Developed in conjunction with Joomla extensions.

Ada jembatan terbaru di Jayapura buatan PT Pal Indonesia sepanjang 732 meter. Alhamdulillah Indonesiaku maju bila jembatan menjadi indikator kemajuan itu.

Jadi teringat berjalan di jembatan gantung di Slabing, Kutai Timur, Kaltim. Rasanya luar biasa.... ngeri-ngeri menghibur karena sambil berjalan tubuh njot-njotan.. takut jatuh ke bawah sungai yang dalamnya tak pernah diukur.. apalagi kalau banjir.. jembatan gantung terendam air dalam.. bahkan pijakan jembatan tak terlihat. Saat aku dengan antusias senang melewati jembatan gantung.., salah seorang warga desa terdengar tersinggung, "Kami malu punya jembatan begini.. kalau mau lewat saja jembatan baru yang lebih besar bisa dilewati mobil di sebelah sana.. dibuat dari pondasi, beraspal.. kokoh".. Kurang lebih begitulah penuturannya. Jembatan baru itu jadi kebanggaan warga desa, dibangun oleh salah satu perusahaan tambang setempat (infonya bukan pemerintah yang bangun).

Jembatan

Lokasi Nehas Liah Bing, Kutai Timur, Kalimantan Timur

Foto diambil Juni 2011

Aku jadi bertanya-tanya apakah masyarakat disana (juga) di Papua menjadi tidak bisa lagi melihat keindahan hal-hal sederhana di sekitar mereka sejak ada jembatan kokoh megah berada di tengah-tengah mereka? Masihkah bahagia itu sederhana? Kalau dari sudut pandang pihak pembangun jembatan, entah itu perusahaan atau pemerintah... tentu maksud adanya jembatan mempermudah akses transportasi bagi masyarakat sekitar sehingga tak lagi terisolasi dari berbagai macam kebutuhan untuk hidup layaknya manusia di berbagai belahan bumi lain.

Jembatan di Papua

Sumber Gambar jpp

Lalu berita bermunculan.. bahwa di Papua tercatat puluhan anak meninggal dunia karena kekurangan gizi. Bukankah akses ke pelosok sudah diperbaiki dengan berbagai infrastruktur yang baru dibangun? Bagaimana kalau masalahnya bukan sekedar akses? Kita pun tahu sejak jaman Soeharto.. makanan pokok se-Indonesia diseragamkan jadi nasi. Bagaimana kemudian bila sebab hal-hal lain pun diseragamkan justru jadi penyebab adanya stunting? Butuh penelitian disana yang bukan sekedar cari siapa yang salah. Tapi perubahan pola hidup apa yang menyebabkan mereka mengalami hal demikian? Apa sekedar salah Puskesmas yang tak mensosialisasikan kebiasaan preventif dalam menjaga kesehatan?

Siapa tahu keberadaan jembatan menambah persaingan dalam usaha sehingga mereka yang berada di kelas terendah semakin tersingkir? Betapapun mudah akses bila kemudian tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya?

Wallahu'alam...

Developed in conjunction with Joomla extensions.