Developed in conjunction with Joomla extensions.

Gelagat gagal paham soal Pancasila dan Agama ditunjukkan Negara dan atau umat Bergama? Seingat saya, Indonesia digambarkan sebagai Negara beraneka keyakinan yang bisa hidup rukun. Cover buku pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) adalah para pemuka agama yang berbeda-beda berdiri sama rata di depan tempat peribadatan masing-masing. Pada saat itu, Pancasila dan agama tidak punya masalah tuh.. Pancasila sebagai dasar Negara menjamin para penganut agama dan kepercayaan untuk beribadat menurut keyakinan masing-masing serta hidup bersama dalam satu wadah yang sama, Indonesia.

Sumber Gambar batamtoday

 

Pernah dituduh ber-KKN ria? Pernah dicurigai sebagai bagian dari keluarga koruptor? Saya pernah. Di masa remaja pula. Rasanya? Hm… asoy-asoy asem gitulah. Entah sebab apa tuduhan itu muncul. Sebab kedua orang tua pekerjaannya bukan pengusaha? Itu. Sebab punya rumah besar, kendaraan banyak yang bagus-bagus pada masanya (cuma dua sih)? Bisa jadi itu juga. Sebab hampir seabad berurusan di lembaga yang terkenal korup? Bisa jadi. Lalu, saat saya curhat pada ortu soal tuduhan itu, jawaban mereka bikin adem. Jelasnya, harta itu bukan hasil KKN. Penjelasannya darimana biar itu pertanggungjawaban di akhirat, so pasti halal.  

Sumber Gambar primasusetya

Perdebatan layak atau tidaknya Kartini menjadi Pahlawan Nasional Indonesia ramai di sosmed, bahkan ada message whatsapp yang mempertanyakan status pahlawan itu untuk Indonesia atau Belanda? Lalu membandingkan Kartini dengan tokoh-tokoh perempuan dari daerah lain, misalnya Cut Nyak Dien (Aceh) dan Dewi Sartika (Bandung). Kedua tokoh ini biasanya menjadi pembanding Kartini malah dianggap lebih berjasa bagi perempuan Indonesia karena Cut Nyak Dien anti Belanda, sikapnya tegas. Sedangkan Dewi Sartika punya aksi nyata dengan membangun sekolah Kautamaan Istri dengan biaya pribadi, mengajar selalu on time  setiap jam 6 pagi. Ditunggu murid-muridnya.

Sumber Gambar biografiku

Pada hari buruh yang diperingati setiap 1 Mei, ada tiga tuntutan yang selalu diajukan para buruh karena belum terpenuhi. Tuntutan itu adalah hapus outsourcing dan sistem magang, jaminan sosial pekerja, dan tolak upah murah.

Mama day! May Day! Jika hari buruh menjadi penting bagi para buruh, maka apa pentingnya May Day bagi para ibu rumah tangga? Dapatkah ibu rumah tangga pun menjadi bagian dari May Day ini ataukah ibu rumah tangga tidak dapat disebut sebagai buruh? Mengingat ‘kantornya’ tidaklah semegah gedung-gedung tinggi di ibukota, tidak sepekat pabrik-pabrik, tidak juga sesempit kubik-kubik…

Sebagai ibu rumah tangga baru yang beberapa tahun belakangan tidak lagi menjadi buruh (nguli alias kerja sama orang) dengan harapan ketidakenakan yang biasanya dialami dapat diminimalkan atau hilang sama sekali. Ternyata, pengalaman pribadi hampir empat tahun belakangan ini bekerja sebagai social interest lawyer khusus pengurusan dokumen pun banyak mengalami ketidakenakan ( meskipun lebih banyak enaknya ). Kerja di perusahaan orang lain atau kerja sendiri ternyata masing-masing ada lika likunya, suka dukanya.

Sumber Gambar bantenonline

Pertama kali dengar dan mulai cari info soal senjata pemusnah massal ini saat dimintai masukan untuk naskah pidato Kapolri untuk rapat dengan Menkopolhukam. Kaget. Apa masih ada ambisi untuk membunuh ribuan orang, saat dunia begitu damai? Peperangan di beberapa belahan dunia saja, apa perlu melebar hingga Indonesia turut terlibat didalamnya? Lebih ekstrim lagi, apakah Perang Dunia Ke-3 akan segera dimulai?

Tulisan ini tentu tidak akan membahas masukan kami pada Kapolri sebab itu sifatnya rahasia. Namun, beberapa peristiwa nasional maupun internasional membuktikan bahwa senjata pemusnah massal itu memang ada dan serius dipergunakan untuk mengeksekusi sebuah bangsa ataupun menyerang orang per orang. Sebut saja Suriah. Sehingga jelas dua blok berbeda di dunia yang pro kontra dengan adanya pembantaian di Suriah. Negara-negara yang tidak setuju pembantaian itu balas serang dengan bom terukur menuju markas persenjataan Suriah. Sedangkan negara-negara yang tidak setuju (termasuk Indonesia) meminta ada kejelasan secara internasional soal serangan balik ke Suriah mengingat intervensi senjata ke negara berdaulat harus ada keputusan sidang PBB.

Sumber Gambar tribunnews

Developed in conjunction with Joomla extensions.