Pendidikan: Proses Menjadi Manusia Seutuhnya

24 Februari 2023

Daripada membahas soal kurikulum pendidikan nasional yang hampir selalu berubah bila Menterinya berubah pula, sebaiknya tanyakan dulu pada diri sendiri: “Apa yang saya harapkan dari anak-anak saya?” “Masyarakat seperti apakah yang saya inginkan saat anak-anak saya dewasa kelak?” Demi menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kemudian diri kita sebagai orang tua tentu akan berefleksi, mengingat kembali kenangan masa kecil dan situasi kita terkini. Sudahkah kita merasa aman dari berbagai gangguan, apapun bentuknya?

Berita dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh anak Ditjen Pajak pada anak GP Ansor sehingga mengakibatkan korban masuk ICU (Intensive Care Unit) karena masalah pribadi membuka isu lain yang kemudian ramai di media sosial. Pertama, jarak sosial ekonomi antara pelaku dan korban mengundang empati para netizen sehingga mendesak aparat keamanan untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Sehingga ayah pelaku sebagai pejabat di Direktorat Jendral Pajak Jakarta Selatan mendapatkan sanksi berupa dicabutnya tunjangan pegawai dari Kementrian Keuangan. Kedua, persoalan pribadi yang berakhir dengan penganiayaan ini menjadi evaluasi bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat secara umum. Apakah peristiwa ini merupakan sebuah fenomena puncak gunung es dari kearoganan kaum berpunya di tengah-tengah masyarakat? Sebab pelaku diketahui senang pamer kendaraan bermotor mewah yang bisa jadi gara-gara gaya hidupnya, ia seolah boleh-boleh saja berlaku sewenang-wenang, walau dengan alasan membalas perlakuan D pada mantan pacarnya? Hal ini menjadi isu yang cukup meresahkan para orang tua yang biasa dikenal dengan istilah kekinian: bullying. Bullying sebenarnya terjadi di berbagai kalangan, dalam setiap lapisan masyarakat di belahan bumi manapun, dengan atau tanpa media sosial. Namun, hal ini menjadi permasalahan khas yang terjadi dalam masyarakat yang dianggap sudah beradab. Kalau sudah begini, apakah cukup ilmu dunia? Ilmu dunia yang dilengkapi dengan pembelajaran agama saja, rasanya belum juga cukup untuk menjamin tidak terjadinya bullying pada anak-anak. Orang tua, sekolah dan masyarakat pada umumnya hanya mengusahakan semaksimal yang mereka bisa untuk melindungi anak-anak dari bullying. Caranya melalui pendidikan, dengan harapan, manusia sebagai makhluk homo homini lupus terminimalisir. Ungkapan “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lain) dipopulerkan oleh Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris, untuk menggambarkan situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. Siapa pun bisa menjadi musuh. Manusia yang satu bisa “memakan” dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang ingin dicapai. “Bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan semua).

Namun, kita sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa harus tetap optimis, masih ada kebaikan yang tersisa hingga nanti anak-anak kita dewasa aman dari gangguan apapun bentuknya. Sebab dunia ini bukanlah sebuah tempat yang steril dari keburukan dan kejahatan, bibit positif negatif itu ada dalam diri kita sendiri. Tinggal bagaimana kita memanagenya. Bahkan agama sebagai jalan kebaikan pun dapat menjadi alasan kekejian manusia pada manusia lainnya. Naudzubillahi min dzalik… dengan sering berkumpul dengan sesama manusia lainnya, kita sebagai homo homini socio (makhluk sosial yang membutuhkan orang lain), semoga kita dapat senantiasa meminimalisir bahkan menghilangkan keburukan yang ada dalam diri sehingga tak ada hak-hak orang lain yang dilanggar.

Secara keilmuan, pembebasan manusia dari ketertindasan dibahas oleh Paulo Freire serta metodologinya untuk diterapkan di Brasilia pada tahun 1946. Freire menerapkan gaya pembelajaran dialog antara guru dan murid. Guru kemudian tidak hanya mentransfer ilmu saja, namun terlibat dalam perubahan secara sosial politik negaranya. Oleh sebab itulah, Freire ditakuti penguasa saat itu, menyebabkannya diasingkan ke Chile. Namun bagaimana dengan muslim? Tentu tidak cukup hanya melepaskan diri dari ketertindasan makhluk lainnya di dunia, namun bagaimana caranya agar visi hidup kita dipikirkan lebih jauh lagi hingga ke tempat setelah jasad kita mati, yaitu akhirat. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak sesuai Al Quran? Pertama, cintai tadabbur Al Quran agar anak cerdas akalnya dan bersih jiwanya. Kedua, taffakur alam semesta dengan melakukan rihlah (jalan-jalan menjelajahi alam bebas). Suksesnya kita sebagai orang tua, tidak selalu dilihat dari hasil akhir (anak-anak sholih sholihah), namun dari proses kita sebagai orang tua berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan yang sesuai Al Quran dan Al Hadits. Mengapa Allah SWT melihat prosesnya? Bagaimanakah penilaian Allah pada Nabi Nuh AS yang salah satu anaknya durhaka? Nabi Nuh bukanlah ayah yang gagal karena ia sudah berusaha menanamkan nilai-nilai tauhid pada anaknya, namun dibangkang. Maka dari itu, kita harus selalu ingat bahwa hidayah milik Allah SWT. Sayyidina Umar berkata, bukan anak saja yang durhaka, orang tua pun bisa durhaka bila tidak mempraktekkan adab orang tua pada anak. Dalam buku Imam al Ghazali diterangkan adab-adab orang tua pada anak.

Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut:

أداب الوالد مع أولاده: يعينهم على بره، ولا يكلفهم من البر فوق طاقتهم، ولا يلح عليهم في وقت ضجرهم ولا                                        يمنعهم من طاعة ربهم، ولا يمن عليهم بتربيتهم.

Artinya: “Adab orang tua terhadap anak, yakni: membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.”

Jika kita sebagai muslim benar-benar menjadikan Al Quran, Al Hadits dan Kitab-kitab para ulama sebagai pegangan hidup untuk diterapkan di dunia supaya masuk surga di akhirat, tentu hidup terasa lebih mudah, enjoy, rileks, santai, selow, setrong, saat seluruh dunia pamer harta kekayaan yang entah dengan cara apa diperolehnya. Sebab Allah SWT mensyaratkan anak-anak untuk diajari tauhid supaya selamat dunia akhirat. Adapun ilmu-ilmu dunia, ilmu alam dan ilmu sosial, sekedar syarat duniawi untuk bertahan hidup supaya lebih bermanfaat bagi sesama manusia. Bukan semata-mata bertujuan untuk menumpuk harta apalagi dijadikan sebagai alasan kita untuk menyekutukan Allah SWT. Itulah, kebebasan manusia sejati. Wallahu’alam. (ratih)

Sumber Rujukan:

Al Quran dan Al Hadits

Apakah yang Dimaksud dengan Homo Homini Lupus? – ASTALOG

Freire, Paulo. 1968 (first published). Pedagogy of the Oppressed (Pedagogi Kaum Tertindas). Kuala Lumpur: Biblio Press.

Lima Adab Orang Tua kepada Anak Menurut Imam al-Ghazali | NU Online

Pendidikan yang Membebaskan ala Paulo Freire – Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis (P3K) – UKSW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *