fbpx
FaithCoffee

Suara MAKI

Senjata Pemusnah Massal, Urgen atau Perlu Diantisipasi

Pertama kali dengar dan mulai cari info soal senjata pemusnah massal ini saat dimintai masukan untuk naskah pidato Kapolri untuk rapat dengan Menkopolhukam. Kaget. Apa masih ada ambisi untuk membunuh ribuan orang, saat dunia begitu damai? Peperangan di beberapa belahan dunia saja, apa perlu melebar hingga Indonesia turut terlibat didalamnya? Lebih ekstrim lagi, apakah Perang Dunia Ke-3 akan segera dimulai?

Tulisan ini tentu tidak akan membahas masukan kami pada Kapolri sebab itu sifatnya rahasia. Namun, beberapa peristiwa nasional maupun internasional membuktikan bahwa senjata pemusnah massal itu memang ada dan serius dipergunakan untuk mengeksekusi sebuah bangsa ataupun menyerang orang per orang. Sebut saja Suriah. Sehingga jelas dua blok berbeda di dunia yang pro kontra dengan adanya pembantaian di Suriah. Negara-negara yang tidak setuju pembantaian itu balas serang dengan bom terukur menuju markas persenjataan Suriah. Sedangkan negara-negara yang tidak setuju (termasuk Indonesia) meminta ada kejelasan secara internasional soal serangan balik ke Suriah mengingat intervensi senjata ke negara berdaulat harus ada keputusan sidang PBB.

Sumber Gambar tribunnews

Nilai Pengorbanan dan Pengabdian

Jual beli barang dan jasa boleh dilakukan perempuan, selama hal itu masih dalam aturan-aturan yang tidak merugikan penjual maupun pembeli. Mengapa perempuan juga boleh? Syaratnya, perempuan masih bisa menjaga kehormatan walau bekerja di luar rumah serta sebab masyarakat dirasa membutuhkan jasa perempuan di bidang tersebut. Nilai jasa punya nominal berbeda-beda. Setiap profesi ada standarnya. Untuk pegawai pemerintahan, tentu nominalnya sudah baku. Maka profesi sebagai pegawai pemerintahan diperuntukkan untuk mereka yang mau mengabdi. Namun, pengabdian ini, bagi sebagian pegawai pemerintah yang barangkali merasa kurang dihargai di masyarakat, diberi nilai berlebihan. Hal ini dalam konteks pengalaman mengurus surat yang berhubungan dengan birokrasi pemerintah pada oknum di Kementrian Hukum dan HAM. Kami menagih janji kinerja dan reformasi hukum di Kemenkumham.

Sumber Gambar movieweb

Keyakinan & Perubahan, Ini Soal Jenasah

Jenasah seorang nenek  bernama Hindun di Jakarta ditolak untuk disolatkan di sebuah musholla yang berspanduk anti pendukung Ahok. Pada hari ini, 11 Maret 2017, paslon nomer 3, Anies- Sandi akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya tidak pernah mendukung aksi penolakan jenasah pendukung Ahok.

Semua ini adalah soal keyakinan. Bahwa keyakinan seseorang dengan orang lainnya tak pernah dapat dipaksakan. Keyakinan soal paslon dalam Pilkada, soal kematian dan soal Tuhan manusia. Ada seloroh yang beredar di sosial media, “Ya Allah… matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik) dan di luar tanggal Pilkada” untuk menunjukkan kekhawatiran yang besar seseorang akan ditelantarkan saat menjadi mayat hanya karena ia memilih paslon yang salah menurut kelompok tertentu. Benar bahwa seseorang dapat diketahui keyakinannya dari kolom agama yang tertera di KTP. Namun, soal hati? Siapakah yang dapat mengetahui hakikatnya? Allah Maha membolakbalikkan hati. Allah pulalah Sang Pemberi Hidayah. Bahkan tanpa disadari orang yang bersangkutan.

Adapun musyrik dapat diartikan menilai manusia lainnya dengan ukuran-ukuran duniawi. Kafir pun dapat diartikan sebagai orang mengingkari nikmat-nikmat-Nya. Bagi penganut keyakinan ini, QS. Al Baqarah ayat 62 menjadi patokannya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”.

Sumber Gambar ‘Hidayatullah’

Happy International Women’s Day: King Salman dan Queen Salmon

Hari Perempuan International diperingati setiap tanggal 8 Maret, dengan tema berbeda setiap tahunnya. Tahun ini tema yang diusung adalah #BeBoldforChange di bidang sosial, politik dan ekonomi bagi perempuan-perempuan seluruh dunia. Indonesia kedatangan Raja Arab Saudi, King Salman pada tanggal 1 Maret 2017. Sebelumnya tersebar hoax di media sosial dan message whatsapp bahwa King Salman akan berinvestasi jutaan dolar tanpa bunga. Berdasarkan pemberitaan di media nasional, Indonesia dan Arab Saudi mempererat kerjasama di berbagai bidang, sebagaimana yang tercantum dalam 11 nota kesepahaman antara Indonesia dan Arab Saudi berikut ini, sumber Kompas:

Make Up Pilkada DKI Jakarta

Bagaimanakah memahami politik dari sudut pandang perempuan? Benarkah perempuan, khususnya emak-emak tak peduli soal quick count atau real count, hanya peduli dis count? Apakah harapan selepas pilkada, khususnya usai Pilkada DKI Jakarta?

Politik kini memang bukan menjadi monopoli kaum lelaki. Entah itu partisipasi secara nyata atau sekedar gossip politik. Sambil ngebaso, ngaji atau percakapan di group whatsapp, perempuan pun turut partisipasi walau politik sekedar jadi bahan obrolan. Benar..bahwa silent majority atau mayoritas anggota masyarakat yang memilih diam itu bukan berarti tak paham, tak peduli atau tak ingin turut serta mengubah masyarakat dengan obrolan politik. Kebanyakan memang memilih diam karena cape dengan atmosfer politik yang saat ini sering panas karena perbedaan. Padahal, perbedaan menjadi sifat alami manusia. Bahkan si kembar sekalipun tak punya kesamaan 100%.

Teringat Indonesia

Cek kalender wikipedia hari ini, 8 Februari hari apa? Ternyata banyak peristiwa penting dunia yang terjadi tanggal 8 Februari. Salah satunya pada 8 Februari 1885 – Imigran Jepang yang pertama kali disetujui pemerintah Amerika Serikat tiba di Hawaii. Jadi teringat berita belakangan ini, Trump sebagai presiden AS melarang imigran asal tujuh negara muslim untuk masuk negaranya. Padahal kalau dilihat dari sejarah, AS terbuka pada kedatangan imigran Jepang sejak 1885. Kalau dihitung-hitung, berarti sudah 131 tahun. Sementara kalau imigran asal negara-negara muslim? Bisa jadi lebih awal lagi, mengingat ekspansi muslim ke seluruh penjuru dunia, sebagai pedagang atau peran lainnya lebih dari 6 abad yang lalu. Selama itu, pastinya menjadi kabur lagi batasan antara imigran dan penduduk asli sebab adanya percampuran oleh karena perkawinan dan budayanya.

Was-was.. Awas Murtad

Gara-gara dengar ceramah di Mesjid As Salam, Jakarta Selatan pada 24 Januari 2017, soal bahaya murtad.  Jadi was-was, apakah saya masih Islam ataukah jangan-jangan sudah murtad dari dulu? Sebab penampilan saja tak menjamin seseorang masih Islam atau sudah ber-Islam dengan baik dan benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Saat beliau masih hidup pun masih banyak kaum munafik yang berkata sudah Islam, tapi dari segi ucapan, perbuatan dan keyakinan belum sepenuhnya Islam.

Ternyata murtad atau keluar dari Islam dengan sendirinya itu ada tiga sebab. Sebab ucapan, perbuatan dan keyakinan.

Refleksi Akhir Tahun 2016

Sepanjang tahun 2016 banyak peristiwa bersejarah yang takkan mungkin lagi terulang di tahun-tahun berikutnya. Momen-momen mengharukan yang berpengaruh pada diri kita sebagai seorang pribadi, bagian dari sebuah bangsa. Apapun momen itu, menurut saya tak bolehlah menjadikan seseorang merasa tertolak, terasing, kalah dan tak diinginkan.  Apakah hal yang menjadi lem perekat kita sebagai sebuah bangsa Indonesia? Lebih penting manakah menjadi bagian dari bangsa Indonesia atau bagian dari agama tertentu?

            Beberapa peristiwa yang dialami saya sebagai pribadi sambil mengamati berbagai peristiwa nasional, membuat sadar bahwa ada harapan pada masa depan anak-anak. Bahwa anak-anakku di masa depan takkan mungkin bisa hidup sendiri. Ia pasti bergaul dengan berbagai jenis manusia, berbeda secara kultur, sosial ekonomi. Mengingat, batasan negara, agama, apapun label yang menjadi masalah saat ini, di masa depan pasti akan semakin lenyap. Lalu apakah lem perekat yang menjadikan mereka bisa bertahan hidup nantinya? Sebagai muslim, saya percaya nilai-nilai ajaran Islam yang baik akan menjadi bekal utama bagi mereka. Nilai ajaran yang baik akan membuat mereka tak goyah walau tinggal dimanapun, bergaul dengan siapapun. Tak masalah soal berbagai perbedaan yang menjadi masalah saat ini. Tentu, nilai-nilai ajaran yang baik akan menghargai bangsa-bangsa dan agama-agama lain.

Sumber Gambar: idntimes

Momentum Maulid Nabi Muhammad bertepatan dengan Hari Anti Korupsi dan Hari Hak Asasi Manusia, Masih Ada Mental Penjajah Diantara Kita Studi Kasus di Giatmas Intelkam Mabes Polri

Operasi Pemberantasan Pungli dari Presiden sudah selayaknya diterapkan di semua instansi pemerintahan, juga pada instansi penegakkan hukum, terutama kepolisian. Sebab acuan perilaku hukum yang baik justru dimulai dari aparat kepolisian dan para pegawai negeri yang terlibat didalamnya. Sungguh kami merasa kecewa saat OPP mulai digalakkan, pelayanan public terutama di kepolisian malah semakin sulit, terutama bagi para WNI yang sedang berada di luar negeri. Alasannya, pimpinan bilang tidak boleh. Berarti masih ada paternalism birokrasi yang justru menyebabkan birokrasi menjadi tidak efektif. Kalau prosedur sudah benar, dokumen sudah lengkap, lantas apalagi yang mau dipermasalahkan? Jika memang ada aturan dari atasan, mohon diinfokan pada masyarakat agar paham. Tentu aturan pimpinan pelayan public ini harus sesuai dengan Undang-Undang. Jika bertentangan, maka masyarakat berhak untuk menggugat.

Sumber Gambar: AnimasiMeme

Tegakkan OPP, UU Pelayanan Publik: 212 Indonesia KEREN!

Mengapa harus ikut demo 212? Alasan agama bisa jadi menjadi alasan utama namun tujuan tulisan ini bukan untuk menyinggung soal SARA. Lebih pada refleksi pribadi, apakah demo 212 dengan format acara yang berbeda dari sebelumnya itu akan memberi pengaruh pada Indonesia yang kita cintai ini? Soal penegakkan hukum ya.. sehubungan dengan hal-hal lain di luar kasus Ahok, kami hanya ingin sharing betapa menegakkan hukum di Indonesia bukan perkara mudah. Soal kebiasaan, budaya dan ego sebuah bangsa. Berkaitan bentuk Fund Raising dari lembaga berhubungan dengan soal administrasi layanan publik, maka keikutsertaan demo 212 adalah juga sebagai wujud kekecewaan sekaligus harapan pada pelayanan publik yang lebih baik, terutama bagi Warga Negara Indonesia yang sedang berada di luar negeri. Selama kurang lebih 3 tahun ini, kami menggeluti advokasi bidang jasa pelayanan di kantor kepolisian. Ada lika liku suka duka dalam pengurusan dokumen, terutama Kami, sebagai Ibu mengadvokasi ini sambil tetap mengurus anak. Bagaimanapun, Kami berterima kasih untuk segala kemudahan yang diberikan serta kerjasama pegawai pelayanan masyarakat di kepolisian.