Developed in conjunction with Joomla extensions.

SUARAKAN! Demikian jargon Suara Perempuan Indonesia. Tak semua orang berani menyuarakan opininya atau berani dengan syarat pakai nama samaran. Alasannya takut terjerat UU ITE. Alasan itu cukup dapat diterima, karena UU ITE sudah menjerat ratusan korban karena status mereka di media sosial dianggap tidak ‘sreg’ di hati pejabat publik yang kena kritik. UU ITE yang dimaksud adalah Pasal 27, khususnya ayat (3). Pemerintah menunggu undangan pembahasan bersama dengan DPR RI, yang direncanakan akan dilaksanakan mulai masa sidang Januari 2016. Pasal ini memuat soal pencemaran nama baik di dunia maya. Berikut bunyi Pasal 27:

Serius? Pintar? Inklusif? Santai? Peduli? Interaktif? Suara Pembebasan Ibu rumah tangga? Apapun singkatan SPI selain Suara Perempuan Indonesia, menjadi hak anda sebagai pembaca. Di awal tahun ini, melalui Whatsapp dan BBM, SPI memulai Gerakan DO IT SPI (Suami Pria Idamanku). Terdengar main-main, melanggengkan patriarki, ataupun sebutan lain yang mencirikan bahwa SPI sesungguhnya hanya berusaha membuat perempuan statis. Tidak beranjak kemana-mana, tak menjadi apa-apa. Benarkah?

Tepat pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember 2015, Donald Trump memberikan pernyataan yang mengundang reaksi baik dari muslim maupun non muslim: larangan muslim memasuki AS. Larangan ini kemudian dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam maupun nilai-nilai yang berlaku di Amerika. Berdasarkan BBC, tanpa menyebut nama Trump, Cook mengatakan, "Apapun yang memperkuat ISIS dan mengadu AS untuk melawan kepercayaan Muslim bukan hanya bertentangan dengan nilai-nilai kita tetapi juga bertentangan dengan keamanan nasional kita." Demikian menurut juru bicara Pentagon, Peter Cook.

Akhir bulan Desember 2015 ini, ada beberapa hari peringatan nasional yang berbarengan di Indonesia. Hari Kesetiakawanan Sosial pada tanggal 20 Desember, Hari Perempuan atau Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 24 Desember dan Hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Hiburan para guru untuk menghadapi tekanan hidup: hanya profesi guru yang punya lagu khusus, Guruku Tersayang (https://www.youtube.com/watch?v=oO7zLeyyZlk). Lagu yang setiap didengarkan rasanya begitu besar jasa guru. Tanpa guru yang ajari baca tulis, ajari banyak hal, apalah artinya seseorang. Profesi lain pun takkan mungkin ada tanpa jasa guru. Ironis, kebaikan dan kesabaran guru belum mendapat tempat yang baik. Bukan hanya kesejahteraan guru yang patut mendapat perhatian (kecuali di sekolah negeri berstatus guru tetap dan sekolah swasta bergaji tinggi), tapi juga kecukupan jumlah personil guru yang mengkhawatirkan. Lalu mengapa di pelosok-pelosok negeri Apalagi di tempat terpencil, tertinggal dan terdepan masih kekurangan guru, Apakah profesi ini masih belum juga menjadi favorit?

Developed in conjunction with Joomla extensions.