Developed in conjunction with Joomla extensions.

Ucapan syukur karena saat ini masih diberi kesempatan untuk beribadah, bekerja dan amal bermanfaat bagi keluarga serta sesama makhluk Allah SWT. Sebab bisa saja setelah gerhana matahari tadi pagi, hidup kita berakhir sebab kiamat sebab tidak ada yang tidak mungkin bilamana Tuhan sudah berkehendak. The end sudah segala cita-cita. The end sudah usia. Lalu saat berada dalam dunia lain, ditanya: sudah dipergunakan untuk berbuat apakah waktu umur kita?

Berhubung saat ini peran saya yang dominan adalah Ibu Rumah Tangga, maka jawabannya:  waktu terpakai banyak untuk keluarga. Namun apakah waktu keluarga itu sudah sesuai dengan harapan agama sebagai pedoman hidup saya?

Gerhana matahari adalah peristiwa alam yang langka, muncul kembali puluhan tahun kemudian, bahkan ratusan tahun untuk lewat pada wilayah bumi yang sama. Sebagai muslim, tentu hal ini adalah sebuah bukti kebesaran Allah SWT. Gerhana matahari bagi saya pribadi adalah sebuah bentuk harapan dalam keputusasaan. Bahwa ternyata gelap 3 menit itu benar-benar terjadi  hanya 3 menit dalam seluruh waktu 24 jam. Begitupun masa-masa kegelapan hidup itu bisa saja hanya berlangsung sekejap dalam kehidupan kita. Tak pernah tahu.

Jikalau anak tertimpa musibah terkecil, misalnya balita jatuh dari tempat tidur, orang tua yang baik pastilah menyesal mengapa tak jaga si kecil dengan lebih baik. Sederet pertanyaan mengapa lainnya. Namun musibah bukan untuk disesali atau dipertanyakan. Hanya ada dua sikap: memaafkan dan melanjutkan hidup. Sebelum bisa memaafkan, takkan bisa melanjutkan hidup. Terutama berusaha memaafkan diri sendiri. Sebab banyak sekali orang tua yang begitu dalam penyesalannya, murung tak bisa let it go hingga tak bisa move on kehidupannya.

Terror. Jakarta seperti Paris. Jakarta jadi sasaran teroris. Semua orang merasa perlu berkomentar. Mulai dari komentar iseng karena kelucuan yang terjadi saat terror, polisi ganteng, atau betapa “bahagianya” jenazah si pelaku terror. Tak lama kemudian terjadi klaim ISIS bahwa merekalah pelaku baku tembak dan bom di Sarinah. Soal teroris menjadi soal mendunia karena mengecam keselamatan orang banyak. Saat ada banyak reaksi yang timbul selain ketakutan, maka hal itu menjadi menarik untuk diperbincangkan. Sesungguhnnya, masyarakat sedang melakukan terror balik pada serangan bom yang sudah terjadi. Hastag Kami Tidak Takut atau Indonesia Berani, menurut tulisan di media nasional hanyalah ungkapan kelas menengah. Sebab kelas bawah sudah biasa hidup dalam resiko. Seperti si tukang sate atau tukang kacang atau tukang manisan yang tetap berjualan walau terror sedang terjadi di depan mata. Sebab keseharian mereka sudah biasa dengan terror sesungguhnya: lapar, miskin, dan tak dihargai.

Aksi teror meresahkan, masyarakat terutama ibu-ibu menjadi lebih concern soal pendidikan anak mereka. Bagaimanakah pendidikan yang baik agar anak selamat dari pemikiran radikal? Terlebih lagi, bebas dari melakukan aksi-aksi teror yang dianggap akan membahayakan orang banyak. 

Kali ini SPI akan menyoroti tema pendidikan, secara MAKI (Mencerahkan Aktual Kritis dan Independen). Sebab salah satu cara efektif untuk mengalihkan anak dari pemikiran radikal adalah dengan pendidikan ramah secara sosial, agama, dan nasional. Menurut Amich Alhumami, Peneliti Sosial, ada  3 (tiga) isu penting berhubungan dengan pendidikan, yakni: i) peningkatan mutu, ii) pemerataan akses, dan iii) efisiensi anggaran.

Ketiganya saat ini sedikit terlupakan secara nasional karena banyak isu-isu lain yang dianggap lebih “besar” seperti kebakaran hutan, terorisme atau kasus-kasus korupsi. Padahal saat kampanye pilpres, pendidikan dan kesehatan menjadi senjata utama untuk menarik simpati massa.

Bagi orang kota seperti saya, berada dalam hutan seperti menjadi bagian dari mistisnya alam. Terutama saat malam hari. Berdiam diri di tengah hutan dalam keadaan gelap gulita sambil dengarkan suara-suara berbagai macam hewan liar menjadi pengalaman tak terlupakan, sebab tak mungkin dialami di tengah kota. Rasa takut sekaligus pasrah akan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi: serangan hewan buas, misalnya. Kebersamaan dengan PM (Pethuq Meuhuey/ Penjaga Hutan) Hutan Wehea, Kalimantan Timur (2011- 2012) dan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa tepis ketakutan itu.

Developed in conjunction with Joomla extensions.