Developed in conjunction with Joomla extensions.

Tepat pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember 2015, Donald Trump memberikan pernyataan yang mengundang reaksi baik dari muslim maupun non muslim: larangan muslim memasuki AS. Larangan ini kemudian dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam maupun nilai-nilai yang berlaku di Amerika. Berdasarkan BBC, tanpa menyebut nama Trump, Cook mengatakan, "Apapun yang memperkuat ISIS dan mengadu AS untuk melawan kepercayaan Muslim bukan hanya bertentangan dengan nilai-nilai kita tetapi juga bertentangan dengan keamanan nasional kita." Demikian menurut juru bicara Pentagon, Peter Cook.

 

Biasanya tema-tema kemanusiaan berbicara diskriminasi pada kaum minoritas. Kali ini, muslim sebagai mayoritas di Indonesia menjadi korban diskriminasi kepentingan politik seorang Trump. Sebagaimana tayangan berita salah satu televisi swasta, muslim Indonesia yang telah tinggal selama 17 tahun di AS menyayangkan pernyataan tersebut. Bentuk kekhawatiran yang bisa jadi menular pada mayoritas muslim di Indonesia. Isu SARA yang mungkin timbul akan memperuncing perbedaan antara muslim dengan umat beragama lainnya. Namun, pernyataan Trump sebagai reaksi atas berbagai peristiwa teroris, terang-terangan menganggap muslimlah dibalik teror Paris dan San Bernardino. Justru dari pernyataan tersebut tersirat ketakutan: kejayaan Islam akan kembali lagi. Jika muslim berada di AS, para muslim tersebut semakin getol mempromosikan ajaran Islam dengan perilaku anti kekerasan. Sehingga menimbulkan simpati karena pada faktanya agama Islam bukanlah agama kekerasan apalagi teroris. Seperti peristiwa 11 September, gerakan mualaf semakin banyak. Sebab orang barat mencari-cari tahu Islam yang kemudian terkagum-kagum dengan keagungan dan kemuliaan ajarannya.

Ironis, pernyataan Trump berbarengan dengan kampanye PBB, “Pada Hari HAM, mari kita berkomitmen kembali untuk menjamin kebebasan dan melindungi hak-hak asasi setiap manusia di dunia,” ujar Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, mengutip dari situs resmi PBB, Kamis (10/12/2015). Kebebasan berpendapat, kebebasan beribadah, kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa takut dipilih sebagai hal yang akan dikampanyekan selama setahun ke depan. Kebebasan-kebebasan tersebut dipandang relevan dan sejalan dengan dua Perjanjian Internasional yang ditandatangani dan mulai diadopsi 50 tahun lalu.

Kebebasan berpendapat. Terlepas dari kontroversialnya pernyataan Trump, tetap saja bisa dikatakan ia bebas menyatakan pendapatnya. Asalkan saja belum ada tindakan nyata dari pemerintah AS untuk mewujudkan pernyataannya ini, hal itu tak perlu menimbulkan reaksi apapun dari muslim sedunia. Siapapun boleh berpendapat. Kami pun boleh saja kan menyatakan pendapat untuk TOLAK TRUMP SEBAGAI PRESIDEN AS. Jika ia terpilih sebagai presiden di sebuah negara adidaya, maka muslim di seluruh dunia akan kehilangan hak-hak asasinya sebagai manusia. Terutama 3 hak berikut: kebebasan beribadah, kebebasan dari kemiskinan dan kebebasan dari rasa takut. Jangan sampai hanya seorang Trump menyebabkan muslim terancam kehidupannya. Siapa tahu, di masa akan datang bukan muslim saja yang menjadi sasaran pernyataan anti agama Trump. Saat ini, kebetulan teroris yang mengatasnamakan Islam atau dianggap sebagai Islam sedang menjadi kambing hitam. Kebebasan berpendapat pun sebaiknya disalurkan dengan tepat. Bebas berpendapat bukan berarti bebas membuat isu-isu yang mengarah pada fitnah bagi orang lain. Lebih baik diam daripada berbicara hal-hal yang tidak berguna.

Kebebasan beribadah. Muslim adalah sebuah identitas sekaligus komitmen untuk menjalankan sebuah jalan hidup. Maka sebagai muslim, Islam melekat dalam keseharian. Segala kegiatan mempunyai nilai ibadah. Selain ibadah-ibadah utama, hal-hal yang boleh dilakukan di luar tempat ibadah atau disebut sebagai kegiatan muamalah, memiliki makna berhubungan dengan Allah SWT sebagai Tuhan orang muslim. Maka bila ada perlakuan atau perilaku yang menghalangi seorang muslim untuk beribadah pada Tuhannya, maka ia dapat dikatakan sebagai pelanggar hak asasi manusia. Semoga saja kejadian yang menghalangi kebebasan beribadah muslim sebagai bentuk kebencian pada Islam tak terjadi lagi di masa depan. Seperti misalnya, karyawan California dikabarkan telah melakukan penghinaan yang menunjukkan tindakan anti-Islam pada Rabu (9/12/2015). Pelaku terekam di video tengah melemparkan kopi ke sekelompok pria Muslim yang tengah shalat di taman San Francisco Bay Area.

Kebebasan dari kemiskinan. Lingkungan kondusif untuk usaha bagi siapapun. Di Indonesia, ada aturan kompleks perumahan dilarang digunakan sebagai tempat usaha. Lagi-lagi, berhubungan dengan muslim serta identitas yang melekat dengannya, berdagang adalah salah satu sumber penghasilan yang dipercaya mencontoh perilaku Rasulullah sebagai teladan muslim. Maka di negara mayoritas muslim, usaha di lingkungan rumah menjadi lumrah terkecuali di lingkungan rumah-rumah ekslusif dan tertutup. Lalu bagaimana dengan kehidupan muslim di AS seandainya Trump menjadi presiden? Bisa jadi akan bertambahlah kekerasan tanpa alasan karena kebencian pada Islam. Telah terjadi, seorang muslim Amerika berdarah Bangladesh, Sarker Haque, 53 tahun, menjadi korban pemukulan seorang pria tidak dikenal. Pemukulan itu terjadi di toko milik dia, Fatima Food Mart yang terletak di 21st Avenue di Astoria, Queens, New York.

Kebebasan dari rasa takut. Pernyataan Trump dengan alasan melindungi warga AS lainnya yang bukan teroris dari rasa takut. Tapi anti muslim sama sekali bukan solusi. Sebab muslim bukan teroris dan teroris bukan muslim. Win win solution untuk permasalahan terorlah yang selayaknya diperjuangkan. Bukan serangkaian kebencian terhadap muslim. Meski saat ini, kebencian terhadap muslim telah meningkat di New York dan bagian utara AS, menyusul teror Paris pada 13 November lalu. Hal ini diperparah oleh kampanye bakal calon presiden AS Donald Trump yang ingin melarang muslim masuk ke AS. Tindakan teror anti muslim yang menimbulkan rasa takut, sebelumnya terjadi pada minggu lalu, seseorang melempar kepala babi busuk dan berdarah ke sebuah masjid di Philadelphia.

Dukung #MuslimAmericanFaces sebagai kampanye balasan pada pernyataan Trump. Kampanye ini menunjukkan bahwa muslim di Amerika nyata, memiliki sejarah dan latar belakang berbeda dari berbagai belahan dunia.

Di Indonesia, aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) seringkali berbeda pendapat dengan kalangan muslim. Kali ini, sepertinya aktivis HAM dan muslim bisa bersatu melawan serangan kampanye negatif Trump yang bisa memecah belah persatuan kesatuan bangsa negara Indonesia dengan muslim sebagai mayoritas. (ratih karnelia)

 

Developed in conjunction with Joomla extensions.