Developed in conjunction with Joomla extensions.

Fiuuuhhh... untung saja masih terselamatkan potongan koran yang isinya penting ini. Belum berakhir tercabik-cabik oleh para bocah di rumahku yang rapi dan bersih di malam hari saja saat mereka terlelap. Tulisan ini referensi tersingkat yang dapat kutemukan dan sempat kubaca. Soalnya ini persoalan hukum so kudu hati-hati nulisnya. 

Potongan koran ini berisi sebuah opini berjudul "Hukuman Nuril dan Konspirasi Maskulinitas" ditulis oleh Nursyahbani Katjasungkana (Koordinator Nasional APIK) di koran nasional tertanggal 22 November 2018. Kasus yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru di Mataram sebagai sebuah konspirasi memperlakukan perempuan secara tidak patut (baca: jahat nian), mempersalahkan perempuan atas haknya membela diri dari perlakuan pelecehan seksual yang dilakukan atasannya. Hukum di Indonesia belum pro perempuan padahal sudah ada Perma Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum, termasuk jika perempuan melakukan perbuatan pidana. Selain itu, ada ajakan pada para hakim agar lebih peka jender dan rekomendasi bagi Kementrian terkait. 

Itu soal hukumnya, sudah ada pengadilan (yang belum adil bagi perempuan). Bagaimana jika hal ini terulang lagi di tengah masyarakat sebelum berhadapan dengan hukum? Apakah sanksi sosial akan ditujukan pada korban atau pelaku? Bagaimana kita menyikapinya? 

Ada hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini:

Pertama, berhati-hati saat berinteraksi dengan lawan jenis. Sekalipun itu rekan kerja atau bahkan atasan di kantor. Terlalu ramah akan mengundang pelecehan seksual.

Kedua, hukum Indonesia belum bisa diandalkan membela kepentingan perempuan. Namun sebagai perempuan berdaya untuk membuat sanksi secara sosial pada pelaku. Hukum saat ini bisa saja memenjarakan BN. Coba kita lihat, apakah di luar sana atasan BN bebas dari prasangka atau sanksi sosial? Meskipun kabarnya atasan BN malah mendapat promosi jabatan, tapi omongan nyinyir atau pandangan sinis emak-emak (yang pro BN) akan tetap ditujukan pada dia. Tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi bagi umat beragama dengan spiritualitas yang baik (bukan sekedar beragama ritual) YAKIN akan adanya ganjaran perbuatan baik dan atau buruk. Dengan atau tanpa hukuman penjara.

Ketiga, bila semua usaha telah dikerahkan.. berarti tugas selanjutnya: bersabar dan bersyukur musibah yang menimpa tidak lebih buruk daripada ini. Sesuai QS. Al Anbiya 21: 35 "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami".

Keempat, didik anak laki-laki kita untuk respek dan sayang pada perempuan. Dimulai dengan sikap dia pada ibunya. 

 

NASA USA pada tanggal 27 November 2018 mendaratkan robotnya di Mars. Media nasional menyebutnya: bukti kecerdasan Amerika. Jadi kita yang belum bisa kirim roket ke Bulan atau Mars, belum bisa dikatakan cerdas. Saya tidak lanjut baca artikelnya. Sudah down duluan. Merasa tidak menjadi bagian dari sejarah karena negaraku bukan negara yang kirim roket ke Bulan atau Mars. Berita itu positif tentu saja. Dalam arti kemajuan peradaban manusia. Mars seringkali disebut-sebut sebagai calon tempat baru bagi umat manusia karena kondisi fisik dan geografisnya menyerupai bumi, ada atmosfer yang kasih harapan manusia bisa hidup di sana. Pun orang-orang yang akan tinggal disana cuma orang-orang yang mampu "membayar harganya". 

Lebih militan! Dua kata itulah yang terlinyas di kepalaku begitu denger ada gerombolan emak-emak mendukung salah satu paslon. Sebagaimana militannya emak-emak di jalanan yang kasib sen kanan belok ke kiri atau bahkan gak kasih sen tiba-tiba belok ambil tikungan tajam! Cocok kali tipikal emak-emak untuk dunia politik.. so unpredictable.. pihak lawan bakal kebingungan menentukan strategi. 

Terdengar seperti judul lagu? Memang. Lagu jadul. Jelang Pilpres 2019, bila kamu dukung salah satu capres ibarat prajurit dalam perang. Mati atau hidup, menang atau kalah.. namamu akan dikenang. Oleh keluarga, kerabat, teman yang kenal saja. Ibarat pahlawan tak berwajah: begitulah kamu dan kami (SaPI?!). Bagaimana kita sikapi penandatanganan PP No 43 tahun 2018 oleh Presiden Jokowi terkait reward (maksimal Rp 200 juta) bagi pelapor tindak pidana korupsi awal bulan ini apakah sekedar pencitraan jelang Pilpres atau peluang bagi perubahan di negeri ini?

"Mobil mewah bukan barang penting bagi republik ini saat ini" statement ini keluar dari Menkeu Indonesia, Sri Mulyani hari Rabu, 5 September 2018. Masyarakat yang memiliki mobil mewah akan dikenakan pajak 190 persen. Yup. Thanks to you guys yah.. buat para penggemar mobil mewah. Berkat anda rupiah melemah terhadap dollar. Berkat anda juga pajak barang mewah menjadi tinggi. 

Dilematis hidup di masa sekarang? Di satu sisi saat ingin menampilkan prestasi, membeli barang mewah menjadi kebutuhan (tersier). Di sisi lain hidup sederhana sesuai tuntunan Islam dengan resiko akan dipandang sebelah mata karena seolah tak giat bekerja apalagi berprestasi. Yup. Beginilah resiko kalau prestasi melulu dilihat dari kebendaan. 

Developed in conjunction with Joomla extensions.