Developed in conjunction with Joomla extensions.

Jaman Soeharto adalah masa-masa mengerikan bagi kebebasan berkespresi dan berpendapat. Tak ada yang berani bicara macam-macam soal presiden. Apalagi mem-bully kepala negara sebebas sekarang. Generasi Y dibesarkan dalam suasana angker begitu. Bahkan ngobrol santai dengan keluarga sendiri pun, gak boleh ngomongin Soeharto. Nanti ada alat pendengar rahasia di tiap rumah lalu kalau ada yang ngomongin jelek soal Soeharto langsung digerebek sama intel dimasukin penjara. Yeah.. syerem. Dikarunginlah, dibantailah.. just mention it. Sejak lengsernya Soeharto, semua seperti kebablasan. Banyak artikel yang bahas keburukan keluarga Cendana, SBY disimbolkan dengan kerbau seolah-olah tak berbuat apa-apa untuk negeri ini. Lalu saat ini yang terjadi banyaknya meme Jokowi dalam berbagai macam kasus, dianggap lelucon oleh netizen. Latest, konstetasi hot  pilkada DKI dengan cyber bullying SARA: Ahok China Kafir, Anies Arab Liberal, Agus Jawa Feodal.

Mengapa orang Indonesia sulit melepaskan diri dari korupsi? Apakah ini persoalan pendapatan yang kurang? Jika bukan, lantas apa yang membuat mereka melakukan hal demikian merugikan negara? Menjadi klise bila persoalan korupsi menjadi soal budaya dan mental. Sehingga sulit untuk mengubahnya sebab bicara soal budaya dan mental, tentulah keduanya mengakar kuat. Untuk menghilangkannya perlu dicabut dari akarnya. Mengapa negara lain minim korupsi? Apakah sedemikian sucikah orang-orang di negara lain? Bahkan negara-negara sekuler?

 

 

Merdeka! Merdeka atau Mati! Teriakan pejuang di masa penjajahan sebelum Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka. Dengan kondisi 95% rakyatnya buta huruf. Ya…kemerdekaan sudah disadari rakyat Indonesia sebagai suatu keniscayaan bahkan sebelum mereka bisa membaca. Jika di masa kejayaan Islam, dipimpin oleh pemimpin yang tak bisa baca tulis, maka Indonesia dipimpin oleh seorang terpelajar dengan rakyat yang tak bisa baca tulis. Lalu mengapakah keduanya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka bahkan sempat berjaya?

Apa arti merdeka sesungguhnya bila ternyata bisa terjadi di tengah masyarakat yang belum melek huruf, bahkan belum juga mapan secara ekonomi pada jamannya?

Beberapa hari lalu, sebuah tulisan menarik ditulis oleh seorang ibu rumah tangga diterbitkan koran nasional. Tulisannya berupa tuntutan pada negara untuk lebih menghargai ibu rumah tangga dengan memberikan fasilitas ramah ibu rumah tangga, jam kerja paruh waktu yang sesuai dengan kemampuan ibu rumah tangga dan penghargaan dari negara, bukan sekedar penghargaan sosial agama kemasyarakatan pada peran ibu rumah tangga dalam masyarakat. Harapan seorang ibu rumah tangga ini dimulai dengan hasil riset Litbang Kompas bahwa telah adanya penghargaan pada ibu dari para remaja sekian persen lebih tinggi daripada pada bapak sebagai teman curhat. Meski bapak masih juga diakui sebagai pencari nafkah keluarga yang utama.

Anak. Seperti melihat duplikat dari diri dan pasangan. Saat ada hal-hal positif, dengan bangga dan PD-nya langsung merasa, “Ya seperti itulah saya”. Namun, sebaliknya saat ada hal yang agak menyebalkan, dalam hati berpikir, “Ah ini sih sifat pasanganku”. Saat dia berprestasi, dengan yakinnya berkoar-koar, “Ya itulah hasil didikan kami sebagai orang tuanya”. Saat anak beranjak remaja, tak semanis dulu malah mulai agak melawan, langsung berpikir, “Mungkin ini pengaruh lingkungan”, karena ia sudah mulai bergaul di tengah masyarakat. Padahal saat anak berprestasi atau berubah jadi nakal, semua adalah bentuk campuran hasil dari pengaruh lingkungan terkecil maupun lingkungan masyarakat yang lebih besar.

Developed in conjunction with Joomla extensions.