FaithCoffee

Bukan Perempuan Biasa

Bagikan

Perbincangan soal perempuan mestinya telah lewat sejak Simone de Beauvoir menulis buku filsafat berjudul “The Second Sex” atau sejak Kartini menuliskan surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Namun jati diri perempuan tak pernah habis untuk dibicarakan, sebab setiap jaman memiliki tantangan dan dinamikanya tersendiri. Kini, kehadiran media sosial menjadikan perempuan kembali mempertanyakan eksistensinya dalam dunia ini. Apakah kemudian keberadaan media sosial menjadi pintu gerbang menuju dunia luar yang positif ataukah perempuan lebih baik tetap menutup diri dalam kesendiriannya berasyik masyuk dalam segala aktivitas, berprestasi  ataupun tidak berprestasi kemudian menjadi tolak ukur relatif sejak kini siapapun yang berhasil “viral” kemudian dianggap berprestasi. Saat followers and subscribers menjadi poin yang dikejar setiap harinya oleh mereka yang eksis di media sosial.  Walau kita tak tahu kegiatan real dalam kehidupan nyata.

Postingan media sosial ibarat iklan yang mempertontonkan  kelebihan  sang pemilik akun. Berhubung isinya lebih banyak kelebihan dan agak sedikit kekurangan,  maka biasanya orang yang kenal secara personal cenderung menghindari interaksi intens,  kecuali sekedar jempol atau komen-komen peramai suasana. Ada ungkapan “tak perlu jelaskan dirimu pada siapapun karena yang mengenalmu tak butuh itu,  dan mereka yang tak kenal takkan percaya itu”. Nah, ‘itu’adalah cerita yang dicreate oleh pemilik akun. Sehingga jati diri punya brand sendiri sesuai dengan kisah yang dicitrakan melalui postingan di media sosial. Beberapa waktu lalu, pemain investasi bodong ditahan polisi karena berhasil menipu customer dengan gaya hidup mewah,  seolah kaya raya dari hasil investasi yang diiklankan dalam media sosial. Maka postingan apa yang pantas atau tidak, memberi peluang, ruang bagi profesi baru seperti copywriter, content creator, podcaster, youtuber atau tiktoker yang menjadi aktor atau aktris sekaligus penulis ide atau sutradara yang dengan kreatif memainkan ide sekaligus memerankannya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana hal ini berpengaruh  pada perilaku manusia-manusia kekinian? Terutama bagi perempuan-perempuan muda yang masih baru melek,  kemudian dibukakan dunia dihadapan matanya lebar-lebar. Sekaligus mempersilakan dunia melihat dirinya tanpa ada tabir lagi.

Tak semua orang dilahirkan sebagai bintang terang yang siap dengan segala macam tantangan yang ada di dunia ini. Tak setiap orang punya hal-hal mewah untuk dipamerkannya dalam media sosial. Tak semua orang juga punya ilmu bermanfaat  yang dapat dibagi secara luas melalui internet. Bukankah  hal-hal ini akan menjadi masalah di kemudian hari?  Jangankan beda orang dalam masyarakat,  saudara sekandung saja punya minat dan bakat yang berbeda. Lalu sebagai orang tua,  bagaimana  kita harus menyikapi persoalan baru yang akan muncul mungkin 10-20 tahun kemudian disaat anak-anak kita harus mulai ajeg dengan pilihan hidupnya? Apa value yang akan selalu dapat diandalkan dan kuat menghadapi berbagai macam tantangan tak terlihat mata itu? Maka ada beberapa reaksi atas persoalan ini. Pertama,  orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki  anak walau hidup berpasangan. Kedua,  orang-orang yang tetap memilih punya anak dan mendidik mereka sebaik mungkin.  Ketiga, orang-orang yang terlanjur punya anak tapi kemudian apatis pada perubahan di hadapannya tanpa mempersiapkan  anaknya untuk bisa hidup di masa depan.

Kelompok ketiga adalah kelompok orang-orang  yang perlu bimbingan serius. Sebab bila dibiarkan, negara dan bangsa ini terancam tidak memiliki generasi  yang bagus dan baik untuk berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia emas. Bagaimana  tidak terancam, bila ibu sebagai perempuan yang seharusnya menjadi garda terdepan penjaga anak-anak malah menjadi ancaman. Kian terkuaknya kasus-kasus ibu tega membunuh anaknya dari tahun ke tahun, di Bandung,  di Bali,  dan terakhir kasus di Surabaya dan Semarang. Hal ini terjadi tentu karena persoalan jati diri perempuan  yang tak kunjung  selesai itu. Seorang perempuan  bukan hanya perlu tahu dan paham akan kodratnya (misalnya setiap bulan pasti haid, hal yang tak terhindarkan sebagai perempuan), tapi juga perlu tahu manfaat kediriannya dalam dunia ini untuk apa dan sebagai apa? Bila di rumah saja, berarti tugasnya mendidik anak-anaknya atau sekaligus melakukan hal lain sesuai minat dan bakatnya. Bila pilihannya di luar rumah, berarti perlu memilih profesi yang akan menjadikan dirinya bermanfaat bagi banyak orang. Bila merasa sudah berkecukupan,  merasa tak perlu kerja untuk memenuhi  kebutuhan keseharian, berarti pilihannya bisa lebih luas lagi, lebih bisa berguna untuk orang-orang lebih banyak lagi. Bukan sekedar manfaat bagi keluarga,  lingkungan  sekitar atau bangsa negaranya  saja,  bahkan dapat berguna di luar negeri.

Keberadaan media sosial ini seolah melipat ruang-ruang tadi. Ruang bagi keluarga,  lingkungan sekitar,  bangsa negara,  menjadi satu, begitu padat dan instan. Efeknya? Bisa jadi culture shock (kejut budaya) ,  bisa jadi culture gap (jurang antar budaya) atau culture lack (menjadi tak berbudaya). Sebagaimana pernah saya bahas di www.suaraperempuan.or.id, seorang bukan ahli saja tetiba bisa membully seorang ahli yang kesehariannya bergelut di bidangnya, puluhan tahun pula. Media sosial seolah memperkenankan anak-anak muda berperilaku “kurang ajar” karena berbagai peluang yang seolah terbuka luas dan lebar bagi siapapun beropini. Dalam platform facebook,  hal pertama yang muncul dalam kolom postingan adalah “apa yang kau pikirkan?” menjadi tantangan bagi siapapun  yang dalam kehidupan nyata mungkin tak berhak berbicara, tak punya ruang untuk eksis, memunculkan  dirinya melalui kalimat-kalimat atau jargon-jargon. Coba kalau kolom di postingan facebook diganti menjadi “apa kegiatanmu hari ini?” Barangkali postingan menjadi dominan kegiatan-kegiatan produktif ketimbang kalimat-kalimat sekedar ingin kelihatan lebih tahu daripada audiens lain dalam platform tersebut.

Nah,  bagaimana bila pemilik akun “Sekedar Perempuan Biasa?” Bukankah hidupnya kurang instagramable untuk dipamerkannya? Lalu kemudian jalan pintas yang dipilihnya, bukan karya akal budi yang dihadirkan, tapi karya Tuhan yang dipampang? Supaya hidupnya menjadi setara dengan pemilik akun lain,  supaya punya ini itu untuk diambil foto dan videonya? Bukankah hal ini juga menjadi ancaman bagi kita sebagai perempuan, sebagai ibu, bagaimanakah kelak dunia masa depan anak-anak kita? Bila cukup puas dalam dunia maya?  Bukankah hidup ini harus dihadapi secara nyata? Perempuan dalam pandangan Simone de Beauvoir dapat menjadi manusia bebas bila memilih profesi-profesi yang tepat dalam dunia lelaki yang tak kenal ampun ini. Salah satunya adalah menjadi Penyuara aspirasi/Influencer. Sebab bila perempuan  menjadi Penyuara Aspirasi/Influencer ,  ia akan mampu menghadirkan dirinya sendiri secara utuh,  bebas tanpa intervensi pihak-pihak lain yang bisa jadi simbol penindasan. Sementara  itu,  Kartini, menulis surat-surat lintas budaya, bangsa dan negara.  Beruntung kemudian surat-surat itu dipublikasikan sehingga melalui tulisan-tulisannya dapat membanggakan negeri ini. Bahwa ada seorang perempuan pada masa penjajahan, mau dan mampu melawan. Bagaimana dengan kamu? SUARAKAN! (Ratih Karnelia)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *