Developed in conjunction with Joomla extensions.

Gara-gara dengar ceramah di Mesjid As Salam, Jakarta Selatan pada 24 Januari 2017, soal bahaya murtad.  Jadi was-was, apakah saya masih Islam ataukah jangan-jangan sudah murtad dari dulu? Sebab penampilan saja tak menjamin seseorang masih Islam atau sudah ber-Islam dengan baik dan benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Saat beliau masih hidup pun masih banyak kaum munafik yang berkata sudah Islam, tapi dari segi ucapan, perbuatan dan keyakinan belum sepenuhnya Islam.

Ternyata murtad atau keluar dari Islam dengan sendirinya itu ada tiga sebab. Sebab ucapan, perbuatan dan keyakinan.

Sepanjang tahun 2016 banyak peristiwa bersejarah yang takkan mungkin lagi terulang di tahun-tahun berikutnya. Momen-momen mengharukan yang berpengaruh pada diri kita sebagai seorang pribadi, bagian dari sebuah bangsa. Apapun momen itu, menurut saya tak bolehlah menjadikan seseorang merasa tertolak, terasing, kalah dan tak diinginkan.  Apakah hal yang menjadi lem perekat kita sebagai sebuah bangsa Indonesia? Lebih penting manakah menjadi bagian dari bangsa Indonesia atau bagian dari agama tertentu?

            Beberapa peristiwa yang dialami saya sebagai pribadi sambil mengamati berbagai peristiwa nasional, membuat sadar bahwa ada harapan pada masa depan anak-anak. Bahwa anak-anakku di masa depan takkan mungkin bisa hidup sendiri. Ia pasti bergaul dengan berbagai jenis manusia, berbeda secara kultur, sosial ekonomi. Mengingat, batasan negara, agama, apapun label yang menjadi masalah saat ini, di masa depan pasti akan semakin lenyap. Lalu apakah lem perekat yang menjadikan mereka bisa bertahan hidup nantinya? Sebagai muslim, saya percaya nilai-nilai ajaran Islam yang baik akan menjadi bekal utama bagi mereka. Nilai ajaran yang baik akan membuat mereka tak goyah walau tinggal dimanapun, bergaul dengan siapapun. Tak masalah soal berbagai perbedaan yang menjadi masalah saat ini. Tentu, nilai-nilai ajaran yang baik akan menghargai bangsa-bangsa dan agama-agama lain.

Sumber Gambar: idntimes

Mengapa harus ikut demo 212? Alasan agama bisa jadi menjadi alasan utama namun tujuan tulisan ini bukan untuk menyinggung soal SARA. Lebih pada refleksi pribadi, apakah demo 212 dengan format acara yang berbeda dari sebelumnya itu akan memberi pengaruh pada Indonesia yang kita cintai ini? Soal penegakkan hukum ya.. sehubungan dengan hal-hal lain di luar kasus Ahok, kami hanya ingin sharing betapa menegakkan hukum di Indonesia bukan perkara mudah. Soal kebiasaan, budaya dan ego sebuah bangsa. Berkaitan bentuk Fund Raising dari lembaga berhubungan dengan soal administrasi layanan publik, maka keikutsertaan demo 212 adalah juga sebagai wujud kekecewaan sekaligus harapan pada pelayanan publik yang lebih baik, terutama bagi Warga Negara Indonesia yang sedang berada di luar negeri. Selama kurang lebih 3 tahun ini, kami menggeluti advokasi bidang jasa pelayanan di kantor kepolisian. Ada lika liku suka duka dalam pengurusan dokumen, terutama Kami, sebagai Ibu mengadvokasi ini sambil tetap mengurus anak. Bagaimanapun, Kami berterima kasih untuk segala kemudahan yang diberikan serta kerjasama pegawai pelayanan masyarakat di kepolisian.

Operasi Pemberantasan Pungli dari Presiden sudah selayaknya diterapkan di semua instansi pemerintahan, juga pada instansi penegakkan hukum, terutama kepolisian. Sebab acuan perilaku hukum yang baik justru dimulai dari aparat kepolisian dan para pegawai negeri yang terlibat didalamnya. Sungguh kami merasa kecewa saat OPP mulai digalakkan, pelayanan public terutama di kepolisian malah semakin sulit, terutama bagi para WNI yang sedang berada di luar negeri. Alasannya, pimpinan bilang tidak boleh. Berarti masih ada paternalism birokrasi yang justru menyebabkan birokrasi menjadi tidak efektif. Kalau prosedur sudah benar, dokumen sudah lengkap, lantas apalagi yang mau dipermasalahkan? Jika memang ada aturan dari atasan, mohon diinfokan pada masyarakat agar paham. Tentu aturan pimpinan pelayan public ini harus sesuai dengan Undang-Undang. Jika bertentangan, maka masyarakat berhak untuk menggugat.

Sumber Gambar: AnimasiMeme

Jelang demo 4 November 2016, berbagai spekulasi bermunculan. Sepertinya Jokowi berusaha meredam isu-isu tersebut dengan bertandang ke rumah Prabowo, lalu bergaya bak koboi sambil naik kuda. Televisi swasta, entah mengapa, menyebut pertemuan Jokowi- Prabowo, 31 Oktober 2016 sebagai ‘Diplomasi Kuda’. Mestinya, ‘Diplomasi Koboi’, dalam arti perbincangan sosial politik yang disampaikan dengan gaya santai, penuh kelakar ala Jokowi pada Prabowo, mantan rivalnya di Pemilu 2014.

Kapolda Metro pun mengeluarkan Delapan Maklumat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terorisme ataupun kekerasan yang dapat menyebabkan korban jiwa.

Mengapa demo 4 November, Aksi Bela Islam II ini begitu penting dan dianggap sebagai momentum, baik bagi para elite politik, polisi maupun para tokoh keagamaan?

Developed in conjunction with Joomla extensions.