaran Allah SWT. Gerhana matahari bagi saya pribadi adalah sebuah bentuk harapan dalam keputusasaan. Bahwa ternyata gelap 3 menit itu benar-benar terjadi  hanya 3 menit dalam seluruh waktu 24 jam. Begitupun masa-masa kegelapan hidup itu bisa saja hanya berlangsung sekejap dalam kehidupan kita. Tak pernah tahu.

Rencana Absurd: Sendirian Protect Anak Dari Orientasi Seksual (Dianggap) Menyimpang

Jikalau anak tertimpa musibah terkecil, misalnya balita jatuh dari tempat tidur, orang tua yang baik pastilah menyesal mengapa tak jaga si kecil dengan lebih baik. Sederet pertanyaan mengapa lainnya. Namun musibah bukan untuk disesali atau dipertanyakan. Hanya ada dua sikap: memaafkan dan melanjutkan hidup. Sebelum bisa memaafkan, takkan bisa melanjutkan hidup. Terutama berusaha memaafkan diri sendiri. Sebab banyak sekali orang tua yang begitu dalam penyesalannya, murung tak bisa let it go hingga tak bisa move on kehidupannya.

Pendidikan: Upaya Anti Terorisme selain Deradikalisasi

Aksi teror meresahkan, masyarakat terutama ibu-ibu menjadi lebih concern soal pendidikan anak mereka. Bagaimanakah pendidikan yang baik agar anak selamat dari pemikiran radikal? Terlebih lagi, bebas dari melakukan aksi-aksi teror yang dianggap akan membahayakan orang banyak. 

Kali ini SPI akan menyoroti tema pendidikan, secara MAKI (Mencerahkan Aktual Kritis dan Independen). Sebab salah satu cara efektif untuk mengalihkan anak dari pemikiran radikal adalah dengan pendidikan ramah secara sosial, agama, dan nasional. Menurut Amich Alhumami, Peneliti Sosial, ada  3 (tiga) isu penting berhubungan dengan pendidikan, yakni: i) peningkatan mutu, ii) pemerataan akses, dan iii) efisiensi anggaran.

Ketiganya saat ini sedikit terlupakan secara nasional karena banyak isu-isu lain yang dianggap lebih “besar” seperti kebakaran hutan, terorisme atau kasus-kasus korupsi. Padahal saat kampanye pilpres, pendidikan dan kesehatan menjadi senjata utama untuk menarik simpati massa.

Teror Jakarta: SUARAKAN Deradikalisasi daripada Revisi UU Anti Terorisme!

Terror. Jakarta seperti Paris. Jakarta jadi sasaran teroris. Semua orang merasa perlu berkomentar. Mulai dari komentar iseng karena kelucuan yang terjadi saat terror, polisi ganteng, atau betapa “bahagianya” jenazah si pelaku terror. Tak lama kemudian terjadi klaim ISIS bahwa merekalah pelaku baku tembak dan bom di Sarinah. Soal teroris menjadi soal mendunia karena mengecam keselamatan orang banyak. Saat ada banyak reaksi yang timbul selain ketakutan, maka hal itu menjadi menarik untuk diperbincangkan. Sesungguhnnya, masyarakat sedang melakukan terror balik pada serangan bom yang sudah terjadi. Hastag Kami Tidak Takut atau Indonesia Berani, menurut tulisan di media nasional hanyalah ungkapan kelas menengah. Sebab kelas bawah sudah biasa hidup dalam resiko. Seperti si tukang sate atau tukang kacang atau tukang manisan yang tetap berjualan walau terror sedang terjadi di depan mata. Sebab keseharian mereka sudah biasa dengan terror sesungguhnya: lapar, miskin, dan tak dihargai.