Belajar dari Sejarah: Hatta & Pilpres vs Kaum Milenial

Sedikit kilas balik pada masa lalu, saat negara dan bangsa ini terbentuk. Berdasarkan seri buku Tempo: Bapak Bangsa. Salah satunya, “Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman”. 

Hatta tergambarkan sebagai tokoh yang mencintai ilmu pengetahuan (sosial ekonomi) dan agama. Bacaannya luas, terbukti dengan koleksi buku 80.000 judul buku atau 16 peti buku. Jumlah yang fantastis di masa itu, bahkan juga saat ini kalau bandingannya kaum milenial.

Yup. Berapa banyak buku koleksi kaum ini? Bukan bermaksud mengecilkan. Namun dengan banyaknya hoax bertebaran di medsos, banyaknya laporan polisi UU ITE, adalah sekian bukti bahwa kedalaman pikir saat ini hampir punah. Lebih banyak sesat pikir yang mau gampangnya saja, main viralkan informasi. Apalagi tahun 2019 sebagai tahun politik, isu-isu semakin menyempitkan ruang berpikir. Itupun kalau sempat berpikir. 

Pada masanya, Hatta sebagai bapak bangsa begitu disibukkan untuk belajar, berorganisasi dan berkarya lewat tulisan. Pemuda masa itu tidak banyak yang berkesempatan sekolah tinggi hingga ke negeri Belanda karena latar belakang keluarganya tidak seperti Hatta yang sebagai saudagar dan tokoh agama. Kalau dari otobiografi, sekilas hidupnya lurus-lurus saja. Kesenangan hidup, joie de vivre pada bola sampai usia tua. Bukan berarti hidupnya tanpa kesulitan. Walau hidup sederhana hingga akhir hayat, pikirannya seperti cukup memikirkan diri sendiri. Ada banyak ruang dalam pikirannya membela kaumnya untuk merdeka. Berusaha memerdekakan dari penjajah dan mempersatukan satuan wilayah hidup yang tercerai berai untuk menjadi satu tanah air. Sebuah tempat yang dinamakan: Indonesia, sejak muda. Adakah di masa sekarang orang muda yang lupa selfie sejenak demi akun medsosnya? Sementara orang sekelas Hatta memikirkan bangsa. Anak-anak muda kekinian terus menerus memikirkan: Aku. Aku. Aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Mana kami? Kita? Bukan bermaksud mengingatkan gaya Surya Paloh berpidato: “Kita.. kita.. kita.. kita” tapi lebih mempertanyakan kebersatuan kita sebagai sebuah bangsa. Yang mungkin memang sebuah komunitas imajiner kalau menurut Benedict Anderson.

Tantangan besar bagi pasangan Capres Cawapres masa kini untuk merewind ingatan akan kebersatuan itu. Apakah dengan demikian kaum milenial dituntut untuk kolot kembali ke masa lalu melupakan identitas kekiniannya? Perlu ada ingatan itu. Sedikit saja. Kalau tidak, jumlah GOLPUT akan MAKSIMAL pada Pemilu kali ini. Sulit memilih diantara kedua pasangan Capres Cawapres. Keduanya begitu kontradiktif: Paslon 1 nampak begitu idealis dengan pencitraannya. Walau pada pidatonya yang terakhir, Jokowi lebih keras daripada biasanya. Paslon 2 begitu berani menabrak citra-citra positif pemimpin ideal yang menjadikan paslon nomer 1 terlihat kolot karena seperti ingin menjadi Soekarno Hatta masa kini. Prabowo pada pidatonya yang mengutip sajak tentara yang gugur pada tahun 1946 (setelah merdeka?!) Ingin menegaskan tidak ada kesendirian itu. Nasib mereka (maksudnya generasi akan datang) tergantung dari nasib kita sekarang. Tapi mengapa sajak dari pemuda yang gugur setelah merdeka? Ah.. kaum milenial takkan ambil pusing. Tapi yang menonjol adalah ungkapannya soal betapa berbagai cadangan kita sebagai bangsa begitu minim saat ini. Satu yang paling ngeri: kalau Indonesia perang, cadangan peluru cuma cukup untuk 3 hari! Gawat! Harus milih dia biar Indonesia menang! Begitu yang ingin disampaikan. Lalu Indonesia HARUS bikin mobil bukan mobil-mobilan. Menang dari apa? Kekolotan? Bikin mobil? Pabrik onderdilnya memangnya sudah ada? Kalau memang niat… Indonesia lebih hebat daripada bikin mobil. Sudah bisa bikin PESAWAT! Sayangnya.., pabrik pesawat pun ditutup pemerintah. Setelah perjuangan puluhan tahun Habibie. 

Kaum milenial bukan kaum yang ngiler untuk memiliki sesuatu. Bahkan untuk punya bonding keluarga pun mikir-mikir karena doyan travelling. Apa yang dibutuhkan? Kebebasan. Tantangannya: hukum bisa dilabrak. Sementara Indonesia sebagai negara hukum rindu penegakkan hukum. Tapi soal rombak UU baru lepas dari UU Belanda bukan isu yang hot seksi. Padahal perlu dan HARUS. Masa iya sebuah negara dan bangsa yang sudah merdeka 73 tahun tapi aturannya masih aturan penjajah? Ah.. kaum milenial takkan peduli. Dicarilah isu-isu yang gampang viral. Inilah yang menjadikan Pilpres 2019 seperti total mengandalkan sosmed. Kunjungan ke 1000 titik menurut Cawapres 02 -yang seolaholah blusukan- membekalinya pengetahuan untuk tahu mau apa setelah jadi Wapres Indonesia. 

Indonesia butuh pemimpin yang benar-benar merombak sistem di usianya yang semakin tua. Benar-benar mandiri sebagai sebuah bangsa loh. Tak bisa bertumpu pada satu per orang tokoh saja sebagaimana Hatta dulu pernah berujar yang dicatatkan sejarah. Tantangannya: Capres Cawapres kali ini ingin dicatatkan sejarah sebagai apa? Hatta saja yang jasanya besar lewat berbagai tulisan sebagai alat perjuangan dianggap belum cukup. “Hanya” sebagai Bapak Koperasi. Padahal pemikiran sosial ekonominya masih relevan hingga kini… bahwa demokrasi yang kacau dapat memberi ruang pada: DIKTATOR! 

(ratih karnelia kusumawardhani)

Leave a Reply