Beramal demi Capai Harapan Pada Tahun 2023

Begitu banyak harapan terucap saat tahun baru 2023 karena kalender masehi masih digunakan secara global. Namun, pernahkah kita ingat harapan-harapan jika hari di dunia ini berakhir? Sebagai muslim, tentu harapan itu bukan untuk dunia saja, melainkan untuk akhirat juga. Orang Islam pada masa lalu memahami bahwa kehormatan mereka terletak dalam mengorbankan harta dan jiwa demi menyebarkan agama Islam dan Li i’lai kalimatillah (untuk meninggikan Kalimah Allah). Bila kurang memahami pentingnya kerja ini maka dianggap sebagai kekhilafan yang besar. Sayang sekali, kita yang pada saat ini dikenal sebagai orang Islam, tetapi ketika kita melihat Islam terlantar di depan mata kita, kita tidak berusaha untuk memperbaikinya (Himpunan Fadhilah Amal. 2003)

Bagaimana cara kita memperbaikinya bila ilmu masih kurang? Ibadah masih setengah-setengah? Sungguh, bila membandingkan diri sendiri dengan amal ibadah orang-orang terdahulu, sungguh malu, belum ada apa-apanya. Saking ketatnya amalan orang-orang terdahulu, bukan cuma ibadah-ibadah wajib saja yang terjaga, bahkan ucapan pun dijaga. Dikisahkan juga bahwa Rabi’ bin Haitsam selama 20 tahun selalu menulis apa yang diucapkannya di sehelai kertas, dan pada malam harinya ia akan melakukan muhasabah, berapa banyak ucapannya yang penting, dan berapa banyak yang tidak penting. Itu baru ucapan, bagaimana dengan perbuatan lainnya? Astagfirullah. Umat terdahulu sudah terbiasa untuk menimbang amalnya sendiri sebelum hari kematian itu benar-benar datang. Mereka yakin malaikat telah mencatat amal baik dan buruk mereka. Namun tetap saja karena takut pada adanya hari pertanggungjawaban, mereka bermuhasabah atau berefleksi untuk mengkoreksi kesalahan diri sendiri lalu melakukan hal-hal yang lebih baik lagi setiap harinya.

Hal yang paling kita sepelekan adalah persoalan waktu. Waktu begitu berharga, hal ini pun diakui dunia barat, walau mereka memaknainya secara duniawi: “time is money”. Selalulah membaca Al Quran dan berdzikir kepada Allah SWT, karena dengannya namamu akan diingat di langit dan menyebabkan nur bagimu di langit. Perbanyaklah waktu untuk diam, janganlah berbicara kecuali berbicara kebaikan. Maka jika belum tahu kebaikan apa yang perlu dibicarakan, lebih baik mendatangi majelis-majelis ilmu untuk mengisi pikiran kita sehingga terbiasa untuk berbicara hal-hal baik. Masa tidak bersosialisasi? Biasa begitu alasannya sebagai ibu-ibu muda cantik nan enerjik masih senang bergaul sana sini. Iya… gaul di pengajian. Bosen? Ya udah, setelah pengajian belanja ke warung biar deket (itu mah gue aja kali wkwkwkw-maaf- red). Tapi ya mari mulai dari hal-hal sepele yang suatu saat akan terasa damai dan tenang didalam hati, sebab Sakinah adalah sesuatu yang istimewa seperti ketenangan, rahmat, dan sebagainya yang diturunkan bersama para malaikat. Beramal bukan berarti berdiam terus didalam masjid, kita beraktivitas seperti biasa sambil berdzikir dalam hati, mengingat Allah, mengingat tujuan hidup kita sejatinya, akan menimbulkan ketenangan, hilang amarah, serta emosi-emosi negatif lainnya. Bila sudah punya anak, ajari anak-anak kita sendiri baca Al Quran dan menghafalnya semampu kita. Bila kita sendiri masih terbata-bata baca Al Quran, serahkan pada ahlinya. Bila kita sudah bertahun-tahun lalu belajar, maka terus belajar biar pelajaran itu tidak lupa dan terus update dengan sesuatu yang lebih kekinian. Sebab ternyata ilmu agama pun berkembang mengikuti jaman. Dulu, belajar Al Quran mulai dengan iqro. Sekarang ada banyak metode baru cara membaca Al Quran yang lebih cepat dan mudah. Ada pendukung teknologi berupa video dan audio murrotal di berbagai sosial media.

Jangan terlalu membesar-besarkan hal yang berpotensi membuat orang biasa jadi susah menjalankan Islam. Perlu diingat dalam penyebaran agama, Rasulullah SAW mewajibkan untuk menda’wahkan ke seluruh dunia. Dalam penyebarannya yang terbaik adalah pendekatan kultural, belajar dan menyukai orang beserta budaya wilayah tersebut adalah wajib. Hal itu dibuktikan dengan kegemilangan peradaban Islam di luar Makkah Madinah. Bayangkan, bila penyebaran Islam dengan tidak menyukai budaya orang-orang dari luar Islam? Baru-baru ini kita bisa belajar dari Qatar yang berhasil menyelenggarakan Piala Dunia 2022 sambil menda’wahkan Islam yang ramah sehingga membuat warga dunia yang sebelumnya skeptis jadi berbalik kagum bahkan banyak pula yang menjadi mu’alaf..lebih lanjut, ini renungan buat saya sendiri yang sejak dulu dan hingga sekarang masih sok sering berceramah sendiri di web dan sekarang di youtube agar berhati-hati mengajak kepada kebaikan, sehingga yang keluar dari mulut atau tangan saya tidak ada fitnah dan tidak ada paksaan ??: “Banyak orang mencari kebenaran, namun jangan lupa penderitaan orang lain..! Banyak orang mencari surga, namun jangan lupa empatinya. .! Banyak orang pandai berbicara, namun jangan lupa berpikir!”????

(rkk)

Sumber Rujukan:

Ahmad, A. Abdurrahman (penerjemah). Himpunan Fadhilah Amal diterjemahkan dari Bahasa Urdu. 2003. Yogyakarta: Penerbit Ash- Shaff.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *