Beberapa hari lalu, sebuah tulisan menarik ditulis oleh seorang ibu rumah tangga diterbitkan koran nasional. Tulisannya berupa tuntutan pada negara untuk lebih menghargai ibu rumah tangga dengan memberikan fasilitas ramah ibu rumah tangga, jam kerja paruh waktu yang sesuai dengan kemampuan ibu rumah tangga dan penghargaan dari negara, bukan sekedar penghargaan sosial agama kemasyarakatan pada peran ibu rumah tangga dalam masyarakat. Harapan seorang ibu rumah tangga ini dimulai dengan hasil riset Litbang Kompas bahwa telah adanya penghargaan pada ibu dari para remaja sekian persen lebih tinggi daripada pada bapak sebagai teman curhat. Meski bapak masih juga diakui sebagai pencari nafkah keluarga yang utama.

 

Baca artikel tersebut, ada perasaan lega sekaligus heran. Seolah-olah peran ibu rumah tangga dalam masyarakat yang masih menganut oposisi biner dengan adanya pembagian kerja secara seksual, hanya berperan penting saat berada didalam rumah. Pertanyaannya, apakah ibu rumah tangga dianggap sebagai pengangguran terselubung di tengah masyarakat kapitalis hedonis? Apakah uang adalah satu-satunya indikator bahwa seorang ibu atau perempuan telah sukses dalam kehidupannya? Lalu bila demikian, hasil riset itu melegakan karena apa? Bukti bahwa suksesnya tidak melulu dinilai uang?

Faktanya, saat ini, ibu-ibu rumah tangga semakin mudah mencari celah aktulisasi dirinya lewat berbagai cara, terutama dengan adanya gadget-gadget canggih. Era digital memungkinkan para ibu-ibu rumah tangga menyalurkan hobi yang kemudian menjadi profesi. Soal pendapatan, bisa saja menyamai bahkan melebihi pasangannya. Namun, apakah hal demikian yang menjadi pokok persoalan? Bukan. Pokoknya bukan soal uang. Pokoknya adalah pekerjaan perempuan dan lelaki sebagai indikator relasi keduanya belum dianggap setara sebagai sahabat. Bila kedua gender mengakui posisi masing-masing, maka “pekerjaan perempuan” pun dilakukan oleh laki-laki sebagai bagian dari kehidupannya, demikian sebaliknya. Contoh, lelaki tabu sekali memegang sapu karena menganggap menyapu adalah pekerjaan perempuan. Lalu persoalan upah. Bila kita sering beri ‘uang rokok’ untuk lelaki yang bekerja, pernahkah kita beri perempuan ‘uang pembalut’ sebagai bonus? Rokok bukan keharusan yang menjadikan identitas seorang lelaki. Sedangkan perempuan, bisa dipastikan setiap bulan mengalami menstruasi, sebagai bagian dari jati dirinya sebagai perempuan. So, upah bagi lelaki selalu lebih tinggi pada posisi yang sama hanya karena lelaki ‘merokok’, sementara itu perempuan meski ada pengeluaran yang pasti untuk beli pembalut, tidak pernah dapat bonus karena menstruasi. Masih untung kalau ‘uang rokok’ itu diberikan ke istrinya sebagai ganti ‘uang pembalut’. Kalau tidak? Ia mesti cari sendiri, dong..

Persoalan kelas, belum disinggung artikel tersebut. Bagaimana persoalan pengakuan ini bukan hanya mahal bagi perempuan, tapi juga bagi lelaki dari kelas menengah bawah. Contoh kedua, kesulitan tidak mendapatkan akses pendidikan tinggi sehingga sulit mengembangkan karier, dialami pula lelaki kelas menengah bawah.

Jadi ya, persoalan ini bukan hanya karena ibu rumah tangga dianggap sebagai pengangguran terselubung. Ini karena negara tidak mengakui keberadaan mereka.

Ibu rumah tangga juga berdasar pengalaman pribadi, merasa terasing saat kegiatan lebih banyak dihabiskan dalam lingkup kecil. Banyak hal-hal baru terjadi di luar sana. Misalnya saja, trend bepergian ke luar kota menggunakan pesawat layaknya menggunakan kendaraan pribadi. Dandanan setengah jadi, barang bawaan seperlunya. Pesawat ulang alik menjadi nyata saat ini, bukan membawa penumpangnya ke luar angkasa sih tapi membawa perempuan-perempuan karier ke luar kota, seberang pulau, beda provinsi. Tabu bepergian sendiri sudah bukan lagi masalahnya. Namun, hal yang sama langka dialami pula oleh ibu-ibu rumah tangga, kecuali mereka yang berkarier namun masih tetap fokus pada keluarga yang tak lagi disebut ibu rumah tangga.

Ya, batasan ibu rumah tangga saat ini menjadi kabur. Sebab dengan adanya era digital, para perempuan dapat menghasilkan uang dari rumah tanpa perlu mendelegasikan tugas-tugas rumah tangga pada orang lain. Nah, kategori inilah yang tidak terlihat oleh negara sebagai orang-orang potensial mengharumkan nama bangsa. Bagaimana tidak? Ia masih mampu mendidik anak-anaknya, mengurus rumah dengan menambah pendapatan bagi negara tapi keberadaannya seperti tak diakui. Maka, ibu-ibu rumah tangga sebaiknya menambah wawasan mereka sendiri soal-soal politik agar tak buta politik, bisa dapat sembako harga murah, menjadi tempat bertanya bagi anak-anaknya serta teman ngobrol asyik buat suaminya. Jadi ya, ibu rumah tangga BUKAN pengangguran. Ibu rumah tangga sudah bagus dengan banyak pengurbanannya dengan berusaha mengurus rumah tangga secara mandiri sejak subuh hari hingga malam, bahkan 24 jam sehari tanpa istirahat. Namun juga tak boleh lupa untuk peng-URBAN-an, bahwa menjadi perempuan kota itu berarti juga melek informasi, tahu apa saja yang terjadi di dunia luar rumah tangganya biar tetep up to date. Minimal baca koran sambil tetap kritis dengan berbagai pemberitaan di media. Banyak baca, pemikiran dan emosi jadi lebih seimbang.  Say yes to ngomel politik. MAKI! Mencerahkan Aktual Kritis Independen. Hidup ibu-ibu! (ratih karnelia)